| dc.description.abstract | Abandoned, Lost, or Otherwise Discarded Fishing Gear (ALDFG) atau ghost gear dan End-of-Life Fishing Gear (EOLFG) merupakan ancaman serius bagi ekosistem laut dan keberlanjutan perikanan. Jaring insang adalah alat tangkap ikan dengan resiko dan kontribusi ghost gear paling tinggi di dunia. Urgensi pengelolaan ghost gear dan EOLFG menjadi krusial, terutama di wilayah seperti Pelabuhan Perikanan Cikidang, Pangandaran, dengan jaring insang menjadi alat tangkap yang dominan. Minimnya data kuantitatif ghost gear dan EOLFG mempersulit evaluasi dampak yang ditimbulkan, serta penyusunan kebijakan pengelolaan terkait ghost gear dan EOLFG. Penelitian bertujuan untuk mengestimasi potensi ghost gear dan EOLFG, mengidentifikasi faktor penyebab utama dan praktik mitigasi serta menyusun rekomendasi pengelolaan ghost gear dan EOLFG. Data diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara terstruktur terhadap 90 nelayan jaring insang di Pelabuhan Perikana (PP) Cikidang, dengan analisis kuantitatif menggunakan Confidence Interval (CI) untuk memperkirakan kisaran ghost gear dan menghitung tingkat EOLFG. Pendekatan Fault Tree Analysis (FTA) digunakan dalam identifikasi faktor penyebab ghost gear dan EOLFG dan gap analysis untuk identifikasi kesenjangan praktik mitigasi. Analisis deskriptif digunakan untuk merumuskan upaya pengelolaan ghost gear dan EOLFG. Hasil estimasi total potensi ghost gear mencapai 16.473 – 19.648 piece/tahun atau sekitar 752.528 – 897.605 m/tahun, dengan kerugian finansial sebesar Rp 8,66 – 10,33 miliar per tahun. Tingkat estimasi EOLFG sebesar 2%, dengan estimasi massa EOLFG per tahun sebesar 1.857,78 kg dan total potensi ekonomi adalah Rp. 4,64 – Rp. 14,68 juta per tahun. Faktor utama penyebab kehilangan meliputi arus laut kuat, tersangkut pada obstruksi seperti terumbu karang, serta cuaca buruk. Hasil fault tree analysis meliputi keterbatasan teknologi dan sumber daya, awak kapal yang kurang terlatih, serta komunikasi antar kapal yang minim, kurangnya sosialisasi aturan, lemahnya pengawasan, dan penegakan hukum yang tidak konsisten, pelampung tanda yang kurang memadai, rendahnya kepedulian nelayan, serta keterbatasan pengetahuan manajemen. Hasil identifikasi terhadap dokumen kebijakan atau regulasi terlihat bahwa sebagian besar regulasi masih berfokus pada pengelolaan umum alat tangkap dan limbah perikanan, belum secara spesifik menyinggung ghost gear dan EOLFG. Rekomendasi untuk mengelola ghost gear dan EOLFG, antara lain sosialisasi, penggunaan teknologi modern, penandaan alat tangkap, perencanaan lokasi penangkapan, peningkatan keterampilan nelayan, penggunaan material berkualitas, pelaporan kehilangan, penyediaan fasilitas pengumpulan, insentif, serta penerapan ekonomi sirkular. | |