Show simple item record

dc.contributor.advisorNuryati, Sri
dc.contributor.advisorAlimuddin
dc.contributor.advisorMurtini, Sri
dc.contributor.authorChairunnisa, Sekar Ayu
dc.date.accessioned2016-12-28T03:14:17Z
dc.date.available2016-12-28T03:14:17Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/82329
dc.description.abstractKoi herpesvirus (KHV) merupakan salah satu patogen penting bagi ikan mas dan ikan koi. Penyakit tersebut sebelumnya dikenal sebagai carp intersititial nephritis and gill necrosis (CNGV) di Israel, dan kemudian menyebar luas ke berbagai belahan dunia. Penyakit ini bersifat sangat virulen dan telah menyebabkan kerugian ekonomi yang besar dalam industri budidaya baik pada budidaya ikan koi maupun ikan mas sehingga memberikan dampak sosial yang signifikan di beberapa negara di seluruh dunia. KHV di Indonesia pertama kali terjadi pada awal Maret 2002 kemudian dengan cepat menyebar dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar pada industri budidaya. Beberapa upaya penanggulangan penyakit KHV terus dilakukan, salah satunya adalah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan menggunakan vaksin DNA. Pengembangan aplikasi vaksin DNA terhadap infeksi KHV masih terus dilakukan, salah satunya dengan menggunakan vaksin DNA KHV GP-11. GP-11 merupakan ORF 81 virus KHV yang memiliki sifat imunogenik. Vaksin DNA KHV GP-11 merupakan vaksin DNA penyandi glikoprotein dari KHV yang diapit oleh promoter berupa keratin ikan flounder Jepang. Oleh karena itu penelitian mengenai aplikasi vaksin DNA KHV GP-11 perlu dilakukan untuk menguji efikasi dari vaksin tersebut sebagai upaya dalam meningkatkan kelangsungan hidup ikan koi (C. carpio haematopterus) akibat infeksi koi herpesvirus (KHV). Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan koi (rata-rata bobot tubuh: ± 18 - 20 gram) berumur 3 bulan yang diperoleh dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat. Konfirmasi status kesehatan ikan uji dilakukan selama masa aklimatisasi dan konfirmasi ikan terbebas dari KHV dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Perlakuan dosis yang digunakan adalah GP-11 2,5 μg/100 μl (A), GP-11 7,5 μg/100 μl (B), GP-11 12,5 μg/100 μl (C), dan GP-25 12,5 μg/100 μl (D). Perlakuan kontrol yang digunakan yaitu kontrol negatif (K-) dan kontrol positif (K+). Parameter uji meliputi kelangsungan hidup (KH), kelangsungan hidup relatif (RPS), gejala klinis, aktivitas fagositik (AF), total sel darah putih (SDP), diferensial leukosit (DL), dan titer antibodi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelangsungan hidup ikan yang divaksinasi dan diuji tantang dengan KHV pada perlakuan B (93,33%), D (86,67%), dan C (83,33%) menghasilkan nilai yang lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan A (50,00%) dan ikan tanpa vaksinasi K+ (33,33 %). Hal ini didukung dengan tingginya nilai RPS yang diperoleh pada perlakuan B, C dan D. Nilai AF teramati mengalami peningkatan pada semua perlakuan sejak awal pengamatan hingga 28 hari pascavaksinasi (hpv) dan mengalami penurunan sejak 35 hpv hingga 7 hari pascainfeksi (56 hpv). Secara umum nilai AF perlakuan vaksinasi lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Jumlah SDP teramati mengalami peningkatan pada semua perlakuan mulai awal pengamatan hingga 42 hpv dan mengalami penurunan pada semua perlakuan pada 7 hari pascainfeksi (56 hpv). Secara umum jumlah SDP perlakuan vaksinasi lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Titer antibodi pascavaksinasi pada penelitian ini secara umum teramati berfluktuasi baik pada perlakuan tanpa uji tantang maupun perlakuan dengan uji tantang. Titer antibodi pada kedua perlakuan menunjukkan nilai yang positif terbentuk pada 7 - 14 hpv (ditandai dengan persinggungan nilai absorbansi CV berkisar 0,14 nm). Nilai absorbansi pada 21 - 28 hpv teramati menurun dan menunjukkan nilai positif kembali pada 35 dan 42 hpv. Respons pembentukan antibodi pada pengamatan 56 - 77 hpv menunjukkan hasil yang berbeda pada kedua perlakuan, di mana perlakuan tanpa uji tantang pada 56 hpv (7 hpi) teramati terus meningkat sedangkan pada perlakuan dengan uji tantang teramati menurun pada 56 hpv (7 hpi). Secara umum aplikasi vaksin DNA KHV GP-11 dengan dosis 7,5 μg/100 μl dan 12,5 μg/100 μl mampu meningkatkan kelangsungan hidup ikan, sehingga vaksin ini layak untuk diaplikasikan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultral University (IPB)id
dc.subject.ddcAquacultureid
dc.subject.ddcCARPid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcSukabumi-Jawa Baratid
dc.titleEfikasi Vaksin Dna Khv Gp-11 Pada Ikan Koi (Cyprinus Carpio Haematopterus) Skala Laboratoriumid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordCyprinus carpio haematopterusid
dc.subject.keywordinjeksiid
dc.subject.keywordkoi herpesvirusid
dc.subject.keywordvaksin DNAid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record