| dc.contributor.advisor | Budiman, Arief | |
| dc.contributor.advisor | Kana, Nico L. | |
| dc.contributor.advisor | Tjondronegoro, Sediono M.P. | |
| dc.contributor.author | Sulasmono, Bambang Suteng | |
| dc.date.accessioned | 2010-05-14T01:49:02Z | |
| dc.date.available | 2010-05-14T01:49:02Z | |
| dc.date.issued | 1994 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/21424 | |
| dc.description.abstract | Gagasan pokok penelitian ini adalah tentang respons berbagai kelas dan kelompok sosial terhadap pembangunan industri besar beserta akibat iringannya di pedesaan. Berdasarkan gagasan pokok tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi respons-respons masyarakat desa terhadap beberapa aspek pembangunan industri besar, dan akibat-akibat iringannya, di pedesaan.
Penelitian ini dilakukan di Desa Hardjosari, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, yang dipilih berdasarkan adanya industri besar ber"daya sentuh" tinggi dengan masyarakat sekitar di desa tersebut. Penelitian lebih difokuskan ke dua dusun di Desa Hardjosari, yaitu Dusun Glodogan (GLD) dan Dusun Merakmati Lor (MML). Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif dan dianalisis secara kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Hardjosari sedang mengalami proses menjadi desa kota. Alih fungsi lahan pertanian menjadi lokasi pabrik semakin mendorong penduduk setempat untuk bekerja di sektor-sektor non tani. Walaupun demikian pelapisan sosial masyarakat masih didasarkan pada penguasaan lahan pertanian yang kemudian dikombinasikan dengan pemilikan asset ekonomi lainnya. Mayoritas penduduk Desa Hardjosari beragama Islam, namun hampir dua per tiganya termasuk kategori Abangan. Hampir sepertiga penduduk lainnya beragama Katholik. Di Hardjosari lebih dari separoh jabatan politik formal/pemerintahan desa diduduki oleh warga Katholik.
Pembangunan industri tekstil di Desa Hardjosari melahirkan kontak politik antara sebagian elit formal desa dengan pihak pabrik, yaitu dalam hal perijinan tingkat desa dan penentuan lokasi pabrik. Di samping itu proses pembebasan tanah juga melibatkan Kepala Desa dan Camat setempat selaku perantara tunggal. Pembangunan industri tersebut telah melahirkan sejumlah peluang kerja dan peluang usaha. Tetapi pembangunan itu juga menimbulkan masalah polusi dan sejumlah masalah sosial bagi penduduk setempat. | |
| dc.publisher | IPB (Bogor Agricultural University) | |
| dc.title | Respons Masyarakat Desa Terhadap Pembangunan Industri Besar Kasus Desa Hardjosari, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah | id |