| dc.description.abstract | ABDUL HALIM SIREGAR. Analisis Keberlanjutan Aspek Biofisik
Ekosistem Mangrove Berbasis Dinamika Tutupan Lahan di Kesatuan
Pemangkuan Hutan Banyumas Barat. Dibimbing oleh DODIK RIDHO
NURROCHMAT dan YUDI SETIAWAN.
Kabupaten Cilacap memiliki kawasan mangrove seluas 6.286,80 hektar
yang berpotensi besar sebagai penyerap karbon dan penyedia jasa ekosistem
pesisir, namun belum tersedia data ilmiah yang komprehensif mengenai
dinamika tutupan lahan dan estimasi stok karbon, sehingga menjadi kendala
utama dalam merumuskan strategi pengelolaan yang efektif dan berbasis bukti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut
melalui: (1) analisis perubahan tutupan lahan mangrove selama periode 2019–
2024, (2) analisis stok karbon mangrove, serta (3) perumusan strategi
pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan di KPH Banyumas Barat.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2025 hingga Mei 2026 di
Kawasan Mangrove KPH Banyumas Barat, Kabupaten Cilacap.
Analisis perubahan tutupan lahan dilakukan dengan pendekatan machine
learning yang mengombinasikan citra Sentinel-2, indeks vegetasi multispektral,
dan klasifikasi Random Forest menggunakan platform Google Earth Engine.
Estimasi stok karbon dilakukan melalui pengukuran lapangan pada 50 titik plot
menggunakan persamaan alometrik spesifik jenis, yang kemudian dimodelkan
secara spasial dengan regresi yang mengintegrasikan dua indeks vegetasi
dengan korelasi tertinggi terhadap stok karbon aktual, yaitu Soil-Adjusted
Vegetation Index (SAVI) dan Inverted Red Edge Chlorophyll Index (iRECI).
Perumusan strategi dilakukan melalui wawancara terstruktur yang melibatkan
38 responden yang terdiri atas masyarakat lokal, nelayan, dan pelaku usaha
(responden internal) serta perwakilan instansi pemerintah, penyuluh kehutanan,
dan pakar konservasi (responden eksternal), yang datanya diolah secara
bertahap menggunakan matriks IFE, EFE, IE, SWOT, dan QSPM.
Dinamika perubahan tutupan lahan menunjukkan penurunan tutupan
mangrove sebesar 533,6 ha selama periode 2019–2024. Terjadi dua fase
perubahan, yaitu pada tahun 2019–2022 luas mangrove menunjukkan tren
peningkatan sebesar 46,4 ha, sementara pada tahun 2022–2024 luasan
mangrove mengalami penurunan tajam mencapai 580,1 ha yang disebabkan
oleh proses alami dan antropogenik, dengan laju kehilangan tertinggi terjadi
pada tahun 2023–2024 sebesar 10,30%/tahun. Kondisi ini berdampak pada
melemahnya fungsi ekologis kawasan, berkurangnya perlindungan pantai dari
abrasi, serta mengancam ketahanan penghidupan masyarakat nelayan pesisir
yang mata pencahariannya bergantung langsung pada produktivitas ekosistem
mangrove. Hasil klasifikasi Random Forest menunjukkan akurasi tinggi
dengan Overall Accuracy 97,82% dan koefisien Kappa 0,9521.
Hasil pengukuran pada 50 titik plot lapangan menunjukkan rata-rata
stok karbon atas permukaan sebesar 24,27 ton C/ha (kisaran 3,00–40,00 ton
C/ha), dengan Rhizophora mucronata memiliki stok karbon rata-rata tertinggi
(27,04 ton C/ha) dan Ceriops tagal terendah (17,70 ton C/ha). Model regresi
SAVI+iRECI yang dikembangkan untuk memetakan stok karbon secara
spasial menunjukkan akurasi yang baik, dengan RMSE 3,79 ton C/ha (RMSE
LOOCV 4,02 ton C/ha) dan MAPE 14,33% terhadap rata-rata stok karbon hasil
pengukuran lapangan. Model tersebut selanjutnya diterapkan pada seluruh
piksel yang terklasifikasi sebagai mangrove untuk menghasilkan peta distribusi
spasial stok karbon kawasan KPH Banyumas Barat.
