Identifikasi Spesies dan Status Stok Ikan Layang (Decapterus spp) di WPPNRI 573, yang Berbasis di PPN Prigi
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Ramadia, Ninda
Taurusman, Am Azbas
Wiryawan, Budy
Abdullah, Asadatun
Metadata
Show full item recordAbstract
Perikanan ikan layang (Decapterus spp) merupakan salah satu sumber daya
pelagis kecil yang memiliki nilai ekonomi penting dan mendominasi hasil
tangkapan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi,
WPPNRI 573. Tingginya intensitas penangkapan, potensi kesalahan identifikasi
spesies, serta keterbatasan informasi mengenai ukuran layak tangkap dan status
pemanfaatan sumber daya ikan menyebabkan ketidakpastian dalam pengelolaan
perikanan. Permasalahan identifikasi spesies ditemukan dalam data statistik PPN
Prigi, yang menunjukkan bahwa layang biru (Decapterus macarellus) tercatat
sebagai ikan layang benggol (Decapterus russelli). Kondisi tersebut diduga
berkaitan dengan kemiripan karakter morfologi kedua spesies dan berpotensi
menyebabkan ketidakakuratan dalam pencatatan produksi serta informasi status
stok sumber daya ikan layang. Penelitian ini bertujuan: mendeskripsikan unit
penangkapan ikan layang yang berbasis di PPN Prigi; mengidentifikasi spesies ikan
layang dengan menggunakan pendekatan morfologi, morfometri, dan DNA
barcoding; serta mengevaluasi status pemanfaatan sumber daya ikan layang
berdasarkan parameter Catch Per Unit Effort (CPUE) dan Length-Based Spawning
Potential Ratio (LB-SPR).
Penelitian dilaksanakan di PPN Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
Pengambilan data biologis dilakukan pada bulan Agustus–Oktober 2025,
sedangkan pengumpulan data unit penangkapan dilaksanakan pada Desember
2025–Januari 2026. Identifikasi spesies dilakukan terhadap 115 individu layang
anggur (Decapterus kurroides) dan 105 individu layang biru (Decapterus
macarellus) berdasarkan karakter morfologi dan morfometri. Konfirmasi molekuler
dilakukan menggunakan DNA barcoding gen Cytochrome c Oxidase Subunit I
(COI) terhadap 15 individu masing-masing spesies. Evaluasi status pemanfaatan
dilakukan berdasarkan data panjang cagak dari 2.584 individu ikan layang anggur
dan 4.365 individu ikan layang biru. Analisis LB-SPR menggunakan nilai Lm yang
diperoleh dari observasi Tingkat Kematangan Gonad (TKG) di lapangan sebagai
parameter biologis utama untuk merepresentasikan kondisi biologis populasi lokal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit penangkapan ikan layang yang
berbasis di PPN Prigi didominasi oleh purse seine <30 GT, purse seine =30 GT,
dan pancing ulur dengan karakteristik operasi yang berbeda. Identifikasi morfologi
dan morfometri membedakan kedua spesies berdasarkan karakter linea lateralis,
bentuk mulut, scute, dan karakter morfometrik. DNA barcoding menunjukkan
kemiripan sekuens sebesar 98–100% terhadap referensi GenBank dan analisis
filogenetik mengelompokkan sampel ke dalam klad D. kurroides dan D. macarellus.
Hasil tersebut mengonfirmasi bahwa ikan yang sebelumnya diidentifikasi sebagai
D. russelli merupakan D. macarellus, sehingga integrasi pendekatan morfologi,
morfometri, dan DNA barcoding dapat meningkatkan akurasi identifikasi spesies
ikan layang dalam data perikanan di PPN Prigi.
Hasil analisis CPUE menunjukkan fluktuasi produktivitas penangkapan
selama 2019–2025, seperti peningkatan CPUE pada 2023 terutama disebabkan oleh
kenaikan hasil tangkapan yang jauh lebih besar dibandingkan peningkatan upaya
penangkapan, yang menunjukkan peningkatan produktivitas penangkapan. Analisis
biologis menunjukkan distribusi hasil tangkapan didominasi oleh ikan berukuran
18–22 cm dan hubungan panjang–berat menunjukkan pola pertumbuhan alometrik
negatif dengan nilai koefisien b sebesar 2,75 pada layang anggur dan 2,80 pada
layang biru. Nilai Lm masing-masing sebesar 21,28 cm pada layang anggur dan
22,83 cm pada layang biru, sedangkan Lc pada kedua spesies lebih kecil daripada
Lm, yang menunjukkan bahwa sebagian ikan layang biru dan layang anggur
tertangkap sebelum mencapai kematangan gonad.
Analisis LB-SPR menunjukkan bahwa layang anggur (Decapterus
kurroides) memiliki nilai SPR sebesar 27% dengan tingkat eksploitasi (E) sebesar
0,42 sehingga tergolong fully exploited, sedangkan layang biru (Decapterus
macarellus) memiliki nilai SPR sebesar 5% dengan tingkat eksploitasi (E) sebesar
0,80 sehingga tergolong overexploited. Hasil penelitian ini memberikan dasar
ilmiah bagi pengelolaan ikan layang berdasarkan spesies dan ukuran tangkapan di
PPN Prigi. Pengelolaan perlu diarahkan pada peningkatan akurasi identifikasi
spesies dalam statistik perikanan, penerapan ukuran minimum layak tangkap
berdasarkan nilai Lm yang diperoleh dari kondisi biologis lokal, peningkatan
selektivitas alat tangkap, serta pemantauan status pemanfaatan menggunakan
CPUE dan LB-SPR untuk mendukung keberlanjutan sumber daya ikan layang di
WPPNRI 573.
Kata kunci: DNA barcoding, ikan layang, LB-SPR, PPN Prigi, status stok
Collections
- MF - Fisheries [3363]

