Karakteristik Habitat dan Potensi Makanan saat Kemunculan Hiu Paus (Rhincodon typus Smith, 1828) di Perairan Teluk Cendrawasih, Papua
View/ Open
Date
2017Author
Ardania, Diena
Kamal, Mohammad Mukhlis
Wardiatno, Yusli
Metadata
Show full item recordAbstract
Hiu paus (Rhincodon typus) adalah ikan terbesar dan habitat mencangkup
perairan laut tropis dan sub tropis. Hewan ini selalu bermigrasi dan berhubungan
dengan parameter lingkungan serta makanan. Salah satu jalur migrasi hiu paus
adalah negara Indonesia khususnya Probolinggo, Gorontalo dan Teluk
Cendrawasih. Kemunculan hiu paus biasanya musiman pada bulan-bulan tertentu
tetapi hanya di Teluk Cendrawasih, kemunculan hiu paus hampir disepanjang
bulan. Tujuan penelitian ini adalah menduga karakteristik makanan dan habitat
hiu paus (Rhincodon typus) dengan mengkaji kondisi lingkungan sekitar perairan
dan komposisi makanan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua
Penelitian dilakukan selama tiga bulan (Oktober-Desember 2016) di
perairan Kwatisore dan Sowa, Teluk Cendrawasih, Papua. Data yang digunakan
adalah data primer yaitu pengamatan dan pengukuran langsung parameter air di
lapangan (suhu, salinitas, pH, kecerahan, kedalaman, dan oksigen) dan data
sekunder berupa kecepatan angin, arah angin, tinggi gelombang, arus dan klorofil
yang didapatkan dari data satelit (www.ecmwf.int dan www.marinecopernicus.eu.)
Pengamatan dilakukan oleh tiga orang yang masing-masing bertugas dokumentasi
dan pencatatan, pengukuran kualitas air dan pengoperasian plankton net dan
bongo net untuk analisa makanan.
Berdasarkan hasil korelasi spearman, terlihat bahwa parameter yang
berkorelasi dengan kemunculan hiu paus adalah arah angin, klorofil a dan arus
sebesar 0.383; 0,569 dan -0,543. Arah angin dan klorofi berkorelasi positif dengan
kumunculan hiu paus sedangkan arus berkorelasi negatif dengan kemunculan hiu
paus. Hal ini diduga berkaitan dengan sebaran distribusi makanan di kolom air.
Parameter arah angin sendiri berkorelasi negatif dengan kelimpahan copepoda di
kolom air.
Komposisi plankton dengan menggunakan alat plankton net adalah
Bacillariophyceae (55 genera) menempati posisi pertama pada kelimpahan
plankton di Teluk Cendrawasih sebesar 60%, diikuti oleh Acantharia sebesar 27%,
kemudian Dinophyceae (19 genera) sebesar 8%, Spirotrica (23 genera) sebesar
3%, Cyanophyceae (5 genera) sebesar 1% dan Crustacea sebesar 1% yang terdiri
dari 3 subcalss yaitu copepoda (8 genera), brachiopoda (1 genera) dan
malacostraca (1 genera). Pada sample bongo net, Bacillariophyceae juga
mendominasi dengan persentase sebesar 61%. Selanjutnya diikuti oleh Acantharia,
Dinophyceae, Crustaceae dan terakhir Actinommidae. Besaran persentase secara
berurutan adalah 34%, 2%, 2% dan 1%. Kelas Dinophyceae terdiri dari (19
genera), Crustacea terdiri dari 3 subcalss yaitu Copepoda (18 genera),
Malacostraca (2 genera) dan Gastropoda (2 genera).
Hasil identifikasi ditemukan sebanyak 112 ekor larva ikan yang terdiri dari
17 famili. Kelimpahan terbanyak adalah famili Engraulidae (54%), diikuti oleh
Lutjanidae (9%), kemudian Bregmacerotida (5%), Pomacentridae (4%),
Scombridae (4%), Mullidae (4%), Gobiidae (4%), Pleuronectidae (4%),
Carangidae (3%), Ophidiidae (2%), Myctophidae (2%), Sternoptychidae (2%),
Tetragonuridae (1%), Lobotidae (1%), Alepisauridae (1%), Haemulidae (1%) dan
macrouridae (1%). Berdasarkan habitat hidupnya, sebanyak 72% dari famili ikan
yang tertangkap adalah termasuk kelompok ikan pelagis, sedangkan sisanya
adalah ikan karang (16%), kelompok pelagis dan demersal (8%) dan ikan
demersal (4%). Kelimpahan, keanekaragaman, dominasi dan keseragaman
tertinggi saat pengambilan kedua siang hari di tempat kemunculan hiu paus
sedikit.
Kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih memiliki standar operasional
untuk wisatawan yang datang melihat hiu paus. Situasi yang terjadi adalah standar
operasional itu tidak dipatuhi secara menyeluruh oleh pengelola-pengelola
pariwisata sehingga masih banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan. Perlu
adanya pengawasan akan wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri dan
hal ini perlu kerja sama dengan masyarakat sekitar. Selain pengawasan untuk
wisatawan, jumlah bagan dan bentuk bagan yang beroperasi agar perlu
diperhatikan karena banyak hiu paus yang terluka akibat jaring bagan yang
dipasang oleh nelayan, bahkan ada yang sampai terjebak oleh jaring bagan yang
dipasang.
Collections
- MT - Fisheries [3210]
