Analisis Komoditas Harga Minyak Kelapa Sawit, Minyak Kedelai, Minyak Kanola, dan Minyak Bunga Matahari di Pasar Internasional
Abstract
Minyak merupakan salah satu jenis energi yang paling banyak digunakan oleh negara-negara dunia. Pasar minyak yang besar dan infrastruktur yang memadai di hampir seluruh negara di dunia membuat permintaan akan energi minyak semakin meningkat. Berdasarkan model OWEM (OPEC World Energy Model), permintaan minyak dunia pada tahun 2002-2010 meningkat sebesar 12 juta barel per hari (bph) menjadi 89 juta bph atau tumbuh rata-rata 1,8 % per tahun. Tingginya permintaan minyak dunia direspon oleh pasar dengan peningkatan harga. Minyak bumi yang merupakan sumber energi utama sebagai bahan bakar industri pun selalu terjadi peningkatan harga hampir tiap tahunnya. Peningkatan harga yang sangat tinggi pada komoditi minyak bumi mengakibatkan konsumen untuk mencari bahan bakar alternatif yang relatif lebih murah. Salah satu alternatif yang banyak digunakan ialah minyak nabati. Minyak nabati adalah minyak alami yang diekstrak dari produk tumbuh-tumbuhan dan limbah biomassa. Jenis minyak yang termasuk dalam minyak nabati adalah minyak kelapa sawit (CPO), minyak bunga matahari (sunflower oil), minyak kedelai (soybean oil), dan minyak kanola (rapeseed oil). Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dunia, kebutuhan konsumsi akan minyak nabati juga mengalami kenaikan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di India dan Cina (sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak) telah mendorong peningkatan terhadap konsumsi minyak nabati dunia. Penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar alternatif dan sebagai bahan baku industri menyebabkan peningkatan harga minyak nabati. Berdasarkan data UNCTAD (United Nation Conference On Trade And Development) dari tahun 2005 sampai tahun 2010 harga minyak nabati dunia cenderung mengalami peningkatan. Minyak kelapa sawit (CPO), minyak kedelai, minyak kanola, dan minyak bunga matahari memiliki peranan yang sama sebagai bahan baku biofuel membuat keempat minyak nabati ini saling bersubstitusi maupun berkomplementer. Suatu komoditas yang memiliki hubungan substitusi maupun komplementer akan membuat komoditas tersebut terintegrasi, sehingga perubahan harga pada salah satu komoditas akan mempengaruhi komoditas yang lain. Aspek transmisi harga dari suatu pasar antar komoditi yang memiliki hubungan substitusi maupun komplementer merupakan aspek yang penting untuk dikaji. Pengetahuan tentang keselarasan transmisi harga dalam suatu pasar merupakan indikator apakah suatu komoditi terintegrasi dengan komoditi lainnya dalam suatu pasar. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk mengetahui kecepatan respon pelaku pasar dalam menghadapi perubahan harga sehingga dapat melakukan pengambilan keputusan secara tepat dan cepat. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dianalisis mengenai kointegrasi harga minyak kelapa sawit, minyak kedelai, minyak kanola, dan minyak bunga matahari di pasar internasional.


