| dc.description.abstract | Ikan botia (Chromobotia macracanthus) merupakan ikan hias air tawar asli Sumatera dan Kalimantan yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena pola warna yang khas dan perilaku berenang yang unik. Namun, budidayanya masih belum optimal sehingga produksi masih bergantung pada hasil tangkapan alam. Oleh karena itu, penelitian ini menerapkan Statistical Process Control (SPC) untuk memantau variasi proses produksi dan mengidentifikasi penyimpangan, yang selanjutnya dianalisis menggunakan diagram fish bone guna menentukan akar penyebabnya. Pendekatan ini masih jarang diterapkan pada budidaya ikan hias, sehingga penelitian bertujuan menganalisis pengendalian proses produksi, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta menyusun strategi pengembangan budidaya ikan botia.
Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan studi kasus di Saenamina Fish Farm (SFF) dengan penyajian data berupa deskriptif kuantitatif. Studi kasus dilakukan melalui beberapa metode yaitu observasi lapangan, wawancara, serta mengikuti kegiatan budidaya yang berjalan untuk mengumpulkan data dan informasi di lapangan. Parameter yang diuji dalam penelitian ini diantaranya kualitas air, kinerja produksi (fekunditas, derajat pembuahan dan penetasan, serta tingkat kelangsungan hidup), analisis pengendalian, serta kinerja usaha (analisis profitabilitas, kriteria investasi, dan sensitivitas) yang dilengkapi dengan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat).
Kondisi aktual budidaya ikan botia di Saenamina Fish Farm (SFF) meliputi aspek input, proses, dan output produksi. Alur budidaya terdiri atas pemijahan induk, pemeliharaan larva, panen ukuran 1,8–2 cm dan 4–4,5 cm, serta pemasaran. SFF memiliki 171 ekor induk yang berasal dari Kalimantan dan Sumatra, kemudian diaklimatisasi selama 10 hari. Selama aklimatisasi, induk diberi pakan secara ad libitum berupa kerang, kijing, cacing darah, cacing tanah, dan pelet sebanyak dua kali sehari (08.00 dan 17.00 WIB). Manajemen kualitas air dilakukan melalui penyifonan dua kali sehari serta pemantauan suhu, pH, dan oksigen terlarut.
Pemijahan menggunakan rasio induk betina:jantan 2:1 dengan bobot induk 102–135 g. Induk disuntik hormon hCG dosis 0,3 mL kg?¹, kemudian 12 jam setelahnya diberikan Ovaprim dengan dosis 0,8 mL kg?¹ pada betina dan 0,5 mL kg?¹ pada jantan. Stripping dilakukan 18–24 jam setelah penyuntikan, diikuti fertilisasi dan penetasan telur dalam waktu 18–24 jam. Larva selanjutnya dipelihara pada tahap pendederan dan pembesaran menggunakan pakan artemia dan cacing sutra. Produk yang dihasilkan diklasifikasikan menjadi normal, bar unik, short body, king short body, dan reject.
Pada kondisi aktual di Saenamina Fish Farm (SFF), nilai fekunditas, derajat pembuahan, dan derajat penetasan ikan botia masing-masing mencapai 7.220 butir, 87,4%, dan 83,6%. Hasil Statistical Process Control (SPC) menunjukkan bahwa parameter kinerja produksi berada dalam batas kendali statistik, sedangkan pada
v
parameter kualitas air masih ditemukan penyimpangan akibat fluktuasi suhu dan pH. Analisis kinerja usaha menunjukkan bahwa kondisi pengembangan memberikan peningkatan profitabilitas dan dinyatakan layak secara finansial berdasarkan analisis kriteria investasi selama umur bisnis 20 tahun. Analisis sensitivitas mengidentifikasi bahwa tingkat kelangsungan hidup benih, fekunditas, dan harga jual ikan botia ukuran 4–4,5 cm merupakan faktor yang paling menentukan kelayakan usaha. Pada kondisi pengembangan, usaha tetap layak apabila tingkat kelangsungan hidup benih >43,61%, fekunditas >4.344 butir, dan harga jual >Rp4.067 per ekor. Berdasarkan analisis SWOT, strategi pengembangan diarahkan pada peningkatan stabilitas proses produksi dan kapasitas usaha, dengan kualitas air sebagai faktor utama yang memengaruhi kestabilan produksi. | |