Show simple item record

dc.contributor.advisorRachmawati, Eva
dc.contributor.advisorHidayati, Syafitri
dc.contributor.authorKesuma, Destrianna
dc.date.accessioned2026-08-15T04:07:22Z
dc.date.available2026-08-15T04:07:22Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179332
dc.description.abstractPerkembangan kawasan wisata memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun, perkembangan kawasan wisata juga memberikan tekanan terhadap sistem sosial-ekologis masyarakat, khususnya melalui perubahan pola pemanfaatan sumber daya tumbuhan, pergeseran mata pencaharian, dan erosi pengetahuan etnobotani. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan kapasitas adaptif masyarakat dalam mempertahankan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya tumbuhan. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat resiliensi masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya tumbuhan, mengidentifikasi faktor yang memengaruhi resiliensi, serta merumuskan strategi peningkatannya di kawasan wisata. Penelitian dilaksanakan di Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, pada bulan Januari hingga Juni 2026, dengan pendekatan campuran yang melibatkan 258 responden. Tingkat resiliensi diukur menggunakan indeks resiliensi (IR) komposit berbasis empat indikator, yaitu pengetahuan, persepsi, ketergantungan, dan adaptasi. Faktor yang memengaruhi resiliensi dianalisis melalui uji Chi-Square dan regresi logistik biner, sedangkan strategi dirumuskan melalui sintesis hasil analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Cimacan berada pada kategori resilien dengan IR sebesar 61,79. Indikator persepsi mencatat nilai tertinggi (67,72), diikuti adaptasi (65,36) dan pengetahuan (61,93) dengan kategori resilien. Indikator ketergantungan menjadi dimensi paling rentan dengan nilai 53,20 atau berkategori cukup resilien. Temuan baru penelitian ini menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan fungsi etnobotani merupakan kelemahan paling kritis, sementara tingginya pengakuan masyarakat terhadap nilai penting tumbuhan dan praktik budidaya mandiri (74,22) menjadi kekuatan utama sistem resiliensi. Hasil uji statistik mengungkapkan bahwa jenis pekerjaan merupakan faktor paling dominan (?2 = 90,21) , diikuti lokasi tempat tinggal/dusun (?2 = 36,53) dan jenis kelamin (?2 = 11,13), sedangkan kelas umur tidak berpengaruh signifikan. Masyarakat yang berinteraksi langsung dan intensif dengan tumbuhan memiliki peluang resilien 32 kali lebih besar dibandingkan kelompok dengan interaksi terbatas. Laki-laki memiliki peluang resilien 9,31 kali lebih besar dibandingkan perempuan, yang mengindikasikan kesenjangan gender substansial dalam kapasitas resiliensi. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan empat strategi peningkatan resiliensi, yaitu penguatan pengetahuan ekologis, pengembangan budidaya mandiri, penguatan modal sosial lokal, serta diversifikasi dan inovasi produk berbasis tumbuhan. Strategi ini dirancang berdasarkan jenis pekerjaan, lokasi dusun, dan jenis kelamin sebagai faktor penentu resiliensi. Implementasinya diharapkan memperkuat kapasitas adaptif masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan pemanfaatan sumber daya tumbuhan di tengah tekanan perkembangan wisata yang terus berlangsung.
dc.description.sponsorshipProgram Sinergi (S1-S2) IPB
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleStrategi Peningkatan Resiliensi Masyarakat dalam Pemanfaatan Sumber Daya Tumbuhan pada Kawasan Wisataid
dc.title.alternativeStrategies for Enhancing Community Resilience in the Utilization of Plant Resources in Tourism Areas
dc.typeTesis
dc.subject.keywordadaptasi masyarakatid
dc.subject.keywordkawasan wisataid
dc.subject.keywordresiliensi masyarakatid
dc.subject.keywordsumber daya tumbuhanid
dc.subject.keywordstrategiid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record