| dc.description.abstract | Kebutuhan gula nasional terus mengalami peningkatan dengan laju yang relatif pesat dan
potensi peningkatannya dimasa mendatang masih cukup besar. Namun demikian, produksi gula dalam
negeri tidak mengalami peningkatan yang berarti, bahkan sebaliknya menunjukkan kecenderungan
menurun. Faktor penyebab penurunan produksi gula nasional adalah berkurangnya luas areal tanaman
tebu di Jawa serta proses produksi yang kurang efisien akibat penggunaan mesin-mesin pabrik yang
relatif sudah tua. Untuk mencukupi kebutuhan, selain mengimpor gula berbagai upaya telah dilakukan
oleh pemerintah antara lain dengan pembangunan pabrik guia baru di luar Jawa, peningkatan luas lahan
tanaman tebu dan produktivitas lahan, serta peningkatan kapasitas giling pabrik yang disertai
peningkatan efisiensi pabrik.
Pabrik Gula Takalar adalah salah satu pabrik gula milik PTPN XIV dengan kapasitas giling
terpasang 3 000 TTH, berlokasi di Sulawesi Selatan serta melakukan budidaya tanaman tebu di lahan
kering. Keterbatasan bahan baku tebu serta gangguan kinerja mesin dan peralatan pabrik adalah
permasalahan yang sering dihadapi oleh Pabrik Gula Takalar.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kegiatan produksi gula di Pabrik Gula Takalar,
dilanjutkan dengan merancangbangun model optimasi yang merepresentasikan keadaan di lapangan
dengan memperhatikan kendala yang ada, yaitu kendala bahan baku, tenaga kerja tebang, sarana
angkutan, kapasitas giling pabrik, ketersediaan biaya, dan lahan. Pendekatan permasalahan dilakukan
dengan metode pendekatan berencana (planned approach), sedangkan perancangan model optimasi
dilakukan dengan menggunakan kaidah program sasaran linear. Modul Linear Goal Programming pada
software Quantitative System versi 3.0, dari Prentice-Hall tahun 1993 digunakan untuk mengolah dan
menyelesaikan model optimasi yang telah dirancang.
Model optimasi yang dibangun terdiri dari 85 variabel dengan 48 kendala, termasuk kendala
sasaran, serta 3 prioritas pada fungsi tujuan. Dari hasil pengolahan model optimasi produksi gula dapat
diketahui bahwa pada pemenuhan prioritas kedua sebagian besar kendala-kendala sasaran yang telah
ditetapkan dapat tercapai. Sedangkan pada pemenuhan prioritas ketiga, sebagian besar kendala
sasaran tidak tercapai. Nilai optimal untuk prioritas pertama pada fungsi tujuan, yaitu nilai maksimal
kristal gula yang dapat dihasilkan adalah sebanyak 31 167.37 ton. Prioritas kedua, yaitu nilai minimal
pada penyimpangan di atas sasaran-sasaran biaya sejumlah Rp 499 912 030,- yang merupakan
peningkatan biaya produksi minimal seiring dengan peningkatan produksi gula. Sedangkan pada
prioritas ketiga, yaitu nilai minimal hasil penampungan penyimpangan terhadap sasaran-sasaran lain
yang tidak dikehendaki adalah 631 082 224. | |