Perumusan strategi melalui analisis SWOT menghasilkan 12 alternatif
strategi yang terbagi dalam empat kelompok SO, WO, ST, dan WT. Total skor
IFE sebesar 2,60 dan EFE sebesar 2,72 menempatkan posisi strategis KPH
Banyumas Barat pada Kuadran V matriks IE, yakni zona jaga dan pertahankan,
yang mencerminkan kawasan dengan potensi ekologis dan karbon yang
signifikan namun berada dalam tekanan degradasi yang nyata akibat lemahnya
kapasitas data, monitoring, dan penegakan regulasi. Prioritas strategi yang
ditetapkan melalui QSPM menempatkan tiga strategi sebagai yang paling
mendesak, yaitu: (1) optimalisasi skema perdagangan karbon melalui
mekanisme REDD+ berbasis data stok karbon terukur (STAS 3,58), (2)
pengembangan ekowisata mangrove berbasis edukasi dan konservasi (STAS
3,12), serta (3) pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk monitoring dan
evaluasi berkala kondisi mangrove (STAS 2,84). Ketiga strategi ini bersifat
saling melengkapi, di mana strategi monitoring berbasis penginderaan jauh
membangun basis data yang menjadi prasyarat keandalan skema karbon,
sementara pembangunan sistem database dan monitoring terpadu (STAS 2,50)
berperan sebagai fondasi infrastruktur pendukung bagi keberlanjutan
implementasi strategi-strategi prioritas tersebut. Strategi pelengkap meliputi
pengembangan zona penyangga mangrove dan tata ruang pesisir, rehabilitasi
kawasan terdegradasi, penguatan regulasi dan kapasitas kelembagaan,
pengembangan skema pendanaan alternatif melalui Payment for Ecosystem
Services (PES), serta peningkatan kesadaran masyarakat pesisir melalui
pendidikan lingkungan berbasis komunitas. | |
| dc.description.abstract | ABDUL HALIM SIREGAR. Sustainability Analysis Biophysical Aspect of
Mangrove Ecosystems Based on Land Cover Dynamics in Kesatuan
Pemangkuan Hutan Banyumas Barat. Supervised by Dodik Ridho Nurrochmat
and YUDI SETIAWAN
Cilacap Regency has a total of 6,286.80 hectares of mangrove area in
KPH Banyumas Barat, representing considerable potential as a carbon sink and
provider of coastal ecosystem services. However, the absence of
comprehensive scientific data on land cover dynamics and carbon stock
estimation remains a major obstacle to developing effective, evidence-based
management strategies. This study aimed to address this gap through: (1)
analysing mangrove land cover change over the 2019–2024 period, (2)
estimating mangrove carbon stock, and (3) formulating sustainable
management strategies for the mangrove ecosystem in KPH Banyumas Barat.
The study was conducted from January 2025 to May 2026 in the mangrove area
of KPH Banyumas Barat, Cilacap Regency.
Land cover change was analysed using a machine learning approach
that combined Sentinel-2 imagery, multispectral vegetation indices, and
Random Forest classification on the Google Earth Engine platform. Carbon
stock was estimated through field measurements at 50 sample plots using
species-specific allometric equations, which were then used to develop a spatial
regression model based on the two vegetation indices most strongly correlated
with measured carbon stock: the Soil-Adjusted Vegetation Index (SAVI) and
the Inverted Red Edge Chlorophyll Index (iRECI). Management strategies
were formulated through structured interviews with 38 respondents,
comprising internal respondents (local community members, fishermen, and
business actors) and external respondents (government agency representatives,
forestry extension officers, and conservation experts). The data were then
analysed in stages using the IFE, EFE, IE, SWOT, and QSPM matrices.
The land cover analysis showed a net decline of 533.6 ha in mangrove
cover over the 2019–2024 period, occurring in two distinct phases. During
2019–2022, mangrove area expanded by 46.4 ha, whereas during 2022–2024
it declined sharply by 580.1 ha as a result of natural and anthropogenic
processes, with the highest rate of loss recorded in 2023–2024 at 10.30% per
year. This decline has weakened the ecological functions of the area, reduced
coastal protection against abrasion, and threatened the livelihoods of coastal
fishing communities that depend directly on mangrove ecosystem productivity.
The Random Forest classification achieved high accuracy, with an Overall
Accuracy of 97.82% and a Kappa coefficient of 0.9521.
Field measurements at the 50 sample plots yielded a mean above-
ground carbon stock of 24.27 ton C/ha (range: 3.00 - 40.00 ton C/ha), with
Rhizophora mucronata showing the highest mean carbon stock (27.04 ton
C/ha) and Ceriops tagal the lowest (17.70 ton C/ha). The SAVI+iRECI
regression model developed to map carbon stock spatially performed well, with
an RMSE of 3.79 ton C/ha (LOOCV RMSE of 4.02 ton C/ha) and a MAPE of
14.33% relative to the field-measured mean. The model was then applied to all
pixels classified as mangrove to produce a spatial distribution map of carbon
stock for the KPH Banyumas Barat area.
The SWOT analysis produced 12 alternative strategies grouped into
four categories: SO, WO, ST, and WT. With an IFE score of 2.60 and an EFE
score of 2.72, KPH Banyumas Barat was placed in Quadrant V of the IE matrix
the hold-and-maintain zone reflecting an area with significant ecological and
carbon potential that nonetheless faces ongoing degradation pressure due to
weak data capacity, limited monitoring, and inadequate regulatory enforcement.
The QSPM ranked three strategies as the highest priority: (1) optimising carbon
trading schemes through the REDD+ mechanism, underpinned by measured
carbon stock data (STAS 3.58); (2) developing education- and conservation-
based mangrove ecotourism (STAS 3.12); and (3) leveraging remote sensing
technology for periodic monitoring and evaluation of mangrove condition
(STAS 2.84). These three strategies are mutually reinforcing: the remote
sensing monitoring strategy builds the data foundation required to substantiate
the carbon trading scheme, while the development of an integrated database
and monitoring system (STAS 2.50) provides the infrastructural basis needed
to sustain the implementation of these priority strategies over the long term.
Complementary strategies include developing mangrove buffer zones and
coastal spatial planning, rehabilitating degraded areas, strengthening
regulations and institutional capacity, developing alternative financing
mechanisms through Payment for Ecosystem Services (PES), and raising
coastal community awareness through community-based environmental
education. | |