Pemanfaatan CMA dan bardyrhizobium dlam meningkatkan produktivitas kedelai pada sistem agroforestri kayu bawang (scorodocarpus borneensis, Burm. F) di ultisol
Date
2006Author
Bertham, RR. Yudhy Harini
Kusmana, Cecep
Setiadi, Yadi
Sopandie, Didy
Mansur, Irdika
Metadata
Show full item recordAbstract
Pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai sebagai tanaman agroforestri
di tanah mineral masam menghadapi beberapa kendala lingkungan seperti intensitas
cahaya rendah, pH rendah, dan kesuburan rendah. Salah satu alternatifyang mungkin
dapat meningkatkan produktivitas kedelai adalah dengan memanfaatkan jasad renik
efektif seperti cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dan Bradyrhizobium pada
varietas kedelai toleran naungan. Identifikasi potensi dan pemanfaatan CMA dan
Bradyrhizobium untuk varietas-varietas kedelai tahan naungan di lahan agroforestri
pada tanah mineral masam dengan demikian menempati posisi yang penting artinya.
Penelitian ini bertujuan (i) untuk mendapatkan informasi mengenai keragaman isolatisolat CMA dan Bradyrhizobium asal tanah Ultisol di Propinsi Bengkulu, (ii) untuk
menguji kesesuaian tiga genotipe/varietas kedelai untuk sistem agroforestri Kayu
Bawang pada Ultisol khususnya di Propinsi Bengkulu, (iii) untuk membuktikan
kesesuaian isolat CMA dan Bradyrhizobium hasil pengujian di laboratorium untuk
tiga genotipe/varietas kedelai di lahan agroforestri Kayu Bawang, dan (iv) untuk
mengevaluasi perubahan sifat-sifat tanah di bawah tegakan Kayu Bawang pasca
budidaya kedelai. Tanah yang diambil dari tiga budidaya tanaman pertanian di
Propinsi Bengkulu terindentifikasi didominasi oleh CMA Acaulospora sp (AcB),
Glomus sp1 (GlaB), Glomus sp2 (GleB), Glomus sp3 (GlmB), 'Gigaspora sp2
(GimB), dan Scutellospora sp (ScB). Genus Glomus lebih sering dijumpai daripada
genus lainnya. Glomus sp1 (GlaB) dan Scutellospora sp ScB). secara teknis sulit
untuk dikembangkan sebagai inokulan. CMA yang paling layak untuk dikembangkan
sebagai inokulan berskala komersial ialah Glomus sp3 (GlmB) dan Gigaspora sp2
(GimB). Bradyrhizobium (40 isolat) lebih dominan pada tanah-tanah di empat lokasi
budidaya kedelai di Propinsi Bengkulu daripada Rhizobium (15 isolat). Dari keempat
puluh isolat tersebut hanya dua mutan yaitu KLB 5.3.1 dan TEB 6.2.9, yang mampu
bersaing dengan rizobia indigenous dan meningkatkan pertumbuhan dan hasil
tanaman kedelai di percobaan rumah kaca dan lapangan. Hasil penelitian ini
menegaskan bahwa produktivitas kedelai pada lahan monokultur maupun pada
agroforestri dapat ditingkatkan dengan menggunakan spesies CMA dan mutan-mutan
Bradyrhizobium yang tepat. Penggunaan CMA dan Bradyrhizobium ditentukan oleh
spesies atau strain yang digunakan, teknik pemberiannya (tunggal atau ganda),
varietas tanaman kedelai, dan tipe penggunaan lahannya (monokultur atau
agroforestri). Kedelai varietas Pangrango dan Ceneng lebih adaptif untuk
dibudidayakan di tanah Ultisol secara monokultur atau agroforestri, dan akan
maksimal hasilnya jika diinokulasi dengan inokulan ganda CMA Gigaspora sp2
(GimB) +Bradyrhizobium sp KLB5.31 atau Glomus sp3 (GlmB) + Bradyrhizobium
sp TEB 6.2.9. Peningkatan hasilnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan yang
menggunakan pupuk buatan dosis rekomendasi, rata-rata peningkatannya adalah
sebesar 57% pada lahan monokultur dan 41% pada lahan agroforestri. Budidaya
kedelai kedua varietas tersebut yang diiringi dengan inokulasi CMA dan Bradyrhizobium dapat meningkatkan kesuburan fisika, kimia dan biologi tanah di bawah
tegakan Kayu Bawang.
Collections
- DF - Forestry [372]

