Show simple item record

dc.contributor.advisorArkeman, Yandra
dc.contributor.advisorDahrulsyah
dc.contributor.advisorMarimin
dc.contributor.authorSriwana, Iphov Kumala
dc.date.accessioned2017-03-02T05:01:07Z
dc.date.available2017-03-02T05:01:07Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83510
dc.description.abstractIndonesia merupakan produsen kakao ke-3 terbesar di dunia tetapi tidak diimbangi dengan kesejahteraan petani karena rendahnya produktivitas kakao sehingga banyak petani yang melakukan konversi lahan. Tahun 2014, Indonesia diperkirakan mengimpor sekitar 100 000 ton kakao karena produksi terus menyusut dan konversi lahan terus terjadi setiap tahun. Dari luas tanaman kakao 1.5 juta ha kini menyusut menjadi sekitar 1.3 juta Ha. Hal ini menunjukkan adanya permasalahan pada keberlanjutan rantai pasok agroindustri kakao. Tujuan penelitian yaitu untuk merancang model keberlanjutan rantai pasok agroindustri kakao berdasarkan dimensi sosial, dimensi lingkungan dan dimensi ekonomi. Pada dimensi sosial, diselesaikan dengan menggunakan Soft System Based Multimethodology (SSBM) yaitu melakukan perbandingan model nyata dengan model usulan di langkah 5 Soft systems methodology (SSM) yang digabung dengan hasil analisis Interpretative Structural Modelling (ISM). Pada dimensi lingkungan, diselesaikan dengan menggunakan Fuzzy AHP dan severity index. Pada dimensi ekonomi, diselesaikan dengan menggunakan Fuzzy AHP dan Agent Based Model (ABM). Penelitian ini diawali dengan mengukur indeks keberlanjutan dan penentuan indikator kunci dari setiap dimensi menggunakan MDS dengan teknik Rap-cacao yang merupakan pengembangan dari Rapfish dengan merubah atribut dari masing masing dimensi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa indeks keberlanjutan mutidimensi (dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan) adalah sebesar 29.33% (kurang berkelanjutan). Indeks keberlanjutan yang paling rendah adalah pada dimensi ekonomi sebesar 20.75% (tidak berkelanjutan) sehingga harus terwujud adanya keseimbangan distribusi keuntungan yang merupakan indikator kunci dari keberlanjutan pada dimensi ekonomi. Indeks tertinggi adalah pada dimensi lingkungan sebesar 43.41% (kurang berkelanjutan). Hasil analisis keberlanjutan mempunyai tingkat kepercayaan tinggi karena masing masing dimensi mempunyai selisih antara MDS dengan Monte Carlo dibawah 5% atau nilai rata-rata sebesar 0.39%. Indeks keberlanjutan untuk semua dimensi bernilai dibawah 50%, sehingga harus dilakukan perbaikan pada semua dimensi, terutama pada indikator kunci. Perbaikan pada setiap dimensi harus dilakukan secara terintegrasi. Indeks keberlanjutan dimensi sosial sebesar 40.99% (kurang berkelanjutan) dan indikator kunci yang mempengaruhi keberlanjutan dari dimensi sosial adalah kelembagaan. Rancangan kelembagaan yang diusulkan merupakan hasil analisis Soft Systems Based Multimethodology (SSBM) yang merupakan kebaruan dalam metodologi. Hasil yang diperoleh yaitu usulan perubahan fungsi kelembagaan gapoktan yang semula hanya melakukan fungsi pemasaran, kemudian melakukan 3 unit usaha lainnya yaitu unit usaha simpan pinjam untuk sarana dan prasarana produksi bagi petani, unit usaha simpan pinjam dan teknologi pasca panen bagi kelompok tani, unit usaha tani untuk melakukan bimbingan teknis kepada petani dan memberikan lahan percontohan yang dapat diikuti oleh petani dan unit usaha pemasaran yang berhubungan dengan industri Grinding. Kelembagaan yang diusulkan, memerlukan aliansi keahlian yang berfungsi untuk memberikan masukan dan transfer pengetahuan kepada petani. Pendanaan Aliansi keahlian diharapkan