Pendugaan Parameter Genetik Pertumbuhan dan Kualitas Kayu Jabon Merah (Neolamarckia macrophylla (Roxb.) Bosser).
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Qolbi, Ruhul Hazuma Satya
Siregar, Iskandar Zulkarnaen
Sudrajat, Dede J.
Metadata
Show full item recordAbstract
Jabon merah (Neolamarckia macrophylla (Roxb.) Bosser) merupakan jenis
cepat tumbuh endemik Indonesia yang berpotensi untuk pengembangan hutan
tanaman, namun benih unggul hasil pemuliaan belum tersedia. Uji keturunan
diperlukan untuk menduga parameter genetik pertumbuhan dan kualitas kayu
sebagai dasar seleksi famili unggul.
Penelitian ini bertujuan menduga parameter genetik pertumbuhan dan
kualitas kayu, destruktif maupun nondestruktif, serta menganalisis strategi seleksi
untuk konversi tegakan menjadi kebun benih semai. Uji keturunan di Kawasan
Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Parungpanjang yang dibangun tahun
2017 menggunakan rancangan acak lengkap berblok dengan 6 blok, 10 provenansi,
dan 72 famili. Parameter yang diukur meliputi diameter, tinggi, volume, penetrasi
Pilodyn, kadar air, kerapatan, berat jenis, kecepatan ultrasonik, dan MOEd. Data
dianalisis melalui analisis ragam, pendugaan komponen ragam, heritabilitas,
korelasi rerata famili dan fenotipe, serta kemajuan dan perolehan genetik.
Tegakan berumur delapan tahun dengan tingkat hidup 46%. Rata-rata
diameter 18,56 cm, tinggi 12,55 m, penetrasi Pilodyn 29,59 mm, kerapatan kayu
0,726 g cm-3, berat jenis 0,423, kadar air 72,2%, kecepatan ultrasonik 3.417 m s-1,
dan MOEd 8,521 GPa. Faktor blok berpengaruh sangat nyata pada hampir seluruh
karakter, sedangkan faktor famili di dalam provenansi hanya nyata pada kerapatan
kayu ketika diuji terhadap kuadrat tengah interaksi blok × famili. Meskipun asal
materi mencakup wilayah monsunal dan anti-monsunal, provenansi menyumbang
paling kecil terhadap ragam total (0,03–1,55%), sementara interaksi blok × famili
menyumbang 3,3–33,1%. Heritabilitas individu berkisar 0,044–0,313 dan
heritabilitas famili 0,090–0,390, tertinggi pada kerapatan kayu (0,313 dan 0,390);
nilai mutlak digunakan bagi komponen ragam famili yang bernilai negatif. Korelasi
rerata famili nyata dan positif antara kerapatan kayu dengan berat jenis (0,822) dan
MOEd (0,494), sedangkan diameter tidak berkorelasi nyata dengan MOEd (0,079)
maupun kecepatan ultrasonik (-0,019) sehingga tidak ditemukan pola pertukaran
sifat antara pertumbuhan dan kualitas mekanik kayu. Perolehan genetik seleksi
famili berkisar 0,59–11,22% pada intensitas 5% dan 0,40–7,61% pada intensitas
20%, dengan kerapatan kayu 3,69% dan 2,50%. Kerapatan kayu juga berkaitan
dengan ketahanan terhadap rayap dan keamanan hidraulik saat kekeringan sehingga
seleksi pada sifat ini memberi manfaat ganda. Seleksi famili berbasis kerapatan
kayu pada intensitas sekitar 20% direkomendasikan sebagai dasar konversi menjadi
kebun benih semai, dengan penetrasi Pilodyn sebagai penyaring awal.
Collections
- MF - Forestry [1608]

