| dc.contributor.advisor | Fatchiya, Anna | |
| dc.contributor.advisor | Amanah, Siti | |
| dc.contributor.advisor | Muljono, Pudji | |
| dc.contributor.author | Husniah | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-15T06:27:37Z | |
| dc.date.available | 2026-08-15T06:27:37Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179377 | |
| dc.description.abstract | Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi kelautan dan wilayah
pesisir yang strategis bagi ekonomi, pangan, dan lingkungan. Namun, masyarakat
pesisir masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti kemiskinan, keterbatasan
akses pendidikan, kesehatan, permodalan, serta kerentanan terhadap perubahan
iklim. Kabupaten Polewali Mandar memiliki potensi kelautan yang besar,
khususnya budidaya rumput laut, tetapi masih menghadapi tantangan dalam
pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sumber daya pesisir secara
berkelanjutan.
Rumput laut merupakan komoditas unggulan yang berperan penting dalam
perekonomian masyarakat Kabupaten Polewali Mandar. Namun, produksinya
mengalami fluktuasi; berdasarkan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten
Polewali Mandar (2020), produksi tahun 2016 mencapai 1.191,50 ton, tetapi pada
2018 mengalami penurunan sebesar 39,57 ton. Menurut Syachruddin et al. (2019),
penurunan tersebut dipengaruhi rendahnya kompetensi pembudidaya dalam
menerapkan teknik budidaya yang tepat, terutama dalam pemilihan lokasi yang
masih didasarkan pada perkiraan subjektif tanpa mempertimbangkan kriteria teknis
dan ekologis.
Upaya peningkatan kompetensi pembudidaya melalui kegiatan penyuluhan
di Kabupaten Polewali Mandar belum sepenuhnya mencapai tujuan yang
diharapkan. Hal ini mengindikasikan bahwa model penyuluhan yang diterapkan
belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pembudidaya rumput
laut, sehingga belum mampu memberikan solusi yang efektif terhadap berbagai
permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan budidaya. Selain itu, penyuluh yang
bertugas umumnya merupakan penyuluh perikanan dengan kompetensi yang
bersifat umum, sehingga belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan teknis
spesifik budidaya rumput laut. Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan waktu
pendampingan, sarana dan prasarana penyuluhan, serta metode penyampaian
materi yang kurang adaptif terhadap kebutuhan pembudidaya. Akibatnya, proses
pembelajaran dan transfer pengetahuan belum berlangsung secara optimal sehingga
pengelolaan usaha budidaya rumput laut yang berkelanjutan belum dapat
diwujudkan secara maksimal.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tingkat kompetensi
pembudidaya rumput laut dalam menjalankan usaha budidaya; (2) Menganalisis
pengaruh kompetensi terhadap keberlanjutan usaha pembudidaya rumput laut; (3)
Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kompetensi pembudidaya rumput
laut.(4)
Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi peran kelompok
pembudidaya rumput laut. (5) Menghasilkan model penyuluhan budidaya rumput
laut dalam mencapai keberlanjutan usaha.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data
primer melalui survei terhadap pembudidaya rumput laut di tiga kecamatan sentra
produksi, yaitu Kecamatan Polewali, Kecamatan Binuang, dan Kecamatan
Wonomulyo. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive berdasarkan
tingkat aktivitas dan kontribusi produksi rumput laut yang relatif tinggi. Setelah
melalui proses validasi data, diperoleh 267 responden yang memenuhi kriteria
untuk dianalisis. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan Structural Equation
Modeling (SEM) untuk menguji hubungan kausal antarvariabel secara simultan.
