| dc.description.abstract | Undernutrition (kekurangan gizi) pada balita masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, dengan prevalensi underweight, stunting, dan wasting masing-masing sebesar 31,7%, 25,7%, dan 21,0%. Masalah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu karakteristik sosial ekonomi dan demografi, kerawanan pangan, praktik pemberian makan non responsif dan tingkat kecukupan asupan yang tidak sesuai dengan kebutuhan balita. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gender dalam kaitannya dengan karakteristik sosial ekonomi dan demografi, ketahanan pangan rumah tangga, praktik pemberian makan, asupan gizi, dan status gizi balita, serta mengeksplorasi norma lokal yang memengaruhi peran gender pada rumah tangga penerima dan non-penerima Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lembata. Penelitian ini menggunakan desain mixed methods dengan pendekatan explanatory sequential yang melibatkan 160 balita, terdiri atas 80 balita penerima MBG dan 80 balita non-penerima MBG. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Poltekkes Kemenkes Kupang (Nomor Persetujuan Etik: LB.02.03/1/0001/2026).
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi karakteristik sosial ekonomi dan demografi keluarga, peran gender dalam rumah tangga, ketahanan pangan rumah tangga, praktik pemberian makan kepada balita, asupan zat gizi, serta status gizi balita pada kelompok penerima dan non-penerima Program MBG. Data kuantitatif dianalisis melalui uji perbedaan untuk membandingkan karakteristik dan variabel penelitian antara kedua kelompok, uji hubungan untuk mengidentifikasi keterkaitan antarvariabel, serta analisis regresi logistik untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita. Sementara itu, data kualitatif dianalisis secara tematik untuk menggali lebih dalam pembagian peran gender dalam rumah tangga serta memahami norma sosial dan budaya lokal yang memengaruhi keterlibatan ayah dan ibu dalam pengasuhan, pengelolaan pangan, dan pemenuhan kebutuhan gizi balita.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita pada kelompok penerima MBG memiliki proporsi praktik pemberian makan responsif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok non-penerima MBG, demikian pula dengan proporsi balita yang memiliki tingkat kecukupan asupan protein, zat besi, dan vitamin C yang lebih tinggi, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik (p<0,05). Namun, hasil analisis tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam karakteristik sosial ekonomi dan demografi, peran gender, ketahanan pangan rumah tangga, dan status gizi balita. Tidak ditemukan pula perbedaan yang signifikan pada tingkat kecukupan asupan energi, lemak, karbohidrat, kalsium, seng, dan vitamin A antara kelompok penerima dan non-penerima MBG (p>0,05). Pada kelompok penerima MBG, kerawanan pangan
rumah tangga ditemukan berhubungan signifikan dengan tingkat kecukupan asupan lemak yang lebih rendah (p<0,05).
Pendidikan ayah (AOR=0,374; 95% CI: 0,173–0,808; p =0,012) dan tingkat kecukupan protein (AOR=0,982; 95% CI: 0,971–0,994; p=0,002) berhubungan signifikan dengan status gizi balita pada seluruh responden, sedangkan peran gender tidak berhubungan signifikan dengan status gizi balita. Hasil analisis tematik data kualitatif mengidentifikasi dua tema utama, yaitu pembagian peran gender yang saling melengkapi secara situasional dan pengaruh norma lokal. Ibu lebih dominan dalam pengasuhan dan pengelolaan pangan, sedangkan ayah lebih dominan sebagai pencari nafkah. Pengambilan keputusan dilakukan bersama pada sebagian keluarga, sedangkan pada keluarga lainnya lebih didominasi oleh ayah. Keterlibatan kedua orang tua penting dalam mendukung pemenuhan pangan dan gizi balita, dengan penguatan peran yang mempertimbangkan kondisi keluarga serta norma sosial dan budaya di Kabupaten Lembata. | |