Dinamika Tutupan Lahan Hutan Mangrove dan Strategi untuk Mendukung Forest City di Ibu Kota Nusantara
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Lukmana, Irman
Kusmana, Cecep
Rusdiana, Omo
Metadata
Show full item recordAbstract
Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia dengan luas mencapai 3.440.464 ha berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2024. Ekosistem mangrove berperan penting sebagai penyerap karbon biru (blue carbon), pelindung wilayah pesisir dari abrasi dan intrusi air laut, habitat berbagai jenis flora dan fauna, serta penunjang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Keberadaan ekosistem mangrove terus mengalami tekanan akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman, industri, tambak, dan perkebunan yang menyebabkan penurunan kualitas maupun kuantitas mangrove. Tidak terkecuali kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sedang berkembang sebagai pusat pemerintahan baru dengan konsep forest city. Kondisi ini menuntut adanya pengelolaan mangrove yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan sehingga diperlukan informasi mengenai dinamika perubahan tutupan mangrove serta strategi pengelolaan yang efektif untuk mendukung implementasi konsep forest city.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dinamika perubahan luasan dan tingkat kerusakan hutan mangrove di kawasan IKN serta memformulasikan strategi pengelolaan yang mampu mendukung kontribusi mangrove dalam mewujudkan konsep forest city. Penelitian dilaksanakan melalui dua tahapan. Tahap pertama menggunakan analisis penginderaan jauh menggunakan pendekatan Automatic Mangrove Map and Index (AMMI) dengan memanfaatkan indeks vegetasi untuk mengidentifikasi perubahan luasan, tingkat kerapatan, dan perubahan tutupan lahan mangrove secara multitemporal. Tahap kedua menggunakan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT) yang dipadukan dengan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) untuk merumuskan alternatif strategi serta menentukan prioritas pengelolaan mangrove berdasarkan faktor internal dan eksternal yang memengaruhi keberlanjutan ekosistem.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa luasan hutan mangrove di kawasan IKN mengalami penurunan dari 12.818,93 ha pada tahun 2005 menjadi 9.597,98 ha pada tahun 2024 atau berkurang sebesar 25,13%. Sebagian besar kawasan masih didominasi oleh mangrove dengan tingkat kerapatan sangat padat, meskipun luas kelas tersebut mengalami penurunan sebesar 1.862,31 ha selama periode 2020–2024. Perubahan tutupan lahan terjadi menjadi badan air, area pertanian atau perkebunan, kawasan terbangun, dan lahan terbuka, walaupun vegetasi mangrove masih mendominasi sebesar 92,04% dari total kawasan. Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan di kawasan IKN telah memberikan tekanan terhadap ekosistem mangrove, namun sebagian besar kawasan masih mampu mempertahankan tutupan vegetasi yang relatif tinggi.
Analisis SWOT dan QSPM menghasilkan tiga strategi prioritas dalam pengelolaan mangrove di kawasan IKN. Strategi dengan prioritas tertinggi adalah penguatan perlindungan dan zonasi mangrove dengan nilai Total Attractiveness Score (TAS) sebesar 6,624, diikuti oleh restorasi dan rehabilitasi mangrove dengan nilai TAS sebesar 6,445, serta penguatan sistem monitoring berbasis teknologi dengan nilai TAS sebesar 5,764. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan mangrove tidak hanya bergantung pada upaya rehabilitasi, tetapi juga memerlukan perlindungan kawasan yang kuat, penataan ruang yang berorientasi pada konservasi, serta sistem pemantauan yang mampu mendeteksi perubahan ekosistem secara berkelanjutan.
Implikasi penelitian ini adalah tersedianya informasi ilmiah mengenai dinamika perubahan tutupan hutan mangrove di kawasan IKN beserta strategi prioritas pengelolaannya yang dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan konservasi, rehabilitasi, dan pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan. Penerapan strategi tersebut diharapkan mampu mempertahankan fungsi ekologis mangrove, meningkatkan ketahanan ekosistem pesisir, serta memperkuat kontribusi mangrove dalam mendukung terwujudnya Ibu Kota Nusantara sebagai forest city.

