Strategi Peningkatan Resiliensi Masyarakat dalam Pemanfaatan Sumber Daya Tumbuhan pada Kawasan Wisata
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Kesuma, Destrianna
Rachmawati, Eva
Hidayati, Syafitri
Metadata
Show full item recordAbstract
Perkembangan kawasan wisata memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun, perkembangan kawasan wisata juga memberikan tekanan terhadap sistem sosial-ekologis masyarakat, khususnya melalui perubahan pola pemanfaatan sumber daya tumbuhan, pergeseran mata pencaharian, dan erosi pengetahuan etnobotani. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan kapasitas adaptif masyarakat dalam mempertahankan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya tumbuhan. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat resiliensi masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya tumbuhan, mengidentifikasi faktor yang memengaruhi resiliensi, serta merumuskan strategi peningkatannya di kawasan wisata.
Penelitian dilaksanakan di Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, pada bulan Januari hingga Juni 2026, dengan pendekatan campuran yang melibatkan 258 responden. Tingkat resiliensi diukur menggunakan indeks resiliensi (IR) komposit berbasis empat indikator, yaitu pengetahuan, persepsi, ketergantungan, dan adaptasi. Faktor yang memengaruhi resiliensi dianalisis melalui uji Chi-Square dan regresi logistik biner, sedangkan strategi dirumuskan melalui sintesis hasil analisis kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Cimacan berada pada kategori resilien dengan IR sebesar 61,79. Indikator persepsi mencatat nilai tertinggi (67,72), diikuti adaptasi (65,36) dan pengetahuan (61,93) dengan kategori resilien. Indikator ketergantungan menjadi dimensi paling rentan dengan nilai 53,20 atau berkategori cukup resilien. Temuan baru penelitian ini menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan fungsi etnobotani merupakan kelemahan paling kritis, sementara tingginya pengakuan masyarakat terhadap nilai penting tumbuhan dan praktik budidaya mandiri (74,22) menjadi kekuatan utama sistem resiliensi. Hasil uji statistik mengungkapkan bahwa jenis pekerjaan merupakan faktor paling dominan (?2 = 90,21) , diikuti lokasi tempat tinggal/dusun (?2 = 36,53) dan jenis kelamin (?2 = 11,13), sedangkan kelas umur tidak berpengaruh signifikan. Masyarakat yang berinteraksi langsung dan intensif dengan tumbuhan memiliki peluang resilien 32 kali lebih besar dibandingkan kelompok dengan interaksi terbatas. Laki-laki memiliki peluang resilien 9,31 kali lebih besar dibandingkan perempuan, yang mengindikasikan kesenjangan gender substansial dalam kapasitas resiliensi. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan empat strategi peningkatan resiliensi, yaitu penguatan pengetahuan ekologis, pengembangan budidaya mandiri, penguatan modal sosial lokal, serta diversifikasi dan inovasi produk berbasis tumbuhan. Strategi ini dirancang berdasarkan jenis pekerjaan, lokasi dusun, dan jenis kelamin sebagai faktor penentu resiliensi. Implementasinya diharapkan memperkuat kapasitas adaptif masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan pemanfaatan sumber daya tumbuhan di tengah tekanan perkembangan wisata yang terus berlangsung.
Collections
- MF - Forestry [1609]

