IPB University Logo

SCIENTIFIC REPOSITORY

IPB University Scientific Repository collects, disseminates, and provides persistent and reliable access to the research and scholarship of faculty, staff, and students at IPB University

AI Repository
 
Building and Categories


      View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Fisheries
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Fisheries
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Kajian Ekologi-Ekonomi Kepiting Bakau (Scylla Serrata - Forsskal, 1775) Di Ekosistem Mangrove Teluk Bintan Kabupaten Bintan

      Thumbnail
      View/Open
      Fulltext (36.28Mb)
      Date
      2016
      Author
      Tahmid, Muhammad
      Fahrudin, Achmad
      Wardiatno, Yusli
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Kepiting bakau (S. serrata) merupakan salah satu potensi komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi yang secara khas berasosiasi dengan ekosistem mangrove yang masih baik. Sehingga terdegradasinya habitat akan memberikan dampak yang serius terhadap keberadaan populasi kepiting bakau. Teluk Bintan memiliki mangrove seluas ±1.463,97 ha yang tersebar di sepanjang pesisir pantai dan daerah aliran sungai. Keberadaan ekosistem mangrove tersebut oleh masyarakat lokal secara langsung dimanfaatkan sebagai sumber mata pencaharian tempat menangkap ikan, udang, kepiting dan hasil lainnya. Kawasan tersebut memiliki potensi dan peranan penting sebagai penyangga kehidupan khususnya bagi masyarakat nelayan sekala kecil (small-scale fisheries). Menurut nelayan setempat, hasil tangkapan kepiting bakau semakin menurun dan penyebabnya belum diketahui dengan pasti apakah dipengaruhi oleh kelebihan penangkapan atau kerusakan habitat. Oleh karenanya, perlu dilakukan kajian tentang ekologi-ekonomi kepiting bakau untuk dicarikan konsep pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status biologi populasi kepiting bakau dilokasi penelitian yang meliputi struktur ukuran, parameter pertumbuhan dan laju mortalitas, mengkaji status ekologi habitat kepiting bakau di lokasi penelitian, mengestimasi nilai ekonomi kepiting bakau di lokasi penelitian serta megkaji status keberlanjutan pengelolaan perikanan kepiting bakau di lokasi penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Teluk Bintan Kabupaten Bintan selama 4 bulan yaitu pada bulan Februari – Mei 2015. Pengambilan data ekologi dilakukan dengan metode survey di tiga lokasi yaitu Tembeling, Bintan Buyu, dan Penaga dengan 8 stasiun pengamatan. Pengumpulan sampel kepiting bakau dilakukan dengan pendekatan fisher-based survey. Pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan dengan alat bantu kuisioner. Data biologi kepiting bakau dianalisis dengan metode analitik menggunakan alat bantu FISAT-II. Status ekologi habitat dianalisis menggunakan pendekatan indeks kualitas habitat. Manfaat nilai ekonomi dianalisis menggunakan pendekatan Effect on Production (EOP) dan keberlanjutan pengelolaan dianalisis dengan bantuan program RAPFISH. Hasil analisis strukutur ukuran menunjukkan lebar karapas S. serrata yang tertangkap di Teluk Bintan berkisar dari 64 – 172 mm (jantan) dan 67 – 166 mm (betina) dengan bobot terbesar kepiting jantan 1.470 g dan betina 810 g. Kepiting fase dewasa yang tertangkap mencapai 52,94% (jantan) dan 50,46% (betina), fase muda kepiting jantan mencapai 46,62% dan betina mencapai 48,06%, sedangkan individu juvenil yang tertangkap hanya sebagian kecil yaitu di bawah 1,5%. Dari hasil analisis hubungan lebar karapas (CW) dan bobot tubuh menunjukkan pola pertumbuhan S. serrata jantan bersifat allometrik positif, sedangkan betina bersifat allometrik negatif. Lebar karapas asimtotik (CW∞) yang dapat dicapai kepiting jantan lebih besar dari kepiting betina yaitu 176,93 mm (jantan) dan 169,58 mm (betina). Koefisien pertumbuhan (K) kepiting bakau jantan lebih kecil dari kepiting betina dengan masing-masing 0,360/th dan 0,390/th. Laju mortalitas total (Z) kepiting bakau (S. serrata) jantan (1,2) lebih tinggi dari betina (1,01). Laju mortalitas alami (M) kepiting jantan (0,5566) lebih kecil dari laju penangkapan (F) (0,6434), yang berarti kematian total kepiting jantan lebih banyak disebabkan oleh kegiatan penangkapan. Sedangkan nilai M kepiting betina sebesar 0,59353 (58,77%), yang berarti Z kepiting betina lebih banyak disebabkan oleh mortalitas alami (M). Laju ekspoiltasi (E) kepiting bakau jantan mencapai 53,62%, ini mengindikasikan telah terjadi lebih tangkap atau over eksploitasi dimana nilai E>50%. Sedangkan laju eksploitasi kepiting betina sebesar 41,23%, yang berarti masih dibawah laju eksploitasi optimal yang diperbolehkan. Kualitas habitat kepiting bakau di ekosistem mangove Teluk Bintan berada pada kategori “sedang” (nilai Indeks 43-66) dan “baik” (nilai Indeks 67-90). Tembeling memiliki kategori “baik” dengan nilai indek 82, sedangkan di Bintan Buyu dan Penaga keduanya berada pada kategori “sedang” dengan nilai indek 62 dan 66. Hubungan kualitas habitat terhadap rata-rata lebar karapas (Carapace Width/CW) dan rata-rata bobot tubuh (Body Weight/W) kepiting bakau memiliki hubungan kuat yaitu r = 0,997 (CW) dan r = 0,999 (W) dan keduanya memiliki nilai p<0,05. Kualitas habitat memberikan pengaruh nyata terhadap lebar karapas dan bobot kepiting bakau dengan korelasi positif, sehingga semakin tinggi kualitas habitat akan semakin tinggi rata-rata lebar karapas dan rata-rata bobot tubuh kepiting bakau di suatu lokasi. Hasil analisis Effect on Production (EOP) terhadap produksi kepiting bakau di ekosistem mangrove Teluk Bintan sebesar Rp.206.061.978,16/ha/tahun. Pendapatan bersih nelayan kepiting bakau rata-rata sebesar Rp. 1.558.174/bulan, pendapatan terkecil Rp.1.020.000/bulan, sedangkan pendapatan tertinggi Rp.3.206.000/bulan. Tingkat pendapatan nelayan kepiting bakau sebagian besar dibawah upah minimum kabupaten (UMK) Bintan sebesar Rp.2.300.000/bulan. Usaha penangkapan kepiting bakau di Teluk Bintan memiliki rasio (R/C) rata-rata 11,02. Investasi rata-rata usaha penangkapan kepiting bakau di Teluk Bintan sebesar Rp. 6.850.000,- dan untuk mencapai Break Event Point (BEP) membutuhkan produksi minimum kepiting sebesar 129,64 kg atau penerimaan minimum Rp. 10.162.609,- dengan Payback Period (PBP) yang dibutuhkan ± 0,65 tahun atau 7,8 bulan. Hasil analisis Rapfish diperoleh indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi sebesar 40.75 % (kurang berkelanjutan), dimensi ekonomi 73,91% (cukup berkelanjutan), dimensi sosial 54.43% (cukup berkelanjutan), dimensi teknologi 64,10% (cukup berkelanjutan, dan dimensi kelembagaan sebesar 35.15% (kurang berkelanjutan).
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80103
      Collections
      • MT - Fisheries [3248]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository