| dc.description.abstract | World Health Organization mendefinisikan remaja sebagai individu berusia 10–19 tahun. Masalah gizi pada remaja merupakan isu kesehatan masyarakat yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup, pertumbuhan fisik, dan kecerdasan manusia. Di Indonesia, permasalahan gizi remaja menunjukkan kompleksitas tinggi dengan munculnya Triple Burden of Malnutrition yaitu kekurangan gizi, kelebihan berat badan/obesitas, dan defisiensi mikronutrien seperti anemia. Data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa pada remaja usia 16–18 tahun masih ditemukan kasus stunting, kurus, gemuk, dan obesitas. Remaja sebagian besar memiliki status gizi normal, namun permasalahan gizi kurang dan gizi lebih tetap menjadi tantangan. Kondisi ini dipengaruhi oleh kemiskinan, pola konsumsi tidak sehat, dan rendahnya aktivitas fisik. Penilaian status gizi remaja relatif kompleks karena dipengaruhi oleh pertumbuhan dan komposisi tubuh. Selain itu, status gizi dipengaruhi oleh pengetahuan gizi, pola konsumsi, gaya hidup, kesehatan mental, pendidikan, dan faktor sosial ekonomi.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi gizi seimbang terhadap pengetahuan, sikap, dan praktik gizi seimbang; tingkat kecukupan energi, zat gizi, dan serat; kualitas konsumsi; serta status gizi siswa SMA penerima Program Makan Bergizi Gratis di Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan kelompok intervensi berupa makan bergizi gratis dan edukasi gizi, kelompok kontrol hanya mendapat makan bergizi gratis. Kelompok intervensi pada penelitian ini adalah MAS Persis Kota Bogor, dan kelompok kontrol adalah SMK Negeri 1 Kota Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2025.
Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik subjek dan keluarga; pengetahuan, sikap, dan praktik gizi seimbang melalui pengisian kuesioner; asupan energi, zat gizi, dan serat melalui food recall 2×24 jam; kualitas konsumsi melalui food recall 2×24 jam yang selanjutnya dihitung dan ditentukan menggunakan Diet Quality Index for Adolescents; serta status gizi berdasarkan indeks IMT/U diperoleh melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan. Pengolahan dan analisis data menggunakan program Microsoft Excel 2019, Nutrisurvey, WHO Anthroplus dan IBM SPSS Version 27.0. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan distribusi karakteristik subjek; karakteristik keluarga; tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik gizi seimbang; tingkat kecukupan energi, zat gizi, dan serat; kualitas konsumsi; dan status gizi. Uji sebaran data (normalitas) menggunakan Shapiro–Wilk dan analisis bivariat menggunakan uji beda paired sample t?test dan uji Wilcoxon dengan signifikansi <0,05 untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah edukasi. Uji bivariat untuk melihat adanya perbedaan antara dua kelompok menggunakan independent t?test dan Mann?Whitney test dengan signifikansi <0,05.
Intervensi berupa edukasi gizi seimbang dengan pengembangan materi berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang dan konsep Isi Piringku, selanjutnya disusun menjadi media e-booklet. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan, sikap, dan praktik gizi seimbang; asupan energi, zat gizi, dan serat; kualitas konsumsi; serta status gizi siswa. Intervensi edukasi gizi diberikan selama delapan minggu menggunakan media e-booklet yang memuat materi gizi seimbang, aktivitas fisik, pemilihan pangan, porsi makan, camilan sehat, kesehatan mental, dan performa belajar. Media edukasi telah melalui uji keterbacaan, dan instrumen penelitian telah dilakukan uji validitas serta reliabilitas sebelum digunakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek pada kelompok intervensi dan kontrol berjenis kelamin perempuan. Subjek pada kedua kelompok didominasi usia 15 – 16 tahun dengan rata-rata uang saku kurang (<Rp20.000/hari). Tingkat pendidikan ayah dan ibu pada kelompok intervensi didominasi oleh lulusan perguruan tinggi (D3/D4/S1), sedangkan pada kelompok kontrol didominasi oleh lulusan SMA/sederajat. Status pekerjaan sebagian besar ayah bekerja, sementara ibu didominasi tidak bekerja. Rata-rata pendapatan orang tua berada di atas UMK Kota Bogor (>Rp5.126.897), dengan proporsi pendapatan orang tua cukup didominasi pada kelompok intervensi. Berdasarkan jumlah anggota keluarga, sebagian besar subjek berasal dari keluarga kecil (< 4 orang).
Edukasi gizi seimbang secara signifikan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik gizi seimbang pada kelompok intervensi. Rata-rata persentase skor pengetahuan meningkat dari 77,85 menjadi 88,08 (p<0,001), persentase skor sikap meningkat dari 89,28 menjadi 95,38 (p<0,001), dan persentase skor praktik meningkat dari 62,15 menjadi 80,46 (p<0,001). Perubahan persentase skor pengetahuan, sikap, dan praktik pada kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p<0,001). Berdasarkan tingkat kecukupan energi, zat gizi, dan serat kelompok intervensi mengalami peningkatan signifikan pada tingkat kecukupan energi, protein, karbohidrat, kalsium, vitamin C, dan serat (p<0,05). Tingkat kecukupan energi meningkat dari 82,7% menjadi 89%, protein dari 97,1% menjadi 121,8%, dan karbohidrat dari 66,7% menjadi 84,2%. Tingkat kecukupan serat dan kalsium masih berada di bawah anjuran. Tingkat kecukupan lemak tidak signifikan meningkat (p=0,878). Perubahan tingkat kecukupan energi, protein, karbohidrat, kalsium, dan zat besi pada kelompok intervensi secara signifikan lebih besar dibandingkan kelompok kontrol.
Berdasarkan kualitas konsumsi Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A) kelompok intervensi, yang ditunjukkan oleh perubahan yang bermakna pada komponen dietary quality (p<0,001), dietary diversity (p<0,001), dietary equilibrium (p=0,006), dan skor total DQI-A (p=0,003) pada kelompok intervensi. Selain itu, perubahan dietary quality (p<0,001), dietary diversity (p<0,001), dietary equilibrium (p<0,001), dan skor total DQI-A (p=0,018) pada kelompok intervensi juga lebih besar dibandingkan kelompok kontrol.
Perubahan pengetahuan berhubungan positif signifikan dengan perubahan sikap (r=0,494; p<0,001) dan praktik gizi seimbang (r=0,537; p<0,001). Perubahan sikap juga berhubungan positif signifikan dengan perubahan praktik gizi seimbang (r=0,642; p<0,001). Berdasarkan hasil penelitian, edukasi gizi seimbang melalui media e-booklet dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik gizi; memperbaiki tingkat kecukupan energi, protein, karbohidrat, kalsium, zat besi, dan serat; serta memperbaiki kualitas konsumsi siswa, namun perubahan tersebut belum diikuti oleh perbedaan status gizi yang signifikan.
Kata kunci: asupan gizi, gizi seimbang, kualitas konsumsi, remaja, status gizi | |
| dc.description.abstract | Adolescence, defined by the World Health Organization as the period between 10 and 19 years of age, is a critical stage of growth and development. Nutritional problems among adolescents are a major public health concern because they have long-term impacts on quality of life, physical growth, and cognitive development. In Indonesia, adolescent nutrition is characterized by the Triple Burden of Malnutrition, including undernutrition, overweight/obesity, and micronutrient deficiencies such as anemia. According to the 2023 Indonesian Health Survey, adolescents aged 16–18 years continue to experience stunting, thinness, overweight, and obesity. Although most adolescents have normal nutritional status, undernutrition and overnutrition remain significant challenges. These conditions are influenced by poverty, unhealthy dietary patterns, low physical activity, nutrition knowledge, dietary intake, lifestyle, mental health, educational attainment, and socioeconomic factors.
This study aimed to analyze the effect of balanced nutrition education on balanced nutrition knowledge, attitudes, and practices; the adequacy of energy, nutrient, and dietary fiber intake; diet quality; and the nutritional status of senior high school students participating in the Free Nutritious Meal Program in Bogor City. The intervention group received both balanced nutrition education and the Free Nutritious Meal Program, whereas the control group received only the Free Nutritious Meal Program. The intervention group consisted of students from MAS Persis Bogor City, and the control group consisted of students from SMK Negeri 1 Bogor City. The study was conducted from October to December 2025.
Data collected included participant and family characteristics; balanced nutrition knowledge, attitudes, and practices assessed using questionnaires; energy, nutrient, and dietary fiber intake assessed using two non-consecutive 24-hour dietary recalls; diet quality assessed using the Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A); and nutritional status assessed using the BMI-for-age (BAZ) index. Data were analyzed using Microsoft Excel 2019, NutriSurvey, WHO AnthroPlus, and IBM SPSS Statistics version 27. Descriptive analysis summarized all study variables. The Shapiro–Wilk test assessed normality, while paired-samples t-tests or Wilcoxon signed-rank tests examined within-group differences. Between-group differences were analyzed using independent-samples t-tests or Mann–Whitney U tests, with statistical significance set at p < 0.05.
The intervention consisted of an eight-week balanced nutrition education program delivered through an e-booklet developed based on the Indonesian Balanced Nutrition Guidelines and the Isi Piringku concept. The e-booklet covered balanced nutrition, physical activity, food selection, portion sizes, healthy snacks, mental health, and academic performance. Readability testing was conducted for the educational media, and all research instruments were validated and tested for reliability before implementation.
Most participants in both groups were female, aged 15–16 years, and had a daily allowance of less than IDR 20,000. Parents in the intervention group generally had higher educational attainment than those in the control group. Most fathers were employed, whereas most mothers were unemployed. Average parental income exceeded the Bogor City minimum wage, and most participants came from small families (<4 household members).
Balanced nutrition education significantly improved knowledge, attitudes, and practices in the intervention group. Mean knowledge scores increased from 77.85% to 88.08%, attitude scores from 89.28% to 95.38%, and practice scores from 62.15% to 80.46% (all p < 0.001). These improvements were significantly greater than those observed in the control group.
The intervention also significantly improved the adequacy of energy, protein, carbohydrate, calcium, vitamin C, and dietary fiber intake (p < 0.05). Energy adequacy increased from 82.7% to 89%, protein from 97.1% to 121.8%, and carbohydrate from 66.7% to 84.2%. However, calcium and dietary fiber intake remained below recommended levels, and fat adequacy did not improve significantly (p = 0.878). Improvements in energy, protein, carbohydrate, calcium, and iron adequacy were significantly greater in the intervention group than in the control group.
Balanced nutrition education improved diet quality, as assessed by the Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A). Significant changes were observed in dietary quality (p<0.001), dietary diversity (p<0.001), dietary equilibrium (p=0.006), and the total DQI-A score (p=0.003) in the intervention group. Moreover, the changes in dietary quality (p<0.001), dietary diversity (p<0.001), dietary equilibrium (p<0.001), and the total DQI-A score (p=0.018) were significantly greater in the intervention group than in the control group.
Changes in nutrition knowledge were positively associated with changes in attitudes (r = 0.494; p < 0.001) and balanced nutrition practices (r = 0.537; p < 0.001). Changes in attitudes were also positively associated with changes in balanced nutrition practices (r = 0.642; p < 0.001). Overall, balanced nutrition education delivered through an e-booklet effectively improved nutrition knowledge, attitudes, and practices; increased the adequacy of energy, protein, carbohydrate, calcium, iron, and dietary fiber intake; and improved diet quality. These improvements were not accompanied by significant changes in nutritional status.
Keywords: adolescent, balanced nutrition, diet quality, nutrient intake, nutritional status | |