Show simple item record

dc.contributor.advisorNirmala, Kukuh
dc.contributor.authorAsri, Yuliana
dc.date.accessioned2016-08-11T03:40:26Z
dc.date.available2016-08-11T03:40:26Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81327
dc.description.abstractIkan tuna sirip kuning merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki permintaan dan nilai ekonomis yang tinggi. Indonesia menjadi negara penghasil tuna terbesar kedua di dunia dengan memasok lebih dari 16% total produksi tuna. Pembenihan tuna sirip kuning telah berhasil dilakukan tetapi teknologi budidaya untuk pemeliharaan larva membutuhkan perbaikan dan kemajuan guna peningkatan kelangsungan hidup larva. Masalah utama adalah tingginya mortalitas larva dengan kelangsungan hidup kurang dari 0,05% pada 10 hari setelah penetasan hingga mencapai juvenil. Pola kematian larva hingga hari ke 10 setelah menetas (D10) yaitu surfacing death (larva terjebak oleh tegangan permukaan) dan sinking death (larva dan dinding dasar bak berbenturan). Hal ini diduga akibat faktor pergerakan atau perputaran air. Pola kematian sinking death pada larva dapat diminimalkan dengan mengurangi dan mencegah kecepatan tenggelam larva. Pengurangan dan pencegahan kecepatan tenggelam larva dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan mengatur posisi titik aerasi, peningkatan sirkulasi dan medan arus yang terbentuk dalam bak pemeliharaan. Distribusi aerasi, bentuk sirkulasi dan arus yang ideal pada bak dapat mencegah dan mengurangi terjadinya sinking death. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektifitas pemeliharaan larva tuna sirip kuning dengan posisi titik aerasi yang berbeda terhadap derajat kelangsungan hidup larva, apakah penentuan titik aerasi yang berbeda berdampak pada perkembangan embriologi, kemampuan penyerapan kuning telur dan jumlah pakan yang dimakan. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan morfologi, organ dalam dan tingkah laku larva ikan tuna sirip kuning. Hasil penelitian diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan budidaya dan dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga Oktober 2015, bertempat di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol, Bali. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan posisi titik aerasi yang berbeda dan tiga ulangan. Perlakuan pertama sebagai kontrol yaitu titik aerasi diletakkan pada keempat sisi bak dan dengan posisi menggantung yaitu 30 cm dari dasar bak pemeliharaan (A). Perlakuan kedua yaitu empat titik aerasi diletakkan pada dasar bak dengan posisi berada di tengah bak (B). Perlakuan ketiga merupakan kombinasi perlakuan pertama dan kedua, yaitu dua titik aerasi diletakkan di dasar bak dan dua titik aerasi lainnya menggantung (C). Larva tuna sirip kuning yang digunakan adalah yang baru menetas atau D0, larva dipelihara dalam bak fiber berukuran 1 m3, kedalaman 1 m, kapasitas volume air 700 liter.bak-1, dengan padat tebar 10.000 ekor larva.bak-1, pemeliharaan dilakukan selama 13 hari setelah menetas. Pakan yang diberikan berupa pakan alami Nannochloropsis sp., rotifer dan artemia. Pergantian air dilakukan saat larva berumur 8 hari yaitu sebanyak 5% dan saat larva berumur 12 hari 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B dan C, yaitu posisi titik aerasi di dasar dan kombinasi memberikan nilai terbaik terhadap kelangsungan hidup larva tuna sirip kuning (0,31±0,04% dan 0,30±0,06%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap laju penyerapan kuning telur, bukaan mulut, laju pertumbuhan panjang harian, koefisien keragaman dan jumlah rata–rata isi pakan dalam lambung. Perlakuan A, B dan C memberikan nilai laju penyerapan kuning telur sebesar 0,70%, 0,51% dan 0,57 % hari-1, laju pertumbuhan panjang sebesar 6,00%, 5,69% dan 5,62% dengan koefisien keragaman 4,66%, 4,34% dan 4,79%. Pada umur tiga hari setelah menetas, mulut mulai terbuka dengan ukuran bukaan mulut 0,19–0,23 mm pada bukaan 90o dan 0,10–0,12 mm pada bukaan 45o. Ukuran bukaan mulut larva pada hari ke 13 setelah menetas adalah 0,59–0,71 mm pada bukaan 90o dan 0,32–0,39 mm pada bukaan 45o. Jumlah rata–rata isi lambung larva menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah rata–rata isi lambung larva pada saat pertama kali diberi pakan dan pada akhir pemeliharan. Jumlah rotifer yang dikonsumsi larva tuna sirip kuning umur 5 dan 10 hari yaitu 10,80 dan 28,70 ind.larva-1. Kualitas air selama penelitian masih tergolong dalam kisaran optimum kualitas air pemeliharaan larva ikan tuna, yaitu suhu 29–30,7 oC, pH 8,13–8,3, NH3 0,0028– 0,01 mg.L-1, DO 6,86–7,02, kecepatan arus 3,5 cm.s-1 dan kecepatan aerasi 500 mL.min-1. Pengamatan mikroskopis menunjukkan bahwa larva tuna sirip kuning menyerap habis kuning telur, mulai mengambil makanan dari luar tubuh dan retina mata sudah terlihat jelas pada umur tiga hari. Umur tiga hari bakal calon gelembung renang pada larva sudah mulai terlihat dan tampak jelas setelah larva berumur lima hari setelah menetas. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan perlakuan terbaik pada penelitian adalah pemeliharaan larva tuna sirip kuning dengan posisi titik aerasi di dasar (B) dan kombinasi (C). Pengamatan laju penyerapan kuning telur, laju pertumbuhan panjang harian, koefisien keragaman panjang, bukaan mulut larva dan sisa pakan dalam bak menunjukkan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Terdapat perbedaan yang nyata terhadap isi pakan dalam lambung pada saat pertama kali diberikan pakan (hari ke tiga) dan pada akhir pemeliharaan (hari ke 13).id
dc.language.isoidid
dc.subject.ddcFisheriesid
dc.subject.ddcFish sea waterid
dc.titlePemeliharaan Larva Tuna Sirip Kuning Thunnus Albacares Dengan Posisi Titik Aerasi Berbeda Dan Studi Awal Perkembangan Morfologi, Organ Dalam Serta Tingkah Laku Larvaid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordkelangsungan hidupid
dc.subject.keywordlarvaid
dc.subject.keywordmorfologiid
dc.subject.keywordThunnus albacaresid
dc.subject.keywordtitik aerasiid
dc.subject.keywordtingkah lakuid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record