| dc.description.abstract | Penelitian ini menganalisis komposisi, pola sebaran spasial, dan asosiasi habitat kepiting bakau (Genus Scylla) pada gradien ekologis mangrove di Desa Gorar dan Desa Tungu, Kabupaten Kepulauan Aru. Pengumpulan data dilaksanakan pada September–November 2024 pada zona depan, tengah, belakang, dan zona laut. Kepiting bakau dikoleksi menggunakan perangkap bubu, sedangkan karakteristik habitat dikaji melalui komposisi dan kerapatan vegetasi mangrove, fraksi substrat, serta parameter kualitas perairan. Sebanyak 155 individu. tercatat selama penelitian, terdiri atas Scylla serrata sebanyak 47 individu (30,3%), Scylla tranquebarica 44 individu (28,4%), Scylla paramamosain 36 individu (23,2%), dan Scylla olivacea 28 individu (18,1%). Desa Gorar didominasi Scylla serrata, sedangkan Desa Tungu didominasi Scylla tranquebarica. Hasil tangkapan relatif tertinggi ditemukan pada zona tengah dan belakang yang pada umumnya memiliki kerapatan mangrove lebih tinggi dibandingkan zona depan. Kerapatan pohon mangrove berkisar 1.187–2.315 individu/ha, berdasarkan kriteria kerapatan pohon, sebagian besar zona termasuk kategori sangat padat dan terutama tersusun oleh Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Rhizophora stylosa. Indeks Morisita menunjukkan variasi pola sebaran antarspesies dan antarlokasi. Scylla serrata memiliki nilai Id < 1 pada kedua stasiun, sedangkan Scylla paramamosain menunjukkan Id > 1 pada kedua stasiun. Scylla olivacea menunjukkan pola yang berbeda antara Gorar dan Tungu. Individu betina secara spasial lebih banyak dijumpai pada zona laut dan sebagian zona depan, sedangkan individu jantan lebih dominan pada zona tengah hingga belakang. Pola tersebut mengindikasikan segregasi pemanfaatan ruang yang kemungkinan berkaitan dengan kebutuhan reproduksi, perlindungan, dan ketersediaan pakan. Substrat pada zona mangrove didominasi fraksi pasir, sedangkan suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut menunjukkan gradien dari bagian dalam mangrove menuju zona laut. Analisis komponen utama yang menghubungkan komposisi mangrove dengan kelompok Scylla menurut jenis kelamin menjelaskan 64,48% keragaman pada dua sumbu pertama dan menunjukkan adanya asosiasi spasial antara kelompok tertentu dari Scylla dengan tegakan Rhizophora, Avicennia, dan Sonneratia. Analisis komponen utama lingkungan menunjukkan bahwa dua sumbu utama (F1 dan F2) menjelaskan 80,745% keragaman data, dengan kontribusi F1 sebesar 49,882% dan F2 sebesar 30,863%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola sebaran genus Scylla. di Kepulauan Aru bersifat spesifik menurut spesies, jenis kelamin, dan posisi zona habitat. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertahankan konektivitas zona mangrove bagian dalam dengan perairan pesisir serta menerapkan pengelolaan penangkapan yang memperhatikan ukuran layak tangkap dan perlindungan betina bertelur.
Kata kunci: asosiasi habitat, Genus Scylla , mangrove, pola sebaran, zonasi pesisir. | |