View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Mathematics and Natural Sciences
      • UT - Geophysics and Meteorology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Mathematics and Natural Sciences
      • UT - Geophysics and Meteorology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Potensi Kemunculan Titik Panas Berdasarkan Tutupan Lahan Dan Insolasi (Incoming Solar Radiation) (Studi Kasus: Pulau Bengkalis, Riau).

      Thumbnail
      View/Open
      Fulltext (12.74Mb)
      Date
      2016
      Author
      Febriani, Pungky Alim
      Risdiyanto, Idung
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Identifikasi titik panas sangat diperlukan untuk mengurangi resiko kebakaran hutan dan lahan khususnnya di Pulau Bengkalis, Riau. Potensi kemunculan titik panas dapat diketahui berdasarkan tutupan lahan dan nilai insolasi (incoming solar radiation), serta dipengaruhi oleh curah hujan. Klasifikasi tutupan lahan merupakan hasil interpretasi dari citra Landsat 8 menggunakan metode klasifikasi terbimbing dan interpretasi visual. Titik panas sering muncul pada tutupan lahan vegetasi dengan kerapatan sedang yang mewakili perkebunan, semak belukar, dan pertanian lahan kering. Hal ini disebabkan karena pada tutupan lahan tersebut mengandung bahan bakar ringan dan kering karena kelembaban lingkungannya rendah. Nilai insolasi dipengaruhi oleh jarak antara bumi dengan matahari (perihelion dan aphelion) akibat gerak semu matahari, serta dipengaruhi oleh derajat lintang wilayah kajian. Nilai insolasi disajikan dalam bentuk pengkelasan dengan interval 10 w/m2, 15 w/m2, dan 20 w/m2. Berdasarkan ketiga jenis kelas tersebut menunjukkan bahwa nilai insolasi mempunyai korelasi positif dengan jumlah titik panas. Semakin besar nilai insolasi, maka semakin banyak titik panas yang terdeteksi, atau sebaliknya. Titik panas mulai muncul apabila nilai insolasi minimum adalah 1321 w/m2 yaitu terjadi pada bulan Januari-Mei dan Agustus-November. Selain insolasi, curah hujan juga berperan dalam kemunculan titik panas. Curah hujan mempunyai korelasi negatif dengan jumlah titik panas, yaitu semakin tinggi curah hujan, maka semakin sedikit titik panas yang terdeteksi, atau sebaliknya.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79807
      Collections
      • UT - Geophysics and Meteorology [1719]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository