| dc.description.abstract | Komunikasi memiliki peran penting dalam menciptakan sebuah gerakan
sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penggunaan komunikasi
dalam mewujudkan gerakan sosial penolakan kebijakan relokasi dalam penetapan
Kawasan Rawan Bencana III (KRB III) Gunung Merapi di Desa Glagaharjo.
Penelitian juga menjelaskan bagaimana komunikasi risiko yang dilakukan oleh
pemerintah dan masyarakat di KRB III Desa Glagaharjo dalam menyikapi
ancaman risiko bencana Gunung Merapi. Komunikasi risiko adalah kondisi fisik
dan mental yang mendasari pengelolaan informasi dalam menghadapi risiko
bencana. Analisis framing digunakan untuk mengetahui cara berpikir aktor dalam
mewujudkan gerakan sosial penolakan kebijakan relokasi. Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan sumbangan pada pengembangan strategi
komunikasi risiko yang tepat dalam pengelolaan bencana, baik bagi pemerintah
maupun masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dan diperkuat
dengan data kuantitatif yang diambil secara purposive.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan sosial dipengaruhi oleh
kurangnya komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Sosialisasi sebagai
bentuk komunikasi risiko kebijakan tidak dilakukan dengan efektif sehingga pesan
risiko yang disampaikan mengenai isi kebijakan ditafsirkan berbeda oleh
masyarakat. Penelitian juga menyatakan bahwa ada 4 (empat) elemen framing
yang melatarbelakangi gerakan sosial penolakan relokasi. Pertama, masalah
kebijakan relokasi didefinisikan sebagai pengabaian hak masyarakat untuk
bertempat tinggal. Kedua, penyebab masalahnya adalah ketidakadilan pemerintah.
Ketiga, alasan moral yang mendasari keputusan masyarakat adalah tentang
kesejahteraan dan mempertahankan tanah kelahiran. Elemen framing keempat
yaitu rekomendasi tindakan, masyarakat memutuskan tetap tinggal di dusunnya
dengan meningkatkan kesiapsiagaan dan kemandirian ekonomi. Jadi berdasarkan
analisis framing yang dilakukan, masyarakat akan tetap bersikap menolak
kebijakan relokasi, kecuali pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab
bersedia mempertimbangkan kembali kebijakan dengan membuka dialog dengan
masyarakat untuk menemukan solusi penanggulangan bencana yang lain.
Keputusan untuk bertahan tinggal di Kawasan Rawan Bencana semakin
menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya komunikasi risiko dalam
menghadapi ancaman bencana. Saat ini masyarakat KRB III Desa Glagaharjo
mengelola risiko bencana dan mengembangkan komunikasi risiko secara
swadaya. Masyarakat memilih tindakan tersebut sebagai akibat ketidakpercayaan
terhadap kinerja dan kredibilitas pemerintah dalam upaya penanggulangan risiko
bencana. | id |