| dc.description.abstract | Dampak krisis global yang terjadi sudah mulai terasa di dalam negeri. Perkembangan perekonomian global tetap menghadirkan kerawanan, ketidakpastian, bahkan dampak secara langsung atau tidak langsung mulai dirasakan bangsa-bangsa sedunia. Harga minyak mentah dunia melonjak hingga US$ 120 per barel. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012, pemerintah menetapkan subsidi sebesar Rp 123 triliun dengan asumsi harga minyak US$ 90 per barel. Definisi subsidi BBM adalah selisih harga keekonomian BBM dengan harga jual Pertamina. Harga BBM saat ini adalah Rp 4.500 per liter, sedangkan harga keekonomian BBM adalah Rp 8.400 per liter, sehingga besaran subsidi BBM per liter adalah Rp 3.900 per liter. Usulan RAPBN 2012, harga BBM bersubsidi dinaikkan sebesar Rp 1.500 per liter menjadi Rp 6.000 per liter. Kenaikan harga BBM bersubsidi menjadi Rp 6.000 per liter, besaran subsidi BBM masih sebesar Rp 2.400 per liter. Penelitian ini menghitung besaran willingness to pay jasa angkutan barang terhadap harga BBM (premium) per liter. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis faktor faktor yang memengaruhi respon jasa angkutan barang terhadap kenaikan harga BBM. Penghitungan besaran willingness to pay menggunakan rumus willingness to pay dengan alat bantu Microsoft Excel 2007. Alat analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi respon jasa angkutan barang terhadap kenaikan BBM adalah analisis logit dengan alat bantu yaitu SPSS version 16.0 for Windows. Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka besaran willingness to pay yang didapatkan adalah Rp. 5.336,7. Jika rencana pemerintah menaikkan harga premium dari harga Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 dengan kenaikan harga sebesar Rp 1.500 maka, willingness to pay pemilik jasa angkutan barang sebesar hanya 55,7 persen dari rencana kenaikan harga premium oleh pemerintah. Jika pemerintah menaikkan harga per liter premium sebesar Rp 5.500, bukan masalah bagi responden karena nilai tersebut tidak berbeda jauh dengan nilai willingness to pay. Hasil penelitian dengan menggunakan metode analisis logit menunjukan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi respon jasa angkutan barang adalah kesediaan membayar per liter premium, pendidikan, frekuensi sewa per minggu dan CC mobil pick up yang dimiliki. Kesediaan membayar, frekuensi sewa per minggu dan pendidikan berbanding lurus dengan respon terhadap kenaikan harga BBM. Faktor CC mobil pick up yang dimiliki berbanding terbalik dengan respon jasa angkutan barang terhadap kenaikkan harga BBM. | en |