Show simple item record

dc.contributor.advisorKusmana, Cecep
dc.contributor.advisorSetiadi, Yadi
dc.contributor.advisorSopandie, Didy
dc.contributor.advisorMansur, Irdika
dc.contributor.authorBertham, RR. Yudhy Harini
dc.date.accessioned2011-07-06T03:29:00Z
dc.date.available2011-07-06T03:29:00Z
dc.date.issued2006
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/47155
dc.description.abstractPertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai sebagai tanaman agroforestri di tanah mineral masam menghadapi beberapa kendala lingkungan seperti intensitas cahaya rendah, pH rendah, dan kesuburan rendah. Salah satu alternatifyang mungkin dapat meningkatkan produktivitas kedelai adalah dengan memanfaatkan jasad renik efektif seperti cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dan Bradyrhizobium pada varietas kedelai toleran naungan. Identifikasi potensi dan pemanfaatan CMA dan Bradyrhizobium untuk varietas-varietas kedelai tahan naungan di lahan agroforestri pada tanah mineral masam dengan demikian menempati posisi yang penting artinya. Penelitian ini bertujuan (i) untuk mendapatkan informasi mengenai keragaman isolatisolat CMA dan Bradyrhizobium asal tanah Ultisol di Propinsi Bengkulu, (ii) untuk menguji kesesuaian tiga genotipe/varietas kedelai untuk sistem agroforestri Kayu Bawang pada Ultisol khususnya di Propinsi Bengkulu, (iii) untuk membuktikan kesesuaian isolat CMA dan Bradyrhizobium hasil pengujian di laboratorium untuk tiga genotipe/varietas kedelai di lahan agroforestri Kayu Bawang, dan (iv) untuk mengevaluasi perubahan sifat-sifat tanah di bawah tegakan Kayu Bawang pasca budidaya kedelai. Tanah yang diambil dari tiga budidaya tanaman pertanian di Propinsi Bengkulu terindentifikasi didominasi oleh CMA Acaulospora sp (AcB), Glomus sp1 (GlaB), Glomus sp2 (GleB), Glomus sp3 (GlmB), 'Gigaspora sp2 (GimB), dan Scutellospora sp (ScB). Genus Glomus lebih sering dijumpai daripada genus lainnya. Glomus sp1 (GlaB) dan Scutellospora sp ScB). secara teknis sulit untuk dikembangkan sebagai inokulan. CMA yang paling layak untuk dikembangkan sebagai inokulan berskala komersial ialah Glomus sp3 (GlmB) dan Gigaspora sp2 (GimB). Bradyrhizobium (40 isolat) lebih dominan pada tanah-tanah di empat lokasi budidaya kedelai di Propinsi Bengkulu daripada Rhizobium (15 isolat). Dari keempat puluh isolat tersebut hanya dua mutan yaitu KLB 5.3.1 dan TEB 6.2.9, yang mampu bersaing dengan rizobia indigenous dan meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai di percobaan rumah kaca dan lapangan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa produktivitas kedelai pada lahan monokultur maupun pada agroforestri dapat ditingkatkan dengan menggunakan spesies CMA dan mutan-mutan Bradyrhizobium yang tepat. Penggunaan CMA dan Bradyrhizobium ditentukan oleh spesies atau strain yang digunakan, teknik pemberiannya (tunggal atau ganda), varietas tanaman kedelai, dan tipe penggunaan lahannya (monokultur atau agroforestri). Kedelai varietas Pangrango dan Ceneng lebih adaptif untuk dibudidayakan di tanah Ultisol secara monokultur atau agroforestri, dan akan maksimal hasilnya jika diinokulasi dengan inokulan ganda CMA Gigaspora sp2 (GimB) +Bradyrhizobium sp KLB5.31 atau Glomus sp3 (GlmB) + Bradyrhizobium sp TEB 6.2.9. Peningkatan hasilnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk buatan dosis rekomendasi, rata-rata peningkatannya adalah sebesar 57% pada lahan monokultur dan 41% pada lahan agroforestri. Budidaya kedelai kedua varietas tersebut yang diiringi dengan inokulasi CMA dan Bradyrhizobium dapat meningkatkan kesuburan fisika, kimia dan biologi tanah di bawah tegakan Kayu Bawang.
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titlePemanfaatan CMA dan bardyrhizobium dlam meningkatkan produktivitas kedelai pada sistem agroforestri kayu bawang (scorodocarpus borneensis, Burm. F) di ultisolen


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record