Analisis Keberlanjutan Sistem Pertanian Padi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah
View/ Open
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Prasetyo, Gecci Dwi
Mulatsih, Sri
Triwidodo, Hermanu
Metadata
Show full item recordAbstract
Padi merupakan komoditas pangan strategis yang menopang ketahanan pangan serta kesejahteraan rumah tangga petani di Indonesia. Sistem pertanian padi di Indonesia meliputi tiga kategori, yaitu konvensional, semi-organik, dan organik, yang masing-masing memiliki karakteristik teknologi, dampak lingkungan, dan faktor pendorong adopsi yang berbeda. Sistem konvensional yang mengandalkan input kimia sintetis tinggi masih mendominasi praktik petani, meskipun berisiko menurunkan kualitas lingkungan dalam jangka panjang. Di sisi lain, sistem semi-organik dan organik berkembang sebagai alternatif budidaya yang lebih berkelanjutan, tetapi adopsinya masih terbatas akibat kendala permodalan, akses pasar, dan dukungan kelembagaan. Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menjadi salah satu sentra produksi padi yang relevan untuk dikaji karena memiliki keragaman ketiga sistem pertanian padi tersebut, sehingga penilaian keberlanjutan secara multidimensi diperlukan untuk memahami kondisi aktual serta faktor yang mendorong petani memilih salah satu sistem dibandingkan sistem lainnya.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat keberlanjutan ketiga sistem pertanian padi tersebut di Kabupaten Boyolali dengan meninjau lima dimensi, yaitu lingkungan, ekonomi, sosial, teknologi, serta kelembagaan dan kebijakan. Penelitian ini juga menganalisis faktor-faktor penentu yang memengaruhi pilihan petani terhadap sistem pertanian dengan menggunakan regresi logistik multinomial. Indeks keberlanjutan dihitung menggunakan metode Multidimensional Scaling (MDS) melalui pendekatan Rapid Appraisal for Rice Cultivation Sustainability (RAP-RICE) dan divalidasi melalui simulasi Monte Carlo dengan perangkat lunak Rapfish. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Boyolali pada bulan Februari hingga April 2026, melibatkan 59 petani dan 23 informan kunci dari rantai pasok padi yang dipilih melalui teknik purposive sampling dan snowball sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pertanian padi organik memiliki tingkat keberlanjutan sebesar 57,84 (kategori cukup berkelanjutan), sedangkan sistem semi-organik dan konvensional masing-masing memperoleh nilai 44,99 dan 41,26 (kategori kurang berkelanjutan). Pola ini konsisten pada hampir seluruh dimensi, yaitu status keberlanjutan meningkat secara progresif dari sistem konvensional menuju semi-organik dan mencapai nilai tertinggi pada sistem organik.
Atribut pengungkit (leverage attributes) yang paling sensitif memengaruhi keberlanjutan bersifat spesifik pada setiap dimensi. Pada dimensi lingkungan dan teknologi, sistem konvensional dan semi-organik lebih dipengaruhi oleh intensitas penggunaan pupuk dan pestisida sintetis, sedangkan sistem organik lebih dipengaruhi oleh pengelolaan irigasi dan pola tanam kelompok. Pada dimensi ekonomi, atribut jangkauan pasar dan saluran pemasaran konsisten menjadi pengungkit utama pada sistem konvensional dan semi-organik, sedangkan nilai tambah produk menjadi pengungkit utama pada sistem organik. Pada dimensi kelembagaan, atribut program subsidi/insentif dan keberadaan penyuluh pertanian menjadi pengungkit utama pada hampir seluruh sistem pertanian.
Jangkauan pasar sebagai faktor penentu paling signifikan dalam adopsi sistem pertanian padi organik. Petani dengan jangkauan pasar sempit memiliki peluang 99,6% lebih rendah untuk memilih sistem organik dibandingkan konvensional. Selain itu, semakin lama pengalaman bertani dapat menurunkan probabilitas petani dalam memilih sistem pertanian semi-organik. Hal ini menunjukkan bahwa, setiap penambahan satu tahun lama berusaha tani maka peluang petani memilih sistem pertanian semi-organik menjadi 0,064 kali lebih kecil. Sementara itu, keberadaan dan peran penyuluh pertanian tidak berpengaruh nyata secara statistik terhadap pilihan sistem pertanian padi semi-organik maupun organik.

