Show simple item record

dc.contributor.advisorFatimah, Indung Sitti
dc.contributor.advisorGunawan, Andi
dc.contributor.authorPuspita, Intan Dewi
dc.date.accessioned2017-08-01T03:17:08Z
dc.date.available2017-08-01T03:17:08Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/87560
dc.description.abstractPengembangan waterfront digunakan oleh beberapa kota untuk merencanakan kawasannya. Seperti pembangunan lainnya, proyek pengembangan waterfront muncul isu terkait kerusakan lingkungan. Banyak desain yang digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia dan menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Sehingga muncul banyak desain yang tidak berkelanjutan dan akhirnya menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Menyadari kerusakan yang terjadi di sekitar manusia, banyak desainer mengeluarkan konsep seperti desain ekologis untuk menggambarkan desain dengan alam sebagai unsur utamanya. Konsep desain berbasis ekologis merupakan sebuah model untuk keberlanjutan. Pengembangan waterfront berbasis desain ekologis dirasa tepat untuk pembangunan kota yang berkelanjutan dalam memecahkan masalah kerusakan lingkungan. Sebagai studi kasus, Cibinong Raya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai waterfront city, karena memiliki 17 situ berdasarkan SK Bupati Bogor No. 17. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dari masingmasing situ di Cibinong Raya yang akan dikembangkan sebagai waterfront, menentukan prioritas komponen dan menetapkan konsep pengembangan waterfront berbasis desain ekologis. Metode dalam penelitian ini menggunakan daftar checklist dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil dari penelitian ini terdapat 7 situ yang dapat dikembangkan sebagai waterfront, 3 dalam kondisi baik dan 4 dalam kondisi cukup baik. Alternatif prioritas dalam menentukan pengembangan waterfront berbasis desain ekologis dari prioritas paling tinggi ke rendah adalah partisipasi masyarakat (38.8 %), morfologi kota (35.6 %), dan kelembagaan (25.6 %). Prioritas komponen penyusun pengembangan waterfront berbasis desain ekologis berturut-turut adalah ekosistem perairan darat (46.6 %), desain ekologis (31.7 %), dan pengembangan waterfront (22 %). Konsep pengembangan waterfront berbasis desain ekologis dapat ditekankan pada ekosistem perairan darat dengan alternatif keputusan pada morfologi kota dan kelembagaan, desain ekologis dengan alternatif keputusan pada partisipasi masyarakat dan kelembagaan. Dan pengembangan waterfront dengan alternatif keputusan pada partisipasi masyarakat dan morfologi kota.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcLandscapeid
dc.subject.ddcOpen Spaceid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcBogor, Jawa Baratid
dc.titleKajian Konsep Pengembangan Waterfront berbasis Desain Ekologis di Cibinong Rayaid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordAnalytical Hierarchy Processid
dc.subject.keyworddesain ekologisid
dc.subject.keywordekosistem perairan daratid
dc.subject.keywordlembar checklistid
dc.subject.keywordpengembangan waterfrontid
dc.subject.keywordsituid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record