| dc.description.abstract | Konversi hutan menjadi lahan pertanian yang tidak disertai penerapan konservasi tanah dan air yang memadai telah meningkatkan erosi tanah dan menurunkan produktivitas lahan. Alih fungsi hutan menjadi pertanian murbei dengan pengelolaan yang tidak memadai di DAS Lawo meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, menurunkan produksi daun murbei, dan meningkatkan sebaran lahan kritis. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengkaji karakteristik biofisik DAS Lawo untuk pengembangan usaha tani berbasis murbei, meliputi evaluasi kecocokan penggunaan lahan dengan kemampuan lahan menggunakan metode klasifikasi kemampuan lahan (USDA) dan metode USLE; (2) Mengkaji pengembangan usaha tani berbasis murbei yang berkelanjutan dan dicirikan oleh pendapatan petani yang dapat mendukung kehidupan layak (KHL) dan prediksi erosi yang lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransikan; (3) Merumuskan usaha tani berbasis murbei yang optimal dan berkelanjutan di DAS Lawo menggunakan metode program tujuan ganda (PTG). Analisis penentuan usaha tani berbasis murbei yang berkelanjutan dilakukan menggunakan perangkat pengambilan keputusan (decision tool) dengan indikator ekologi (Erosi < E tol), ekonomi (Pendapatan > PKHL) dan sosial (agroteknologi bisa diterima dan diterapkan oleh petani). Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Lawo terdiri dari 25 satuan lahan (SL) dengan kelas kemampuan III, IV, dan VI. Faktor penghambat utama adalah faktor keiringan lereng (l) yang tergolong landai sampai sangat curam, dan tingkat erosi (e) yang tergolong sedang. Karakteristik Lahan di DAS Lawo cocok untuk pengembangan tanaman murbei (Morus sp). Tipe usaha tani berbasis murbei di DAS Lawo terdiri dari usaha tani murbei monokultur dengan pola panen 10 kali setahun (M1), usaha tani monokultur dengan pola panen 6 kali setahun (M2), usaha tani murbei yang bercampur secara tidak teratur dengan tanaman lainnya diantaranya pisang (M3), dan usaha tani murbei dengan coklat (M-C). Hasil pengukuran aliran permukaan dan erosi pada petak erosi menunjukkan bahwa usaha tani M1 menghasilkan aliran permukaan dan erosi terendah (AP = 10.2 mm, 10.1 % dari total hujan dan erosi = 0.3 Ton ha-1). Semua tipe usaha tani berbasis murbei memberikan pengaruh nyata terhadap erosi dan aliran permukaan. Nilai aliran permukaan dan erosi pada usaha tani berbasis murbei lebih rendah apabila dibandingkan dengan pertanian jagung (AP = 33.3 mm, CA= 28.7%, dan erosi = 1.4 ton ha-1). Rata-rata luas lahan petani di DAS Lawo adalah 1 ha. Jumlah anggota keluarga petani rata-rata 4 orang dan nilai KHL sebesar Rp. 28 350 000 kk-1 tahun- 1. Usaha tani berbasis murbei yang dilakukan oleh petani di DAS Lawo saat ini tidak berkelanjutan (unsustainable) karena pendapatannya hanya sebesar Rp 4 094 600 - 11 594 000 kk-1tahun-1.lebih kecil dibandingkan standar hidup layak. Berdasarkan indikator ekosistem, Erosi sebesar 53 ton ha-1 - 318.9 ton ha-1 > Etol yaitu > 36.9 ton ha-1 - 43 ton ha-1. Analisis menunjukkan bahwa usaha tani berbasis murbei yang berkelanjutan di DAS Lawo adalah dapat dicapai dengan penerapan agroteknologi pemupukan yaitu dengan mengkombinasikan pemberian pupuk anorganik dan organik berupa pupuk limbah pemeliharaan ulat sebanyak 1 kg tanaman-1 + 20 g campuran urea, TSP dan KCL dan penerapan konservasi tanah berupa pemberian mulsa jerami padi sebanyak 6 ton ha-1 untuk lahan dengan kemiringan lereng kurang dari 6%; dan pembuatan teras gulud dengan tanaman penguat teras pada lahan dengan lereng 12% dan 18%. Untuk meningkatkan pendapatan petani maka usaha tani berbasis murbei harus dikombinasikan dengan pemeliharaan ternak kambing peranakan etawa (PE) Capra aegagrus hricus sebanyak 5 ekor per tahun. Analisis program tujuan ganda menunjukkan bahwa usaha tani berbasis murbei yang optimal dan berkelanjutan di DAS Lawo adalah tipe M2 pada lahan seluas 1 ha dengan menerapkan agroteknologi pemupukan, teras gulud dengan tanaman penguat teras, dan pemberian mulsa jerami padi 6 ton ha-1 yang dikombinasikan dengan usaha ternak kambing serta pengembangan industri rumah tangga pemintalan benang. Penerapan agroteknologi ini dapat diterima dan diterapkan petani, prediksi erosi sebesar 15.536 – 36 ton-1 ha-1 tahun-1 (16–63% dibawah Etol), serta pendapatan sebesar Rp. 31 832 000 kk-1 tahun-1 – Rp. 38 525 000 kk-1 tahun-1(12 - 36% lebih tinggi apabila dibandingkan dengan KHL). Hasil analisis menunjukan bahwa satuan lahan nomor 1 (satu) dan 13 sesuai untuk pengembangan usaha tani M1, sedangkan satuan lahan nomor 10,11,12, 14, 15, 16 dan 17 sesuai untuk pengembangan usaha tani M2. Setiap usaha tani berbasis murbei dikembangkan dengan menerapkan skenario agroteknologi 2 (SA2). Rekomendasi pengembangan usahatani berbasis murbei yang disertai dengan penerapan agroteknologi yang sesuai harus dilaksanakan pada satuan lahan yang dialokasikan untuk murbei. Peruntukan penggunaan lahan pada satuan lahan nomor 4,5,6,7,8 dan 9 dikembalikan menjadi hutan, sedangkan satuan lahan nomor 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, dan 25 diperuntukkan untuk pertanian unggulan provinsi sesuai dengan Perda No. 8 tahun 2012 Kabupaten Soppeng tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Soppeng (RTRWK). | id |