Hasil penelitain menunjukkan kompetensi teknis pembudidaya rumput laut
berada pada kategori sedang dengan skor rata-rata 2,07. Kondisi ini
mengindikasikan bahwa sebagian besar pembudidaya masih menerapkan metode
budidaya yang bersifat tradisional dalam pengelolaan usahanya. Sementara itu,
kompetensi manajerial tergolong rendah dengan skor rata-rata 1,58. Rendahnya
kompetensi manajerial tercermin dari belum optimalnya penerapan fungsi
manajemen usaha, seperti perhitungan biaya tenaga kerja dan biaya pembibitan,
serta minimnya praktik pencatatan dan pembukuan usaha. Kompetensi sosial dan
kewirausahaan masing-masing berada pada kategori sedang dengan skor rata-rata
2,11 dan 2,03. Kompetensi sosial yang berada pada kategori sedang menunjukkan
bahwa keterlibatan pembudidaya dalam kegiatan sosial dan kerja sama masih
bersifat situasional serta belum berlangsung secara konsisten dalam berbagai aspek
interaksi sosial. Adapun kompetensi kewirausahaan yang berada pada kategori
sedang mengindikasikan bahwa pembudidaya, khususnya pembudidaya pemula,
masih memiliki kecenderungan untuk menghindari risiko sehingga belum berani
melakukan inovasi atau pengembangan usaha guna meningkatkan produktivitas.
Kompetensi pembudidaya rumput laut berpengaruh positif dan signifikan
terhadap keberlanjutan usaha, meskipun pengaruhnya masih relatif lemah
(koefisien jalur 0,158). Kondisi ini disebabkan oleh belum optimalnya penyuluhan,
fungsi kelompok pembudidaya, dan pengembangan kompetensi. Secara teknis,
pembudidaya telah menguasai tahapan budidaya, tetapi masih mengandalkan
pengalaman sehingga adopsi teknologi belum optimal. Kompetensi manajerial
menjadi aspek terlemah karena perencanaan, pencatatan, dan evaluasi usaha belum
diterapkan dengan baik. Sementara itu, kompetensi sosial cukup baik melalui kerja
sama antarpembudidaya, sedangkan kompetensi kewirausahaan masih terbatas
akibat rendahnya keberanian mengambil risiko dan mengadopsi inovasi.
Karakteristik pembudidaya, efektivitas penyuluhan, dan kelompok tani
berpengaruh positif terhadap kompetensi pembudidaya rumput laut dengan
koefisien jalur masing-masing sebesar 0,179; 0,211; dan 0,275. Temuan ini
mengindikasikan bahwa kompetensi pembudidaya akan meningkat seiring dengan
semakin baiknya karakteristik individu yang ditunjukkan oleh motivasi,
rasionalitas, dan penerimaan terhadap inovasi, semakin efektifnya penyelenggaraan
penyuluhan yang didukung oleh materi, metode, kompetensi penyuluh, serta sarana
dan kelembagaan, dan semakin optimalnya peran kelompok tani sebagai kelas
belajar, wahana kerja sama, dan unit produksi dalam meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap pembudidaya dalam mengelola usaha budidaya rumput
laut.
Belum optimalnya peran kelompok pembudidaya rumput laut di Kabupaten
Polewali Mandar dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal yang
saling berkaitan. Faktor internal meliputi rendahnya kualitas sumber daya manusia,
lemahnya kepemimpinan dan manajemen kelompok, terbatasnya kapasitas
anggota, serta keterbatasan modal usaha, sedangkan faktor eksternal mencakup
belum optimalnya pendampingan penyuluhan, kondisi lingkungan yang tidak
menentu, keterbatasan akses pasar, minimnya sarana dan prasarana pendukung,
vii
serta belum terjalinnya kemitraan yang kuat dengan berbagai pemangku
kepentingan.
Model penyuluhan yang dikembangkan dalam penelitian ini berlandaskan
Teori Difusi Inovasi Rogers (2003) sebagai kerangka konseptual untuk menjelaskan
hubungan antarvariabel dalam model Structural Equation Modeling (SEM). Teori
ini menjelaskan bahwa karakteristik individu, efektivitas penyuluhan, dan peran
kelompok merupakan faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan kompetensi
pembudidaya. Selanjutnya, kompetensi tersebut berperan dalam meningkatkan
keberlanjutan usaha budidaya rumput laut yang mencakup dimensi ekonomi, sosial,
lingkungan, dan sumber daya manusia.
Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa kompetensi pembudidaya
dipengaruhi secara signifikan oleh karakteristik individu, efektivitas penyuluhan,
dan peran kelompok. Temuan ini mengindikasikan bahwa rendahnya karakteristik
individu, belum optimalnya pelaksanaan penyuluhan, serta lemahnya peran
kelompok pembudidaya menyebabkan kompetensi pembudidaya belum
berkembang secara optimal. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada
rendahnya tingkat keberlanjutan usaha budidaya rumput laut.
Berdasarkan hasil penelitian, model penyuluhan yang paling sesuai untuk
mendukung keberlanjutan usaha budidaya rumput laut adalah Participatory Need
Based Extension Model (Model penyuluhan partisipatif berbasis kebutuhan). Model
ini menempatkan penyuluhan sebagai instrumen utama dalam meningkatkan
kompetensi pembudidaya melalui pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan
nyata dan permasalahan yang dihadapi di lapangan. Selain itu, model ini
menekankan pentingnya penguatan karakteristik individu, seperti motivasi
berusaha, keterbukaan terhadap inovasi, dan kemampuan belajar, serta optimalisasi
peran kelompok sebagai wahana pembelajaran, kerja sama, pertukaran informasi,
dan pengembangan usaha. Dengan demikian, penyuluhan tidak hanya berfungsi
sebagai media transfer teknologi dan informasi, tetapi juga sebagai sarana
pemberdayaan yang mampu membangun kemampuan adaptif pembudidaya dalam
menghadapi dinamika lingkungan usaha.
Desain penelitian potong lintang belum mampu menggambarkan dinamika
perubahan kompetensi dan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang, sehingga
penelitian longitudinal diperlukan untuk menguji konsistensi hubungan
antarvariabel. Model yang dikembangkan juga belum mencakup seluruh faktor
yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan usaha, seperti kondisi biofisik,
kualitas bibit, akses pembiayaan, infrastruktur, pasar, kebijakan, dan perubahan
iklim. Selain itu, pengukuran berbasis persepsi responden berpotensi menimbulkan
subjektivitas. Ruang lingkup penelitian yang terbatas pada wilayah tertentu
menyebabkan generalisasi model perlu dilakukan secara hati-hati melalui validasi
di lokasi berbeda.
Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan pendekatan
longitudinal guna mengkaji dinamika perubahan kompetensi dan keberlanjutan
usaha budidaya rumput laut dalam jangka panjang. Selain itu, perlu dilakukan
pengujian implementasi Participatory Need-Based Extension Model melalui
penelitian aksi untuk mengetahui efektivitasnya dalam meningkatkan kompetensi,
produktivitas, dan keberlanjutan usaha pembudidaya. Pengembangan model juga
perlu mempertimbangkan variabel lain, seperti kondisi biofisik perairan, kualitas
bibit, teknologi budidaya, akses pembiayaan, pasar, infrastruktur, kebijakan, dan
perubahan iklim agar menghasilkan model yang lebih komprehensif. Penelitian
berikutnya juga perlu mengkaji penguatan kelembagaan kelompok pembudidaya
serta melakukan validasi model pada wilayah lain dengan karakteristik berbeda
untuk menguji penerapannya secara lebih luas | |
| dc.description.abstract | Indonesia, as an archipelagic country, has significant marine and coastal
potential that is strategically important for the economy, food security, and the
environment. However, coastal communities continue to face various challenges,
including poverty, limited access to education, healthcare, and capital, as well as
vulnerability to climate change. Polewali Mandar Regency has considerable marine
potential, particularly in seaweed cultivation, but still faces challenges in
community empowerment and sustainable management of coastal resources.
Seaweed is a leading commodity that plays an important role in the
economy of communities in Polewali Mandar Regency. However, its production
has fluctuated; according to the Polewali Mandar Regency Marine and Fisheries
Agency (2020), seaweed production reached 1,191.50 tons in 2016 but decreased
by 39.57 tons in 2018. According to Syachruddin et al. (2019), this decline was
influenced by the low competency of seaweed farmers in implementing appropriate
cultivation techniques, particularly in site selection, which was still based on
subjective estimates without considering technical and ecological criteria.
Efforts to improve the competence of seaweed farmers through extension
activities in Polewali Mandar Regency have not fully achieved the expected goals.
This indicates that the extension model implemented does not fully align with the
needs and characteristics of seaweed farmers, thus failing to provide effective
solutions to the various problems faced in cultivation activities. Furthermore, the
extension workers on duty are generally fisheries extension workers with general
competencies, thus not fully able to meet the specific technical needs of seaweed
cultivation. This situation is exacerbated by limited mentoring time, extension
facilities and infrastructure, and material delivery methods that are not adaptive to
the needs of farmers. As a result, the learning process and knowledge transfer have
not been optimal, thus preventing the realization of sustainable seaweed cultivation
management.
This study aims to: (1) analyze the level of competence of seaweed
cultivators in running a cultivation business; (2) Analyze the influence of
competence on the sustainability of seaweed cultivation businesses; (3) Analyze the
factors that influence the competence of seaweed cultivators. (4) Analyze the
factors that influence the role of seaweed cultivation groups. (5) Produce a seaweed
cultivation extension model in achieving business sustainability.
The study employed a quantitative approach, collecting primary data
through a survey of seaweed farmers in three sub-districts known as production
centers: Polewali, Binuang, and Wonomulyo. The research locations were
purposively selected based on their relatively high levels of activity and
contribution to seaweed production. After data validation, 267 respondents met the
criteria for analysis. The data were then analyzed using Structural Equation
Modeling (SEM) to simultaneously test causal relationships between variables
The research results show that the technical competence of seaweed farmers
is in the moderate category with an average score of 2.07. This condition indicates
that most farmers still apply traditional cultivation methods in managing their
businesses. Meanwhile, managerial competence is low with an average score of
1.58. Low managerial competence is reflected in the suboptimal implementation of
business management functions, such as calculating labor costs and nursery costs,
as well as minimal business recording and bookkeeping practices. Social and
entrepreneurial competence are both in the moderate category with average scores
of 2.11 and 2.03, respectively. Social competence in the moderate category
indicates that farmer involvement in social activities and cooperation is still
situational and has not been consistent in various aspects of social interaction.
Meanwhile, entrepreneurial competence in the moderate category indicates that
farmers, especially novice farmers, still have a tendency to avoid risks and therefore
do not dare to innovate or develop businesses to increase productivity.
Seaweed farmer competency has a positive and significant impact on
business sustainability, although the effect is still relatively weak (path coefficient
0.158). This is due to suboptimal extension services, farmer group functions, and
competency development. Technically, farmers have mastered the cultivation
stages, but still rely on experience, resulting in suboptimal technology adoption.
Managerial competency is the weakest aspect because business planning, record
keeping, and evaluation have not been implemented effectively. Meanwhile, social
competency is quite good through collaboration between farmers, while
entrepreneurial competency remains limited due to a lack of courage to take risks
and adopt innovations.
The characteristics of cultivators, the effectiveness of extension, and farmer
groups have a positive effect on the competence of seaweed cultivators with path
coefficients of 0.179, 0.211, and 0.275, respectively. These findings indicate that
cultivator competence will increase along with the improvement of individual
characteristics indicated by motivation, rationality, and acceptance of innovation,
the increasing effectiveness of extension services supported by materials, methods,
competence of extension workers, as well as facilities and institutions, and the
increasingly optimal role of farmer groups as learning classes, cooperation vehicles,
and production units in improving the knowledge, skills, and attitudes of cultivators
in managing seaweed cultivation businesses.
The suboptimal role of seaweed farming groups in Polewali Mandar
Regency is influenced by various interrelated internal and external factors. Internal
factors include low-quality human resources, weak group leadership and
management, limited member capacity, and limited business capital. External
factors include suboptimal outreach support, uncertain environmental conditions,
limited market access, inadequate supporting facilities and infrastructure, and the
lack of strong partnerships with various stakeholders.
The extension model developed in this study is based on Rogers' (2003)
Diffusion of Innovation Theory as a conceptual framework to explain the
relationships between variables in Structural Equation Modeling (SEM). This
theory explains that individual characteristics, extension effectiveness, and group
roles are factors that influence the improvement of cultivator competency.
Furthermore, this competency plays a role in improving the sustainability of
seaweed cultivation businesses, encompassing economic, social, environmental,
and human resource dimensions.
SEM analysis results show that cultivator competency is significantly
influenced by individual characteristics, extension effectiveness, and group roles.
These findings indicate that low individual characteristics, suboptimal extension
implementation, and the weak role of cultivator groups contribute to the
underdevelopment of cultivator competency. This ultimately impacts the low level
of sustainability of seaweed cultivation businesses.
Based on the research results, the most appropriate extension model to
support the sustainability of seaweed cultivation is the Participatory Need-Based
Extension Model. This model positions extension as the primary instrument in
improving the competence of seaweed farmers through an approach oriented
towards real needs and problems faced in the field. Furthermore, this model
emphasizes the importance of strengthening individual characteristics, such as
entrepreneurial motivation, openness to innovation, and learning ability, as well as
optimizing the role of groups as a vehicle for learning, collaboration, information
exchange, and business development. Thus, extension functions not only as a
medium for technology and information transfer, but also as a means of
empowerment that can build the adaptive capacity of farmers in facing the dynamics
of the business environment.
The cross-sectional research design is not capable of depicting the dynamics
of changes in competency and business sustainability over the long term, therefore,
longitudinal research is needed to test the consistency of the relationships between
variables. The developed model also does not encompass all factors that could
potentially influence business sustainability, such as biophysical conditions, seed
quality, access to financing, infrastructure, markets, policies, and climate change.
Furthermore, measurements based on respondents' perceptions have the potential
to introduce subjectivity. The limited scope of the research to a specific region
requires careful generalization of the model through validation in different
locations.
Future research is recommended to use a longitudinal approach to assess the
dynamics of competency changes and the long-term sustainability of seaweed
farming businesses. Furthermore, it is necessary to test the implementation of the
Participatory Need-Based Extension Model through action research to determine
its effectiveness in improving competency, productivity, and the sustainability of
seaweed farming businesses. Model development also needs to consider other
variables, such as the biophysical conditions of the waters, seed quality, cultivation
technology, access to financing, markets, infrastructure, policies, and climate
change to produce a more comprehensive model. Future research should also
examine the institutional strengthening of seaweed farming groups and validate the
model in other regions with different characteristics to test its broader applicability. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Model Penyuluhan Peningkatan Kompetensi Pembudidaya Rumput Laut untuk Keberlanjutan Usaha di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat | id |
| dc.title.alternative | A Competency Enhancement Extension Model for Seaweed Cultivators for Business Sustainability in Polewali Mandar Regency, West Sulawesi | |
| dc.type | Disertasi | |
| dc.subject.keyword | kompetensi | id |
| dc.subject.keyword | kelompok | id |
| dc.subject.keyword | model penyuluhan | id |
| dc.subject.keyword | petani rumput laut | id |
| dc.subject.keyword | usaha berkelanjutan | id |
| dc.subtype | Dissertations | |