Show simple item record

dc.contributor.advisorSumantri, Cece
dc.contributor.advisorBoediono, Arief
dc.contributor.advisorNoor, Ronny Rachman
dc.contributor.advisorAndersson, Dan Göran
dc.contributor.authorYulnawati
dc.date.accessioned2014-10-29T01:44:50Z
dc.date.available2014-10-29T01:44:50Z
dc.date.issued2014
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/69882
dc.description.abstractKerbau belang merupakan salah satu keanekaragaman hayati Indonesia yang termasuk dalam kelompok kerbau lumpur atau kerbau rawa (Bubalus bubalis carabanensis). Populasi kerbau belang umumnya ditemui di sekitar wilayah Toraja, Sulawesi Selatan. Jenis ternak ini memiliki ikatan yang sangat erat dengan kebudayaan setempat. Kerbau belang jantan dikorbankan untuk dijadikan sebagai persembahan pada saat upacara kematian. Rendahnya tingkat kelahiran akibat tradisi yang tidak menginginkan terjadinya kawin alam pada kerbau belang jantan, serta tingkat pemotongan yang tinggi akibat upacara adat, menyebabkan populasi ternak ini menurun drastis, mendekati kepunahan. Disertasi ini bertujuan untuk i) menginvestigasi metode reproduksi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan angka kelahiran kerbau belang, dan ii) mengidentifikasi mutasi pada gen MITF sebagai penyebab munculnya variasi warna belang. Disertasi ini terdiri dari tiga kajian yang meliputi aspek reproduksi kerbau belang jantan dan variasi genetik penyebab munculnya warna belang pada kerbau rawa. Pada kajian pertama, dilakukan investigasi mengenai pengaruh warna kulit terhadap kualitas sperma epididimis segar dan setelah thawing. Sampel sperma epididimis dikoleksi dari 12 ekor kerbau belang yang terdiri dari 5 ekor Saleko, 4 ekor Bonga dan 3 ekor Lotong Boko, dibandingkan dengan sperma epididimis dari 5 ekor kerbau hitam. Tidak ditemukan adanya perbedaan signifikan pada setiap parameter kualitas sperma yang diamati, baik pada kondisi sperma segar maupun setelah thawing. Motilitas progresif sperma epididimis setelah thawing dari kelompok Saleko, Bonga, Lotong Boko dan hitam secara berturut-turut adalah 44%, 42%, 40% dan 42%. Sementara itu, daya hidup dan keutuhan membran plasma sperma epididimis dari keempat kelompok tersebut secara berturut-turut adalah 64,9%; 65,2%; 62,6%; 62,7% and 64,6%; 67,1%; 64,5%; 64,1%. Disimpulkan bahwa variasi warna kulit belang ternyata tidak memberikan pengaruh terhadap kualitas sperma epididimis segar maupun beku. Kajian kedua bertujuan untuk mengetahui pengaruh dua bahan pengencer terhadap kualitas sperma epididimis setelah thawing, serta keberhasilan kebuntingan setelah inseminasi buatan (IB) menggunakan sperma tersebut. Bahan pengencer yang dibandingkan adalah Tris kuning telur (TEY20) versus Sitrat kuning telur (CEY20). Hasil yang diperoleh menunjukkan kedua jenis pengencer memiliki kemampuan yang sama dalam mempertahankan motilitas progresif, viabilitas dan keutuhan membran plasma sperma epididimis setelah thawing. Sebanyak 47% (7/15) kerbau betina berhasil bunting setelah diinseminasi menggunakan sperma epididimis setelah thawing yang diencerkan dalam TEY20 dan 40% (6/15) menggunakan sperma epididimis setelah thawing yang diencerkan dalam CEY20. Disimpulkan bahwa kedua jenis bahan pengencer, TEY20 dan CEY20, dapat digunakan untuk mempertahankan kualitas dan fertilitas sperma epididimis kerbau belang setelah thawing. Dalam kajian ketiga, dilakukan penelusuran variasi genetik pada gen microphthalmia-associated transcription factor (MITF) dalam kaitannya terhadap kemunculan warna belang. Studi ini berhasil mengidentifikasi dua jenis mutasi penting, yaitu mutasi nonsense yang menyebabkan terjadinya premature stop codon pada exon 3, dan mutasi donor splice-site yang menyebabkan perpanjangan exon 8. Akibat mutasi splice-site ini terjadinya penambahan 8 residu asam amino yang diperkirakan terjadi langsung sebelum leucine ketiga dari leucine zipper bHLH-Zip domain, sehingga mempengaruhi dimerisasi dan kapasitas ikatan protein MITF dengan DNA. Secara umum dapat disimpulkan bahwa IB menggunakan sperma epididimis kerbau belang yang dibekukan baik dalam bahan pengencer TEY20 maupun CEY20 dapat diaplikasikan guna meningkatkan angka kelahiran kerbau belang. Selanjutnya, dapat dipastikan bahwa mutasi nonsense dan splice-site yang diidentifikasi pada gen MITF merupakan faktor penyebab munculnya warna belang pada kerbau rawa.id
dc.language.isoid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.subject.ddcAnimal Husbandryen
dc.subject.ddcBuffaloen
dc.titlePemanfaatan Sperma Epididimis Dan Mutasi Penyebab Munculnya Warna Belang Pada Kerbau Lumpuren
dc.subject.keywordSperma Epididimisen
dc.subject.keywordBahan Pengenceren
dc.subject.keywordInseminasi Buatanen
dc.subject.keywordMITFen
dcterms.typeDissertations


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record