Pemanfaatan Sperma Epididimis Dan Mutasi Penyebab Munculnya Warna Belang Pada Kerbau Lumpur

View/ Open
Date
2014Author
Yulnawati
Sumantri, Cece
Boediono, Arief
Noor, Ronny Rachman
Andersson, Dan Göran
Metadata
Show full item recordAbstract
Kerbau belang merupakan salah satu keanekaragaman hayati Indonesia
yang termasuk dalam kelompok kerbau lumpur atau kerbau rawa (Bubalus
bubalis carabanensis). Populasi kerbau belang umumnya ditemui di sekitar
wilayah Toraja, Sulawesi Selatan. Jenis ternak ini memiliki ikatan yang sangat
erat dengan kebudayaan setempat. Kerbau belang jantan dikorbankan untuk
dijadikan sebagai persembahan pada saat upacara kematian. Rendahnya tingkat
kelahiran akibat tradisi yang tidak menginginkan terjadinya kawin alam pada
kerbau belang jantan, serta tingkat pemotongan yang tinggi akibat upacara adat,
menyebabkan populasi ternak ini menurun drastis, mendekati kepunahan.
Disertasi ini bertujuan untuk i) menginvestigasi metode reproduksi yang
dapat diterapkan untuk meningkatkan angka kelahiran kerbau belang, dan ii)
mengidentifikasi mutasi pada gen MITF sebagai penyebab munculnya variasi
warna belang. Disertasi ini terdiri dari tiga kajian yang meliputi aspek reproduksi
kerbau belang jantan dan variasi genetik penyebab munculnya warna belang pada
kerbau rawa.
Pada kajian pertama, dilakukan investigasi mengenai pengaruh warna kulit
terhadap kualitas sperma epididimis segar dan setelah thawing. Sampel sperma
epididimis dikoleksi dari 12 ekor kerbau belang yang terdiri dari 5 ekor Saleko, 4
ekor Bonga dan 3 ekor Lotong Boko, dibandingkan dengan sperma epididimis dari
5 ekor kerbau hitam. Tidak ditemukan adanya perbedaan signifikan pada setiap
parameter kualitas sperma yang diamati, baik pada kondisi sperma segar maupun
setelah thawing. Motilitas progresif sperma epididimis setelah thawing dari
kelompok Saleko, Bonga, Lotong Boko dan hitam secara berturut-turut adalah
44%, 42%, 40% dan 42%. Sementara itu, daya hidup dan keutuhan membran
plasma sperma epididimis dari keempat kelompok tersebut secara berturut-turut
adalah 64,9%; 65,2%; 62,6%; 62,7% and 64,6%; 67,1%; 64,5%; 64,1%.
Disimpulkan bahwa variasi warna kulit belang ternyata tidak memberikan
pengaruh terhadap kualitas sperma epididimis segar maupun beku.
Kajian kedua bertujuan untuk mengetahui pengaruh dua bahan pengencer
terhadap kualitas sperma epididimis setelah thawing, serta keberhasilan
kebuntingan setelah inseminasi buatan (IB) menggunakan sperma tersebut. Bahan
pengencer yang dibandingkan adalah Tris kuning telur (TEY20) versus Sitrat
kuning telur (CEY20). Hasil yang diperoleh menunjukkan kedua jenis pengencer
memiliki kemampuan yang sama dalam mempertahankan motilitas progresif,
viabilitas dan keutuhan membran plasma sperma epididimis setelah thawing.
Sebanyak 47% (7/15) kerbau betina berhasil bunting setelah diinseminasi
menggunakan sperma epididimis setelah thawing yang diencerkan dalam TEY20
dan 40% (6/15) menggunakan sperma epididimis setelah thawing yang diencerkan
dalam CEY20. Disimpulkan bahwa kedua jenis bahan pengencer, TEY20 dan
CEY20, dapat digunakan untuk mempertahankan kualitas dan fertilitas sperma
epididimis kerbau belang setelah thawing.
Dalam kajian ketiga, dilakukan penelusuran variasi genetik pada gen
microphthalmia-associated transcription factor (MITF) dalam kaitannya terhadap
kemunculan warna belang. Studi ini berhasil mengidentifikasi dua jenis mutasi
penting, yaitu mutasi nonsense yang menyebabkan terjadinya premature stop
codon pada exon 3, dan mutasi donor splice-site yang menyebabkan perpanjangan
exon 8. Akibat mutasi splice-site ini terjadinya penambahan 8 residu asam amino
yang diperkirakan terjadi langsung sebelum leucine ketiga dari leucine zipper
bHLH-Zip domain, sehingga mempengaruhi dimerisasi dan kapasitas ikatan
protein MITF dengan DNA.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa IB menggunakan sperma epididimis
kerbau belang yang dibekukan baik dalam bahan pengencer TEY20 maupun
CEY20 dapat diaplikasikan guna meningkatkan angka kelahiran kerbau belang.
Selanjutnya, dapat dipastikan bahwa mutasi nonsense dan splice-site yang
diidentifikasi pada gen MITF merupakan faktor penyebab munculnya warna
belang pada kerbau rawa.
Collections
- DT - Animal Science [366]

