Respon Pertumbuhan Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) terhadap Naungan Agrivoltaik (Suryatani) dan Agroforestri (Wanatani)
Date
2026Jenis/Type
SkripsiSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
Hafiz, Muhammad
Siregar, Iskandar Zulkarnaen
Trisasongko, Bambang Hendro
Metadata
Show full item recordAbstract
Sistem agrivoltaik dan agroforestri merupakan pendekatan inovatif untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan meningkatkan produksi pertanian. Namun, penelitian yang membandingkan pengaruh kedua sistem naungan tersebut terhadap pertumbuhan lengkuas merah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan dan produksi biomassa lengkuas merah pada berbagai kondisi naungan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan satu faktor, yaitu dosis pemupukan (P), sedangkan naungan digunakan sebagai blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan tanpa naungan menciptakan iklim mikro yang ekstrem, sedangkan sistem agroforestri menghasilkan naungan yang terlalu rapat sehingga meningkatkan kompetisi hara dan air. Sebaliknya, sistem agrivoltaik mampu menciptakan iklim mikro yang lebih stabil dengan intensitas cahaya 13.029-88.882 lux, suhu udara 26-36°C, dan kelembapan tanah hingga 65%. Kombinasi sistem agrivoltaik dengan dosis pupuk tertinggi (P3 sebesar 20 g/m²) memberikan hasil terbaik dengan rataan tinggi tanaman 43,2 cm, diameter batang 8,2 mm, biomassa rimpang 2,1 kg/m², dan biomassa batang 2,0 kg/m². Agrivoltaic and agroforestry systems are innovative approaches to optimizing land use and improving agricultural production. However, studies comparing the effects of these two shading systems on the growth of red galangal remain limited. This study aimed to analyze the growth and biomass production of red galangal under different shading conditions. The experiment was conducted using a Randomized Complete Block Design (RCBD) with one factor, namely fertilizer dosage (P), while shading conditions were used as blocks. The results showed that open-field conditions created an extreme microclimate that induced environmental stress, whereas the agroforestry system produced excessive shading, resulting in greater competition for nutrients and water. In contrast, the agrivoltaic system created a more stable microclimate, with light intensity ranging from 13.029 to 88,882 lux, air temperatures of 26–36°C, and soil moisture reaching up to 65%. The combination of the agrivoltaic system and the highest fertilizer dosage (P3, 20 g/m²) produced the best results, with a mean plant height of 43.2 cm, a mean stem diameter of 8.2 mm, a mean rhizome biomass of 2.1 kg/m², and a mean stem biomass of 2.0 kg/m².
Collections
- UF - Silviculture [1535]

