Show simple item record

dc.contributor.advisorAtmadipoera, Agus S.
dc.contributor.advisorPurba, Mulia
dc.contributor.authorHorhoruw, Selfrida Missmar
dc.date.accessioned2016-06-06T02:27:39Z
dc.date.available2016-06-06T02:27:39Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80990
dc.description.abstractSelat Makassar (SM) yang merupakan pintu masuk utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo) diketahui membawa transpor Arlindo sekitar 75% dari total 15 Sv (Sv= ). Kontur Selat yang berupa kanal dengan keragaman kedalaman sangat mempengaruhi karakteristik massa air yang bergerak di dalamnya sehingga diperlukan penelitian mencakup seluruh kawasan SM. Analisis deret waktu dari arus di SM dengan menggunakan mooring arus telah dilakukan sejak tahun 1996 hingga sekarang namun demikian pengukuran hidrografi yang mencakup seluruh kawasan SM masih jarang dilakukan. Selain itu telah dibuat pemodelan untuk mengetahui variabilitas pada seluruh kawasan SM oleh beberapa peneliti. Namun analisis deret waktu pada setiap kedalaman yang dilewati Arlindo masih jarang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji struktur dan variabilitas Arlindo di kawasan SM. Data hidrografi merupakan data hasil Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) pada Juni 2013. Data terdiri dari 29 stasiun CTD dan data arus dari SADCP (Shipboard Acoustic Doppler Current Profilers) sepanjang lintasan survei. Untuk analisis deret waktu digunakan data hasil model INDESO (Infrastructure Development for Space Oceanography) selama tahun 2007-2013 pada kedalaman 25, 92 dan 318 m dengan penerapan analisis EOF (Empirical Orthogonal Function) menggunakan 3 mode terbesar serta analisis trajektori partikel massa air. Hasil penelitian menunjukkan Arlindo SM dicirikan oleh arus jet kuat pada kedalaman termoklin (75-125 m), dimana aliran masuk menuju barat daya. Mendekati 1°LS, arah aliran berubah ke tenggara menyusuri lereng dangkalan Kalimantan yang mengarah ke Kanal Labani. Arus jet berubah arah menuju selatan pada Kanal Labani dan menjadi semakin kuat. Aliran mengalami resirkulasi membentuk pusaran arus searah jarum jam pada tepi barat laut SM. Massa air Arlindo SM didominasi oleh massa air Pasifik Utara, yaitu North Pacific Subtropical Water (NPSW) di kedalaman termoklin dan North Pacific Intermediate Water (NPIW) di kedalaman bawah termoklin. Terdapat variasi spasial dari massa air NPSW dan NPIW, dimana semakin ke arah selatan karakteristik massa air mengalami transformasi. Ketebalan lapisan termoklin di sisi timur pintu masuk selat lebih besar sehingga distribusi massa air Pasifik Utara tersebut berasal dari sisi timur dan mengalir dengan arah menuju barat daya. Sehingga ditemukan intensifikasi Arlindo pada tepi barat dengan posisi sekitar 1-2˚LS. Hasil model INDESO menunjukan eksistensi 4 eddy besar pada tepi SM dengan pusaran searah dan berlawan jarum jam. Energi kinetik serta aliran pada eddy lebih tinggi selama musim timur. Di selatan SM, ditemukan 3 percabangan Arlindo dengan aliran cenderung melalui cabang timur dan tengah ditemukan di selatan SM. Aliran Arlindo pada cabang barat melemah selama musim barat di kedalaman permukaan yang diduga akibat pengaruh pergerakan massa air permukaan ke arah utara selama musim tersebut. Sedangkan pada kedalaman iii termoklin aliran lebih kuat pada cabang barat selama musim barat yang disebabkan oleh melemahnya eddy yang terbentuk pada wilayah barat di selatan SM. Analisis temporal dengan menggunakan metode EOF untuk menemukan variabilitas dominan yang terjadi pada wilayah SM menunjukan variabilitas yang berbeda pada setiap kedalaman. Explained variance 79.1 % pada EOF Mode 1 di kedalaman permukaan menunjukan pengaruh periode antar tahunan (512 harian) yang kuat yang diduga dipengaruhi oleh siklus ENSO. Variabilitas antar tahunan ditemukan bersamaan dengan variabilitas intra musiman dengan periode 33,57 dan 73 harian namun dengan energi densitas yang lebih rendah. Energi signifikan 73 harian diduga akibat kedatangan gelombang Kelvin. EOF Mode 2 dengan varians 6.2 % serta EOF Mode 3 dengan varians 3.2 % menunjukan adanya asosiasi periode tahunan (342 harian) yang terjadi bersamaan dengan periode intra musiman. EOF Mode 1 dengan explained variance 85.8%, 3.9 % pada Mode 2 serta 3.5 % pada Mode 3 di kedalaman termoklin menunjukan kuatnya variabilitas tahunan yang menyebabkan berkurangnya pengaruh variabilitas antar tahunan. Variabilitas intra musiman juga berperan mengurangi kekuatan variabitas antar tahunan pada kedalaman termoklin. Hal ini terlihat pada EOF Mode 2 yang memiliki energi densitas yang cukup signifikan pada periode 32 dan 64 harian yang diduga sebagai hasil perambatan Gelombang Rossby. Analisi variabilitas pada kedalaman bawah termoklin menunjukan kuatnya pengaruh periode antar tahunan yang berasosiasi dengan periode semi tahunan dan periode intra musiman. EOF Mode 1 dengan explained variance 87.3 % dan Mode 2 dengan explained variance 4.4 % menunjukan kuatnya pengaruh periode intra musiman (51-60 harian) di kedalaman bawah termoklin. Sedangkan pada EOF Mode 3 dengan explained variance 3.0 % menunjukan adanya variabilitas semi tahunan yang berulang selama bulan Mei dan November yang diduga akibat intrusi gelombang Kelvin semi tahunan. Trajektori partikel yang dibuat pada kedua musim yang berbeda mengungkapkan partikel massa air bergerak mengikuti arus utama Arlindo. Adanya perbedaan waktu pergerakan massa air maupun karakteristik massa air yang mengangkut partikel, yakni pada musim timur partikel massa air bergerak lebih cepat di bandingkan dengan partikel yang dilepas pada musim barat.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcTransportationid
dc.subject.ddcTransport by seaid
dc.titleStruktur Dan Variabilitas Arus Lintas Indonesia Di Selat Makassarid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordArus Lintas Indonesiaid
dc.subject.keywordEWIN 2013id
dc.subject.keywordINDESOid
dc.subject.keywordSelat Makassarid
dc.subject.keywordVariabilitas Arlindoid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record