Show simple item record

dc.contributor.advisorYonvitner
dc.contributor.advisorBoer, Mennofatria
dc.contributor.authorHastuti, Kholilah Sri
dc.date.accessioned2018-01-08T04:35:26Z
dc.date.available2018-01-08T04:35:26Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88589
dc.description.abstractTantangan pengelolaan sumberdaya ikan demersal masih sangat besar, hal tersebut berkaitan dengan kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan demersal belum sepenuhnya memadai. Salah satu unsur penting dalam penentuan pengelolaan sumberdaya ikan adalah rekomendasi yang didasarkan pada kondisi stok sumberdaya ikan. Pada kenyataannya informasi tentang kondisi stok ikan masih sangat terbatas. Oleh karena itu, analisis mengenai kondisi stok ikan demersal dibutuhkan sebagai bagian dari inventarisasi status stok jenis-jenis sumberdaya ikan demersal di perairan inshore Laut Jawa. Perairan tersebut merupakan daerah perairan yang mengalami tekanan penangkapan cukup tinggi, dibandingkan dengan daerah yang lebih dalam. Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Kronjo merupakan salah satu basis nelayan yang memiliki daerah operasi penangkapan di inshore Laut Jawa (Perairan Utara Jawa, Timur Lampung, Timur Sumatera Selatan, dan Selatan Bangka Belitung). Ikan kurisi merupakan salah satu jenis ikan demersal yang memiliki sebaran luas dan tertangkap sepanjang tahun. Informasi mengenai status stok ikan tersebut pada perairan inshore Laut Jawa diharapkan dapat dijadikan salah satu rekomendasi bagi pengelolaan ikan kurisi di Laut Jawa. Rekomendasi tersebut dibutuhkan sebagai science evidence sebagai dasar keputusan dalam menyusun langkah-langkah upaya pengelolaan ikan kurisi pada khususnya dan ikan demersal pada umumnya. Informasi mengenai status stok ikan kurisi yang tertangkap pada daerah inshore Laut Jawa, dapat diperoleh melalui analisis pendugaan stok berbasis data panjang dengan indikator parameter populasi dan potensi ratio pemijahan sebagai dasar penentuan titik acuan pengelolaan. Pada penelitian ikan kurisi jenis yang didaratkan di PPI Kronjo, identifikasi ukuran panjang ikan kurisi dibedakan berdasarkan lama operasi penangkapan (trip): 1-2 hari, 3-7 hari, dan 8-20 hari. Perbandigan tersebut bertujuan untuk melihat sebaran daerah penangkapan dan kemungkinan ukuran ikan kurisi yang dapat tertangkap. Proporsi hasil tangkapan ikan kurisi dari total produksi yang didaratkan di PPI Kronjo, didapatkan bahwa pada trip 1-2 hari hanya 6, trip 3-7 hari memiliki kontribusi produksi ikan kurisi 20%, dan trip 8-20 hari dengan kontribusi terbesar yaitu 73%. Hasil identifikasi terhadap ikan kurisi yang didaratkan di PPI Kronjo selama bulan Januari-Oktober 2015, didapatkan sepuluh jenis ikan kurisi antara lain: N. bathybius, N. hexodon, N. japonicus, N. marginatus, N. mesoprion, N. nematophorus, N. peronii, N. Sp. 2, N. tambuloides, N. nemurus. Analisis biologi terhadap N. japonicus diketahui bahwa rata-rata ukuran tertangkap pada trip 1-2 hari (116,50 mm), trip 3-7 hari (131,40 mm) dan trip 8-20 hari (144,40 mm). Pola pertumbuhan ikan kurisi yang di daratkan di PPI Kronjo, bersifat allometrik negatif. Pada trip 1-2 hari ukuran N. japonicus betina L∞ (167,35 mm), trip 3-7 hari (235,65 mm), dan trip 8-20 hari (231,65 mm). Nilai K tertinggi pada ikan kurisi dengan trip 1-2 hari, ikan yang berada pada perairan dengan trip 1-2 hari mempunyai potensi pertumbuhan yang lebih tinggi, diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan dan fase perkembangan pertumbuhan dan berpotensi bagi pemulihan stok. Proporsi N. japonicus betina yang tertangkap dalam keadaan immature tertinggi pada trip 1-2 hari (100%), trip 3-7 hari (84 %), dan trip 8-20 hari (73%). Ukuran panjang pertama kali tertangkap (Lc) N. japonicus betina pada trip 1-2 hari (111,42 mm), trip 3-7 hari (126,96 mm), dan trip 8-20 hari (137,59 mm). Ukuran pertama kali matang gonad (Lm) pada trip 3-7 hari memiliki panjang 141,20 mm dan untuk trip 8-20 hari dengan pajang 154,82 mm. Kondisi ukuran Lc< Lm, mengindikasikan bahwa ikan yang tertangkap lebih dominan merupakan ikan berukuran kecil yang belum matang gonad, sehingga pengelolaan dapat ditekankan pada selektivitas alat, untuk dapat menangkap ikan yang berukuran lebih besar pada tingkat kedalaman yang lebih dari >35 m. Kegiatan operasi penangkapan ikan pada ketiga jenis trip tersebut memberikan efek growth overfishing terhadap sumberdaya ikan kurisi, ikan yang tertangkap didominasi oleh ikan kurisi berukuran kecil. Tingkat eksploitasi N. japonicus betina pada masing-masing trip menunjukkan nilai E>0,5, indikator tersebut menunjukkan menunjukkan tingkat kerentanan penangkapan. Dengan indikator tersebut pengelolaan yang dapat dilaksanakan dengan pengurangan upaya penangkapan, baik pengurangan trip maupun armada penangkapan, dan jika memungkinkan dengan penutupan sementara daerah penangkapan. Nilai indeks kematangan gonad tertinggi pada bulan Juli dan Agustus, diduga bahwa puncak dari pemijahan berada di bulan tersebut. Recruitment diduga pada bulan sebelumnya yaitu antara bulan April – Juni. Potensi rasio pemijahan trip 3-7 hari dengan SPR 13% pada ukuran 143,6 mm, dan trip 8-20 hari dengan SPR 16% pada ukuran 162,68 mm, mengindikasi bahwa ikan besar masih dalam kondisi yang lebih stabil, dimana nilai SPR>10%. Rekomendasi pengelolaan dengan meningkatkan potensi pemijahan pada tingkat SPR 20% dengan menetapkan ukuran yang boleh tertangkap pada ukuran 166,40 mm.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcCoastal marine resourcesid
dc.subject.ddcDemersial fisheriesid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcTangerang-Bantenid
dc.titleStrategi Manajemen Perikanan Demersal (Nemipterus japonicus) Di Perairan Inshore Laut Jawaid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordikan kurisiid
dc.subject.keywordKronjoid
dc.subject.keywordtripid
dc.subject.keywordpengelolaanid
dc.subject.keywordrasio potensi pemijahanid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record