Show simple item record

dc.contributor.advisorAnwar, Syaiful
dc.contributor.advisorPulunggono, Heru Bagus
dc.contributor.authorRamadhani, Afifah
dc.date.accessioned2026-08-15T03:11:56Z
dc.date.available2026-08-15T03:11:56Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179239
dc.description.abstractTanah masam sering menjadi masalah pada sebagian besar lahan pertanian. Kemasaman tanah dapat terbentuk akibat bahan induk yang bersifat masam dan pencucian basa-basa yang terjadi dalam waktu yang lama. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan ion Al3+ yang dapat memengaruhi ketersediaan hara di dalam tanah. Fosfor (P) merupakan unsur yang mudah berikatan dengan Al dapat ditukar (Al-dd), akibatnya P menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Selain mengikat unsur hara, keberadaan Al-dd juga menjadi sumber kemasaman potensial yang dapat memengaruhi berbagai reaksi di dalam tanah. Kekurangan P pada lahan pertanian biasanya diatasi dengan memberikan bahan amelioran seperti pupuk. Pupuk P yang ditambahkan umumnya bersumber dari batuan fosfat. Pupuk P seperti SP-36 biasanya dibuat dalam bentuk kelarutan rendah agar tidak mudah dierap oleh logam seperti Al dan Fe namun tetap larut dalam air. Disisi lain proses pembuatan pupuk P seperti SP-36 memerlukan energi tambahan dalam proses pembuatannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji kelarutan hara P dari batuan fosfat dibandingkan dengan pupuk SP 36 pada tanah masam dengan kadar Al-dd yang beragam. Penelitian ini menggunakan teknik percobaan inkubasi yang berlangsung selama 80 hari. Terdapat tiga set penelitian dengan jenis tanah yang berbeda. Tanah yang digunakan adalah Latosol Dramaga, Podsolik Dramaga dan Podsolik Gajrug dengan kadar Al-dd masing-masing 2,29 cmol(+)/kg, 8,45 cmol(+)/kg, dan 22,90 cmol(+)/kg. Percobaan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan perlakuan kombinasi jenis pupuk dan bahan organik. Jenis pupuk P yang digunakan adalah batuan fosfat dan SP-36 dengan dosis 100 ppm P2O5 dan bahan organik yang digunakan adalah biochar sekam. Total perlakuan yang digunakan sebanyak enam perlakuan. Perlakuan tersebut terdiri dari (1) kontrol, (2) biochar sekam, (3) batuan fosfat, (4) SP-36, (5) biochar sekam + batuan fosfat, dan (6) biochar sekam + SP 36. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 54 satuan percobaan untuk tiga jenis tanah. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel tanah, kemudian dilanjutkan dengan persiapan sampel tanah dan pemberian perlakuan. Analisis tanah dilakukan sebelum inkubasi untuk mengetahui karakteristik kimia tanah dan pada periode inkubasi dengan paramater yang telah ditetapkan. Analisis pada saat inkubasi meliputi pH, Al-dd, P-Bray 1, dan Fraksi P (P-terlarut, Al-P, dan Fe-P). Tanah yang digunakan memiliki pH yang rendah <5 dan kejenuhan Al yang tinggi. Hasil analisis pada periode inkubasi menunjukkan bahwa aplikasi batuan fosfat, SP-36, dan biochar sekam memberikan hasil yang bervariasi pada ketiga jenis tanah. Secara rata-rata, perlakuan batuan fosfat saja, nyata meningkatkan pH pada Latosol Dramaga. Pada Podsolik Dramaga hasil yang berpengaruh nyata terdapat pada perlakuan kombinasi batuan fosfat dan biochar sekam, sedangkan pada Podsolik Gajrug tidak berpengaruh secara signifikan. Pada parameter Al-dd, secara rata-rata, perlakuan batuan fosfat, SP-36 dan kombinasinya dengan biochar sekam menurunkan Al-dd pada tanah Latosol Dramaga dan Podsolik Dramaga. Sedangkan pada Podsolik Gajrug, yang berpengaruh secara nyata menurunkan Al dd hanya pada perlakuan batuan fosfat saja. Perlakuan SP-36, batuan fosfat, dan biochar sekam mampu meningkatkan P tersedia (Bray 1) pada ketiga jenis tanah kecuali perlakuan biochar sekam saja di Latosol Dramaga. Berdasarkan rata-rata P-Bray 1, perlakuan yang diberikan tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada tanah Podsolik Gajrug. Hasil pengukuran P-Bray 1 pada ketiga jenis tanah menunjukkan tidak ada perbedaan secara signifikan antara perlakuan batuan fosfat dan SP-36. Parameter P-terlarut menunjukkan peningkatan seiring waktu inkubasi berlangsung. Al-P menunjukkan hal yang sebaliknya, yaitu cenderung menurun kecuali pada tanah Podsolik Dramaga dan Podsolik Gajrug sedikit mengalami peningkatan di akhir inkubasi dibandingkan periode inkubasi sebelumnya. Pada parameter Fe-P mengalami fluktuasi pada ketiga jenis tanah. Jika dilihat dari grafik, pola dinamika fraksi P-terlarut, Al-P, dan Fe-P relatif serupa antar perlakuan. Persentase P-terlarut paling tinggi terdapat pada tanah Latosol Dramaga, dan persentase Fe-P paling tinggi ada pada tanah Podsolik Gajrug. Berdasarkan hasil analisis korelasi dari setiap periode inkubasi, Al-dd berkorelasi positif dengan P terlarut dan berkorelasi negatif dengan Fe-P dan Al-P pada tingkat hubungan yang rendah-sedang.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleDinamika Pelepasan Hara Fosfor pada Aplikasi Batuan Fosfat di Tanah Masam dengan Kadar Al-dd Beragamid
dc.title.alternativeDynamics of Phosphorus Nutrient Release in Rock Phosphate Applications in Acidic Soil with Diverse exch-Al Levels
dc.typeTesis
dc.subject.keywordFraksi Pid
dc.subject.keywordinkubasiid
dc.subject.keywordketersediaan fosforid
dc.subject.keywordlatosolid
dc.subject.keywordpodsolikid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record