Pertumbuhan Glass Eel yang Diberi Cacing Sutra Bioenkapsulasi dengan Larutan Kunyit pada Konsentrasi Berbeda
Date
2026Author
Mahyudin, Firman
Sudrajat, Agus Oman
Arfah, Harton
Budiardi, Tatag
Metadata
Show full item recordAbstract
Sidat merupakan salah satu komoditas ikan budidaya di Indonesia dengan potensi ekonomi yang menjanjikan. Tercatat pada tahun 2024, volume ekspor sidat nasional mencapai 4500 ton dengan total nilai jual 10 juta dolar Amerika. Produksi sidat untuk konsumsi tergantung oleh pendederan yang menggunakan input berupa glass eel. Glass eel tersebut dibesarkan selama beberapa bulan hingga tahap elver yang nantinya dipelihara hingga ukuran konsumsi sekitar 250 g ekor-1. Namun, dibutuhkan waktu lebih dari setahun untuk membesarkan glass eel ke ukuran konsumsi. Selain itu, glass eel memiliki mortalitas tinggi dan ketersediaannya masih mengandalkan tangkapan alam yang terbatas. Kombinasi ketiganya dapat menghambat produksi sidat untuk permintaan pasar. Solusi yang dapat digunakan adalah menggunakan senyawa estrogenik dengan memanfaatkan sifat sidat yang memiliki dimorfisme seksual dengan betina tumbuh lebih cepat dan besar dari jantan. Salah satu senyawa estrogenik adalah kunyit. Kunyit mengandung zat aktif kurkumin yang menunjukkan sifat estrogenik pada ikan yaitu mampu mempercepat pematangan gonad dan meningkatkan produksi telur. Karakteristik ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pertumbuhan sidat, khususnya glass eel. Pemberian kunyit umumnya dilakukan dengan mencampurnya dengan pakan buatan, namun sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kunyit juga dapat diberikan melalui pakan alami dengan metode bioenkapsulasi dengan cara pakan alami berupa cacing sutra direndam dalam larutan kunyit. Tentunya diperlukan konsentrasi larutan kunyit yang berbeda untuk menentukan konsentrasi optimal yang menghasilkan pertumbuhan tercepat pada glass eel.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat konsentrasi larutan kunyit untuk bioenkapsulasi (0, 1, 2, 3 g L-1), masing-masing memiliki tiga ulangan. Glass eel dipelihara selama 6 hari dengan diberi naupli Artemia dan diberi cacing sutra selama 14 hari. Setelah itu, glass eel disortir dan dipindahkan ke wadah percobaan dengan padat tebar 1 g L-1. Glass eel diberi pakan alami cacing sutra sebanyak ad libitum setiap pagi dan sore hari. Sebelum diberikan, cacing sutra menjalani proses bioenkapsulasi dengan cara direndam dalam larutan kunyit dengan konsentrasi berbeda selama satu jam. Pemeliharaan glass eel dengan pakan bioenkapsulasi dilakukan selama 60 hari. Selama pemeliharaan, dilakukan sampling panjang dan bobot pada glass eel setiap 15 hari sekali untuk mengukur analisis biometrik seperti tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, laju pertumbuhan spesifik, biomassa, dan rasio konversi pakan. Pada akhir penelitian, glass eel dibedah untuk diambil usus, hati, dan kepalanya. Usus diawetkan dan menjalani preparasi histologis sementara hati dan kepala untuk pengamatan ekspresi gen GH dan IGF-1.
Setelah 60 hari penelitian, tingkat kelangsungan hidup glass eel tidak jauh berbeda (p>0,05) diantara perlakuan dengan nilai tertinggi pada perlakuan 1 g L-1 (89,33±16,77). Parameter pertumbuhan menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi larutan kunyit meningkatkan pertumbuhan glass eel dengan perlakuan
3 g L1 secara konsisten menghasilkan pertumbuhan terbaik secara signifikan
(p<0,05) pada panjang dan bobot akhir (11,3±0,1 dan 2,6±0,0), pertumbuhan panjang dan bobot harian (5,42±0,1 dan 2,39±0,09) dan laju pertumbuhan spesifik panjang dan bobot (1,09±0,01 dan 4,18±0,07). Walaupun biomassa akhir menunjukkan tren serupa, tidak ada perbedaan nyata (p>0,05) untuk setiap perlakuan dengan biomassa tertinggi pada perlakuan 3 g L-1 (105,26±15,54). Rasio konversi pakan menunjukkan penurunan konversi pakan seiring peningkatan konsentrasi dengan perlakuan 0 g L-1 berbeda nyata (p<0,05) dengan perlakuan 1, 2, dan 3 g L-1 meskipun tidak ditemukan perbedaan nyata (p>0,05) diantara perlakuan.
Hasil pengamatan histologis menunjukkan bahwa penambahan kunyit melalui bioenkapsulasi cacing sutra berdampak positif pada profil usus glass eel. Glass eel yang tidak diberi kunyit (0 g L-1) memiliki lumen lebih luas dan vili lebih pendek, sementara untuk glass eel yang diberi kunyit mengalami penyempitan lumen dan pertambahan tinggi vili usus. Hal ini membuat penyerapan nutrien menjadi lebih efisien. Ekspresi gen GH dan IGF-1 pada glass eel menunjukkan perlakuan 0 g L-1 memiliki tingkat ekspresi yang rendah. Namun, perlakuan 1, 2, dan 3 g L-1 menunjukkan hubungan terbalik dengan perlakuan 1 g L-1 memiliki ekspresi tertinggi sebelum menurun. Secara statistik, tidak ditemukan perbedaan nyata pada ekspresi GH (p>0,05), namun pada IGF-1, terdapat perbedaan signifikan antara 0 g L-1 dan 1 g L-1.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kunyit dengan sifat estrogeniknya mampu meningkatkan pertumbuhan pada glass eel yang ditunjukkan dengan glass eel yang tumbuh lebih cepat setelah diberi kunyit melalui bioenkapsulasi. Secara keseluruhan, konsentrasi larutan kunyit 3 g L-1 menghasilkan hasil terbaik pada pertumbuhan glass eel.
Collections
- MF - Fisheries [3359]

