Show simple item record

dc.contributor.advisorKurniawati, Ani
dc.contributor.advisorMelati, Maya
dc.contributor.advisorFaridah, Didah Nur
dc.contributor.authorDelyani, Rista
dc.date.accessioned2017-01-30T07:11:36Z
dc.date.available2017-01-30T07:11:36Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/82623
dc.description.abstractKumis kucing (Orthosiphon aristatus) adalah salah satu anggota dari famili Lamiaceae yang banyak digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, salah satunya adalah diabetes. Sayangnya, pengembangan kumis kucing sebagai tanaman obat terkendala pada kuantitas dan kualitas fisik simplisia hingga kualitas dan kuantitas bioaktif yang dihasilkan. Hal ini antara lain dapat disebabkan budidaya kumis kucing belum memiliki SOP yang baku untuk menghasilkan simplisia dengan mutu baik dan kandungan bioaktif yang tinggi. Informasi teknik budidaya, seperti pemupukan dan pemanenan yang tepat diperlukan untuk memperoleh produksi biomassa yang tinggi sekaligus memiliki khasiat obat yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan simplisia daun, kadar sinensetin serta aktivitas inhibisi enzim α-glukosidase yang tinggi melalui pemupukan dan pengaturan panen. Percobaan dilaksanakan pada bulan Oktober 2014-April 2015 (curah hujan >200mm per bulan). Penanaman dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB pada awal November 2014. Rancangan petak-petak terbagi (split-split plot) dengan tiga ulangan digunakan dalam percobaan ini. Perlakuan yang diberikan adalah cara pemberian pupuk (sekaligus dan bertahap) sebagai petak utama, rotasi panen (3, 5 dan 7 minggu) sebagai anak petak dan ketinggian pangkas (10, 20 dan 30 dari permukaan tanah) sebagai anak anak petak, sehingga total satuan percobaan adalah sebanyak 54 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang secara sekaligus sebanyak 10 ton ha-1 di awal tanam memberikan produksi total simplisia daun 14% lebih tinggi daripada pemberian pupuk secara bertahap. Produksi simplisia daun lebih tinggi pada rotasi panen tiga (2.95 ton ha-1) dan lima minggu (2.98 ton ha-1), namun kadar sinensetin lebih tinggi pada rotasi panen tujuh minggu (0.08%). Ketinggian pangkas 30 cm menghasilkan simplisia daun, kadar sinensetin dan aktivitas inhibisi enzim α-glukosidase yang paling tinggi. Tidak terdapat pengaruh interaksi antar perlakuan terhadap produksi total simplisia daun, kadar sinensetin dan aktivitas inhibisi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcAgronomyid
dc.subject.ddcMedicinal plantid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcBogor-JABARid
dc.titleBiomassa, Kadar Sinensetin Dan Aktivitas Inhibisi Α-Glukosidase Kumis Kucing (Orthosiphon Aristatus) Dengan Perbedaan Cara Pemupukan Dan Panenid
dc.typeThesisid
dc.subject.keyworddiabetesid
dc.subject.keywordinterval panenid
dc.subject.keywordketinggian pangkasid
dc.subject.keywordpemupukan bertahapid
dc.subject.keywordpupuk organikid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record