| dc.description.abstract | Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya berusaha di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang besar, diharapkan sektor ini dapat mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. Menurut data BPS (2010), jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian sebesar 41.49 juta jiwa, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia cukup besar yaitu 15.90 persen pada tahun 2010. Pembangunan sub sektor perkebunan khususnya kelapa sawit merupakan salah satu bagian penting dalam pembangunan pertanian serta merupakan bagian integral pembangunan nasional. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan utama sumber minyak nabati yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Selain sebagai sumber pendapatan bagi jutaan keluarga petani, sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja, pemicu dari pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru, kelapa sawit juga berperan dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilir berbasis minyak sawit di Indonesia. Pengembangan industri hilir CPO perlu diprioritaskan sebagai kebijakan pengolahan produk pertanian, mengingat kita tidak dapat selamanya menjadi pengekspor minyak sawit. Potensi minyak sawit yang tinggi sebaiknya dimanfaatkan untuk pengembangan industri hilirnya, karena mempunyai nilai tambah yang tinggi dan menimbulkan efek ganda (multipler effect) yang sangat signifikan. Apabila kegiatan mengekspor CPO dipertahankan, ini menunjukkan industri nasional tidak berkembang dan tidak mengalami kemajuan. Kajian tentang industri turunan minyak sawit sangat strategis untuk dilakukan karena saat ini baru 10 persen produk turunan sawit yang diproduksi di Indonesia, padahal nilai tambah produk turunan berlipat ganda dibandingkan minyak sawit, khususnya untuk produk oleokimia yaitu fatty acid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi produk turunan minyak sawit di Indonesia yaitu fatty acid. Faktor-faktor tersebut digunakan untuk menganalisis dampak penurunan tingkat suku bunga dan kenaikan penawaran minyak sawit domestik terhadap produksi, penawaran, permintaan dan harga dari komoditas fatty acid serta harga dan permintaan dari komoditas minyak sawit domestik. Penelitian ini menggunakan model persamaan simultan dengan metode two-stage least squares (2-SLS). Hasil estimasi model yang diperoleh selanjutnya diuji dengan uji statistik-F, uji statistik-t, uji ekonometrika yaitu uji statistik Durbin-Watson dan Durbin-h. Setelah model dinyatakan valid, selanjutnya dilakukan simulasi kebijakan dengan menggunakan software SAS 9.0 for Windows. Faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap produksi fatty acid domestik adalah perubahan harga riil minyak sawit domestik, perubahan tingkat suku bunga, dan teknologi. Penurunan suku bunga Bank Indonesia sebesar 20 persen menyebabkan peningkatan terhadap produksi fatty acid domestik, permintaan fatty acid domestik, penawaran fatty acid domestik. Penurunan suku bunga Bank Indonesia menyebabkan penurunan terhadap harga riil fatty acid | en |