View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Human Ecology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Human Ecology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Pengaruh Minuman Sari Tempe Terhadap Respon Glukosa Darah Post-Prandial Pada Laki-Laki Dewasa

      Thumbnail
      View/Open
      Fulltext (25.31Mb)
      Date
      2016
      Author
      Purwaningtyas, Desiani Rizki
      Damayanthi, Evy
      Riyadi, Hadi
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Besaran masalah Diabetes Mellitus (DM) di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Padahal DM dapat menurunkan kualitas hidup dan usia harapan hidup serta meningkatkan biaya perawatan kesehatan. Pengontrolan kadar glukosa darah post-prandial penting dilakukan untuk pencegahan DM karena hiperglikemia post-prandial merupakan kelainan awal metabolisme glukosa sebelum menjadi DM. Tempe mengandung beberapa komponen seperti protein dengan BCAA (Branched Chain Amino Acid) cukup tinggi, isoflavon khususnya genistein, dan serat pangan yang berpotensi untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Sari tempe dapat dijadikan alternatif untuk mengonsumsi tempe dengan lebih praktis. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian minuman sari tempe terhadap respon glukosa darah post-prandial pada laki-laki dewasa. Adapun tujuan khususnya adalah: 1) mengidentifikasi karakteristik subjek yang meliputi umur, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan IMT; 2) mengidentifikasi asupan dan tingkat kecukupan gizi makro (energi, protein, lemak, dan karbohidrat), kebiasaan konsumsi isoflavon, serta aktivitas fisik subjek; 3) menganalisis pengaruh waktu pengukuran terhadap kadar glukosa darah post-prandial pada masing-masing perlakuan; 4) menganalisis pengaruh sari tempe dan susu sapi terhadap kadar glukosa darah post-prandial, luas AUC (Area Under Curve), dan skor glukosa; dan 5) menganalisis hubungan antara tingkat kecukupan gizi makro, asupan isoflavon (genistein dan total isoflavon), dan tingkat aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah dua jam post-prandial. Desain penelitian ini adalah cross-over controlled trial yang terdiri atas tiga tahap intervensi yang dilakukan dengan metode tes toleransi glukosa oral (TTGO). Ada tiga perlakuan: kontrol (300 ml air putih + 75 g glukosa murni), susu sapi (300 ml susu sapi + 75 g glukosa murni), dan sari tempe (300 ml sari tempe + 75 g glukosa murni). Subjek berjumlah 11 laki-laki dewasa berusia 21-29 tahun yang merupakan mahasiswa IPB dan diambil menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusinya adalah tidak memiliki penyakit serius (DM, kanker, penyakit kardiovaskular, penyakit hati, dan penyakit ginjal), tidak ada riwayat keluarga penyandang DM, IMT normal (18.5-24.9 kg/m2), tidak memiliki intoleransi laktosa dan alergi protein susu dan protein kedelai, tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol, tidak mengonsumsi obat-obatan atau suplemen, serta bersedia menandatangani informed consent. Data yang dikumpulkan adalah karakteristik subjek, tingkat kecukupan gizi makro dengan kuesioner food recall 2x24 jam, kebiasaan konsumsi isoflavon dengan kuesioner frekuensi konsumsi pangan semi-kuantitatif, tingkat aktivitas fisik berdasarkan recall 2x24 jam, dan kadar glukosa darah dengan pengukuran menggunakan finger-prick capillary blood samples method. Luas AUC (area under curve) dan skor glukosa dihitung dengan memanfaatkan data kadar glukosa darah menggunakan metode trapezoid. Analisis statistik yang dilakukan menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Analisis deskriptif menggambarkan rata- rata, SEM (Standard Error of Mean), nilai minimum, dan nilai maksimum. Repeated ANOVA dan uji lanjut Tukey digunakan untuk menganalisis pengaruh waktu pengukuran terhadap kadar glukosa darah post-prandial. Sementara itu, pengaruh perlakuan terhadap kadar glukosa darah post-prandial, luas AUC, dan skor glukosa dianalisis berdasarkan hasil dari oneway ANOVAdan uji lanjut Tukey. Analisis korelasi Pearson digunakan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecukupan gizi makro, asupan isoflavon, dan tingkat aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah dua jam post-prandial. Penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan IMT subjek secara berturut-turut adalah 22.8 ± 0.6 tahun; 16 ± 0.3 tahun; Rp 1,059,091 ± 93,375.6; dan 22.4 ± 0.6 kg/m2. Rata-rata tingkat kecukupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat subjek secara berturut-turut adalah 84.2 ± 2.6; 104.6 ± 5.7; 92.7 ± 2.5; dan 75.5 ± 3.0 persen. Sebagian besar subjek mengalami defisit energi ringan (45.5% subjek) dan defisit karbohidrat tingkat sedang (54.5% subjek). Namun, lebih dari separuh subjek (54.5%) memiliki tingkat kecukupan lemak dan protein normal atau cukup. Rata-rata asupan genistein dan total isoflavon subjek per hari secara berturut-turut adalah 21.8 ± 2.7 mg dan 39.6 ± 5.1 mg. Pangan mengandung isoflavon yang paling sering dikonsumsi subjek adalah tahu dan tempe dengan rata-rata frekuensi 6.4 ± 1.8 dan 6.0 ± 0.9 per minggu. Sebagian besar subjek (63.6%) memiliki tingkat aktivitas fisik dalam kategori ringan dengan rata-rata nilai PAL 1.42 ± 0.02. Semua perlakuan menghasilkan pola kurva glukosa darah yang sama hanya berbeda ketinggian antar perlakuan. Kurva mulai meningkat sejak awal dan mencapai puncaknya pada menit ke-30 lalu terus menurun hingga menit ke-120. Pada semua perlakuan, rata-rata kadar glukosa darah puasa (menit ke-0) signifikan lebih rendah daripada kadar glukosa darah post-prandial pada setiap waktu pengukuran. Rata-rata kadar glukosa darah perlakuan kontrol pada menit ke-30 signifikan lebih tinggi dibandingkan menit ke-15. Setelah menit ke-30, rata-rata kadar glukosa darah tidak berbeda nyata menit ke-15 dan 30. Kadar glukosa darah post-prandial perlakuan susu sapi antar waktu pengukuran tidak berbeda nyata. Kadar glukosa darah puncak perlakuan sari tempe signifikan lebih tinggi dibandingkan pada menit ke-15, 60, 90, dan 120. Rata-rata kadar glukosa darah perlakuan sari tempe signifikan lebih rendah dibandingkan kontrol pada menit ke-60, 90, dan 120 dan dibandingkan susu sapi pada menit ke-90 dan 120. Luas AUC perlakuan sari tempe signifikan lebih rendah dibandingkan kontrol pada 0-90 dan 0-120 menit. Skor glukosa perlakuan sari tempe signifikan lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan susu sapi. Rata-rata kadar glukosa darah dua jam post-prandial subjek setelah mengkonsumsi larutan 75 g glukosa murni adalah 114.1 ± 4.9 mg/dl. Tingkat kecukupan energi dan karbohidrat signifikan berhubungan positif dengan kadar glukosa darah dua jam post-prandial. Tingkat aktivitas fisik signifikan berkorelasi negatif dengan kadar glukosa darah dua jam post-prandial.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/82191
      Collections
      • MT - Human Ecology [2407]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository