Analisis Pengelolaan Rumpon sebagai Alat Bantu Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan di Indonesia
Abstract
Penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan dapat mendukung
efisiensi dan produktivitas penangkapan dalam konteks tertentu, tetapi
penggunaannya juga berkaitan dengan risiko ekologis dan kebutuhan pengaturan
yang lebih operasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis isu teknis, ekonomi,
dan ekologi penggunaan rumpon; mengidentifikasi kesenjangan antara pengaturan
rumpon di Indonesia dan standar regional/global yang relevan; serta menyusun
rekomendasi penguatan pengaturan rumpon. Penelitian menggunakan pendekatan
kualitatif yang mengintegrasikan systematic literature review (SLR) terbatas,
analisis dokumen kebijakan dan regulasi, serta wawancara informan kunci sebagai
konfirmasi kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa desain dan material
rumpon bervariasi menurut jenis rumpon dan konteks perikanan. Sejumlah
literatur menunjukkan manfaat ekonomi berupa peningkatan produktivitas,
efisiensi, atau pendapatan pada konteks tertentu. Literatur ekologi menunjukkan
risiko bycatch, ghost fishing, marine litter, beaching, serta perubahan tingkah laku
ikan. Analisis pengaturan menunjukkan bahwa PERMEN-KP No. 36 Tahun 2023
telah menyediakan dasar hukum penting, tetapi beberapa aspek operasional masih
perlu diperkuat dengan menggunakan IOTC Resolution 24/02 dan WCPFC CMM
2025-02 sebagai bahan perbandingan. Lima substansi rekomendasi meliputi
penguatan desain non-entangling, transisi material biodegradable secara bertahap,
pengintegrasian FAD Management Plan dalam perizinan, penguatan penandaan,
pelacakan, pelaporan dan FAD retrieval, serta pembatasan temporal atau spasial
berdasarkan data. Fish aggregating devices (FADs) can improve efficiency and fishing
productivity in specific contexts, but their use is also associated with ecological
risks and required more operational management arrangements. This study aims to
analyze the technical, economic, and ecological issues associated with FAD use;
identify gaps between Indonesian FAD regulations and relevant regional/global
standards; and formulate recommendations to strengthening FAD management.
The study applies qualitative approach integrating limited systematic literature
review (SLR), policy and regulatory document analysis, and key-informant
interviews as contextual confirmation. Result shows that FAD designs and
materials vary according to FAD type and fishery context. Several studies report
economic benefits in terms of fishing productivity, efficiency, or income in
specific context. Ecological studies indicate risks related to bycatch, ghost fishing,
marine litter, beaching, and changes in fish behavior. Regulatory analysis shows
that Ministerial Regulation No. 36/2023 provides important legal basis for FAD
management in Indonesia, while several operational aspects still require
strengthening, using IOTC Resolution 24/02 and WCPFC CMM 2025-02 as
comparative references. Five recommendations includes strengthening non
entangling design requirements, implementing a phased transition toward
biodegradable materials, integrating a FAD Management Plan into licensing,
strengthening marking, tracking, reporting and FAD retrieval, and applying data
based temporal or spatial restrictions.

