Daya Tahan Hidup Toxoplasma gondii dalam Susu Kambing pada Pasteurisasi Suhu Rendah Waktu Lama dan Suhu Tinggi Waktu Singkat.

View/ Open
Date
2014Author
Saridewi, Rismayani
Lukman, Denny Widaya
B. Sudarwanto, Mirnawati
Cahyaningsih, Umi
Metadata
Show full item recordAbstract
Protozoa Toxoplasma gondii merupakan parasit obligat intraseluler yang bersifat zoonotik, menyebar secara luas di alam dan dapat menginfeksi banyak spesies hewan berdarah panas. Toksoplasmosis pada kambing dapat menurunkan produksi, keguguran, kematian janin, mumifikasi janin, kerugian ekonomi dan berbahaya bagi kesehatan manusia melalui konsumsi daging dan susu yang terkontaminasi. Penyakit ini dianggap sangat penting dalam dunia kedokteran hewan dan kesehatan masyarakat. Susu kambing akhir-akhir ini menjadi trend untuk dikonsumsi dibandingkan susu sapi, sebab kandungan gizi dalam susu kambing lebih baik dibandingkan susu sapi. Susu kambing mengandung protein sebanyak 3.3-4.9% dan lemak 4-7.3% sedangkan susu sapi mengandung protein sebanyak 3.3% dan lemak 3.7%. Susu kambing lebih mudah dicerna dibandingkan dengan susu sapi, karena ukuran molekul lemak susu kambing lebih kecil dan homogen. Susu kambing juga diketahui memiliki khasiat dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan sebagai pengganti air susu ibu bagi bayi yang alergi terhadap protein susu sapi. Susu kambing segar diyakini mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan susu kambing yang telah dipanaskan sehingga masyarakat lebih memilih mengonsumsi susu kambing segar tanpa dipasteurisasi. Gejala klinis toksoplasmosis pada manusia senantiasa dihubungkan dengan konsumsi susu kambing tanpa pasteurisasi. Pasteurisasi merupakan metode pengolahan dengan pemanasan di bawah titik didih untuk memperpanjang masa simpan susu segar. Dikenal dua metode pasteurisasi susu, yaitu: suhu rendah waktu lama (low temperature long time/LTLT), pemanasan pada suhu rendah 63 ºC selama 30 menit dan suhu tinggi waktu singkat (high temperature short time/HTST), pemanasan pada suhu 72 ºC selama 15 detik dan 85 °C selama 1-2 detik. Takizoit T. gondii juga dapat ditemukan di dalam susu kambing segar dan diduga penularan melalui laktasi dapat juga terjadi pada manusia. Sejauh ini belum ada laporan penelitian tentang kemampuan hidup takizoit dalam susu pasteurisasi. Peneliti sebelumnya hanya mendeteksi keberadaan T. gondii melalui uji polymerase chain reaction (PCR) yang tidak diketahui masih hidup atau sudah mati. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah takizoit masih dapat hidup dalam susu pasteurisasi. Takizoit yang hidup kemungkinan masih dapat menyebabkan infeksi dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini melalui 5 tahapan. Tahap pertama: yaitu mencit dan aklimatisasi. Tahap kedua yaitu peremajaan isolat T. gondii, tahap ketiga yaitu pasteurisasi pra-perlakuan, tahap keempat yaitu pasteurisasi susu berisi takizoit dan tahap kelima adalah infeksi mencit dan pemeriksan cairan peritoneum.
Hasil penelitian tahap pertama diperoleh mencit yang telah beradaptasi dengan lingkungan dan siap diinfeksikan. Tahap kedua diperoleh isolat T. gondii
yang telah diremajakan setelah melakukan pasase beberapa kali. Tahap ketiga yaitu pasteurisasi pra-perlakuan memberikan hasil status mikrobiologi di bawah batas maksimal cemaran mikroba (BMCM) dan uji Storch menunjukkan enzim peroksidase belum terhidrolisis sempurna pada pemanasan suhu 63 ºC selama 30 menit dan telah terhidrolisis sempurna pada suhu 72 °C selama 15 detik. Tahap keempat diperoleh 4 kelompok susu yang dicampur dengan takizoit dan 1 kelompok susu yang tidak dicampur dengan takizoit sebagai kontrol negatif. Kelima kelompok pada tahap ini terdiri dari (1) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 63 ºC selama 30 menit (K1); (2) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 72 ºC selama 15 detik (K2); (3) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 85 ºC selama 1-2 detik (K3); (4) susu pasteurisasi dan takizoit tanpa dipanaskan sebagai kontrol positif (K4); dan (5) susu yang tidak dicampur takizoit dan berperan sebagai kelompok kontrol negatif (K5). Hasil dari tahap terakhir (tahap kelima) yaitu takizoit T. gondii galur RH yang dipanaskan pada suhu 63 ºC selama 30 menit menunjukkan pada kelompok kontrol positif ditemukan takizoit pada cairan peritoneum pada hari ke-4, sedangkan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif tidak ditemukan takizoit sampai hari ke-16. Hasil pengamatan selanjutnya yaitu kelompok mencit yang diinfeksikan dengan susu dan takizoit T. gondii RH yang dipanaskan pada suhu 72 ºC selama 15 detik dan 85 ºC selama 1-2 detik menunjukkan pada kelompok kontrol positif ditemukan takizoit pada cairan peritoneum pada hari ke-4, sedangkan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif tidak ditemukan takizoit sampai hari ke-16.
Collections
- DT - Veterinary Science [305]

