Show simple item record

dc.contributor.advisorYulianda, Fredinan
dc.contributor.advisorSetyobudiandi, Isdradjad
dc.contributor.authorFahruddin, Muhammad
dc.date.accessioned2017-05-18T07:20:27Z
dc.date.available2017-05-18T07:20:27Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85324
dc.description.abstractEkosistem lamun merupakan produsen primer dalam rantai makanan di perairan laut dengan produktivitas primer berkisar antara 900-4650 gC/m2/tahun. Pertumbuhan, morfologi, kelimpahan dan produktivitas primer lamun pada suatu perairan umumnya ditentukan oleh ketersediaan zat hara fosfat, nitrat dan ammonium. Fungsi ekosistem lamun sebenarnya melengkapi ekosistem mangrove dan terumbu karang. Laju produksi ekosistem lamun diartikan sebagai pertambahan biomassa lamun selang waktu tertentu dengan laju produksi (produktivitas) yang sering dinyatakan dengan satuan berat kering per m² per hari (gbk/m²/hari). Bila dikonversi ke produksi karbon maka produksi biomassa lamun berkisar antara 500- 1000 gC/m²/tahun bahkan dapat lebih dua kali lipat. Produksi yang didapatkan bisa lebih kecil dari produksi yang sebenarnya karena tidak memperhitungkan kehilangan serasah dan pengaruh grazing oleh hewan-hewan herbivora yang memanfaatkan lamun sebagai makanan. Lamun juga merupakan pondasi bagi sebuah ekosistem dan sebagai produsen primer, dimana habitatnya seringkali sebagai wadah yang mendukung kehidupan ikan-ikan dan krustasea muda. Kegiatan pembangunan di wilayah pesisir Desa Bahoi diperkirakan mempengaruhi ekosistem lamun, seperti kegiatan pembangunan daerah pantai, lalu lintas kapal/perahu, pembuatan kapal, pencemaran minyak, pembuangan sampah, aliran drainase, MCK (mandi, cuci, kakus) dan aktivitas penangkapan langsung di daerah lamun seperti menjaring dan menombak akan berdampaka pada lamun. Kegiatan seperti ini secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan lamun, sehingga pertumbuhan, produksi ataupun biomassanya akan mengalami penyusutan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa struktur komunitas dan produktifitas lamun serta menganalisis proses gangguan produktifitas lamun dan strategi pengelolaannya. Metode yang digunakan adalah dengan pengambilan contoh purpose sampling berdasarkan pendekatan habitat mangrove, lamun, dan habitat terumbu karang. Stasiun 1 (dekat mangrove), stasiun 2 (lamun), dan stasiun 3 (dekat terumbu karang) yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh sembilan kuadran yang berukuran 150x50 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan enam jenis lamun yaitu E. acoroides, T. hemprichii, C. rotundata, S. isoetifolium, H. ovalis dan H. uninervis. Struktur komunitas lamun pada stasiun dekat mangrove memiliki nilai tertinggi dan produktifitas dalam hal ini biomassa tertinggi terdapat pada stasiun 2 habitat lamun dengan jenis yang berukuran besar seperti E. acoroides dan T. hemprichii memiliki nilai tertinggi pada seluruh parameter pengamatan. Hal ini karena jenis lamun ini memiliki penyebaran yang luas dan secara morfologi memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan jenis lainnya. Strategi pengelolaan dari hasil analisis SWOT adalah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan pengelolaan lamun (ekowisata dan kebun bibit) dan mengontrol pemanfaatan lamun berbasis masyarakat akan memberikan manfaat dalam meningkatkan pemahaman dan pendapatan masyarakat serta mengurangi resiko kerusakan ekosistem lamun dan ekosistem pesisir lainnya.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcFisheriesid
dc.subject.ddcConservationid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcMenado, Sulawesi Utaraid
dc.titleKajian Ekologi Ekosistem Lamun sebagai Dasar Penyusunan Strategi Pengelolaan Pesisir di Desa Bahoi Sulawesi Utaraid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordekosistem lamunid
dc.subject.keywordstrategi pengelolaan lamunid
dc.subject.keywordBahoi, Sulawesi Utara.id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record