berasal dari Industri Grinding, sehingga terjalin kerjasama yang kuat antara Industri Grinding dengan petani dan dapat memfasilitasi petani dalam perolehan ilmu pengetahuan untuk pengelolaan perkebunannya. Indeks keberlanjutan dimensi lingkungan sebesar 43.41% (kurang berkelanjutan) dan indikator kunci yang harus diperhatikan adalah produk sampingan kakao. Kakao menghasilkan produk sampingan yang cukup banyak, yaitu produk sampingan yang berasal dari kulit buah, pulpa biji dan daun. Produk sampingan tersebut apabila tidak diolah lebih lanjut dapat menimbulkan berbagai dampak yang mempengaruhi keberlanjutan rantai pasok agroindustri kakao, diantaranya yaitu dampak terhadap harga, mutu, kuantitas, finansial, lingkungan, pasar, transportasi dan penyimpanan. Untuk mengurangi dampak tersebut maka disusun perancangan strategi untuk mengatasi dampak produk sampingan. Pemilihan strategi dilakukan dengan menggunakan Fuzzy AHP. Strategi yang terpilih adalah Good Agricultural Practices (GAP). Petani harus diberi pengetahuan mengenai GAP dan GAP harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Implementasi GAP dapat meningkatkan kemampuan petani sehingga meningkatkan mutu dan produktivitas. Indeks keberlanjutan dimensi ekonomi adalah sebesar 20.75 % (tidak berkelanjutan) dan elemen kritisnya adalah keseimbangan distribusi keuntungan. Keuntungan yang diterima oleh para pelaku rantai pasok agroindustri kakao saat ini belum seimbang. Hal ini terjadi karena adanya oligopsoni dalam pasar kakao nasional, dimana industri pengolah biji kakao menjadi penentu harga di tingkat petani, sehingga menyebabkan tidak adanya motivasi petani untuk meningkatkan produktivitas kakao maupun mutunya. Untuk memperbaiki hal tersebut, dirancang model keseimbangan distribusi keuntungan dengan menggunakan simulasi Agent Based Model dan Fuzzy AHP. Berdasarkan hasil simulasi diketahui bahwa keuntungan yang seimbang diperoleh pada saat petani memperoleh keuntungan sebesar 28 % atau apabila keuntungan petani ditingkatkan sebesar 15 % dari total keuntungan saat ini. Besarnya informasi keuntungan setiap agent merupakan salah satu kebaruan yang diperoleh pada pemenilitian ini. Besarnya keuntungan setiap agent bervariasi tergantung kepada besarnya bobot risiko dan biaya. Hasil simulasi juga menunjukkan bahwa pada saat kapasitas yang tidak terlalu rendah (lebih dari 20 000 kg), rantai yang sebaiknya dipilih oleh petani adalah rantai 4 (Petani-UPH-Gapoktan-Grinding-Hilir). Pemilihan rantai ini pun memberikan pengertian bahwa petani sebaiknya hanya fokus pada pengolahan perkebunan, sementara untuk aktivitas pasca panen, sebaiknya dilakukan oleh kelompok tani (UPH) karena UPH sudah memiliki peralatan yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas pasca panen yang mampu menghasilkan mutu yang lebih baik. Terintegrasinya perbaikan keberlanjutan rantai pasok agroindustri kakao dapat meningkatkan kesejahteraan petani sehingga memotivasi petani untuk mengolah kebunnya dengan baik dan dapat menghindari terjadinya konversi lahan serta meningkatkan keberlanjutan rantai pasok agroindustri kakao.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcManagementid
dc.subject.ddcDistribuionid
dc.titleRancang Bangun Model Rantai Pasok Agroindustri Kakao Berkelanjutan Dengan Menggunakan Sistem Cerdasid
dc.typeDissertationid
dc.subject.keywordMulti Dimensional Scalingid
dc.subject.keywordInterpretative Structural Modellingid
dc.subject.keywordSoft systems based multimethodologyid
dc.subject.keywordAgent Based Modelid
dc.subject.keywordFuzzy AHPid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record