Dinamika Pelepasan Hara Fosfor pada Aplikasi Batuan Fosfat di Tanah Masam dengan Kadar Al-dd Beragam
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Ramadhani, Afifah
Anwar, Syaiful
Pulunggono, Heru Bagus
Metadata
Show full item recordAbstract
Tanah masam sering menjadi masalah pada sebagian besar lahan pertanian.
Kemasaman tanah dapat terbentuk akibat bahan induk yang bersifat masam dan
pencucian basa-basa yang terjadi dalam waktu yang lama. Kondisi tersebut
menyebabkan peningkatan ion Al3+ yang dapat memengaruhi ketersediaan hara di
dalam tanah. Fosfor (P) merupakan unsur yang mudah berikatan dengan Al dapat
ditukar (Al-dd), akibatnya P menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Selain mengikat
unsur hara, keberadaan Al-dd juga menjadi sumber kemasaman potensial yang
dapat memengaruhi berbagai reaksi di dalam tanah.
Kekurangan P pada lahan pertanian biasanya diatasi dengan memberikan
bahan amelioran seperti pupuk. Pupuk P yang ditambahkan umumnya bersumber
dari batuan fosfat. Pupuk P seperti SP-36 biasanya dibuat dalam bentuk kelarutan
rendah agar tidak mudah dierap oleh logam seperti Al dan Fe namun tetap larut
dalam air. Disisi lain proses pembuatan pupuk P seperti SP-36 memerlukan energi
tambahan dalam proses pembuatannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk menguji kelarutan hara P dari batuan fosfat dibandingkan dengan pupuk SP
36 pada tanah masam dengan kadar Al-dd yang beragam.
Penelitian ini menggunakan teknik percobaan inkubasi yang berlangsung
selama 80 hari. Terdapat tiga set penelitian dengan jenis tanah yang berbeda. Tanah
yang digunakan adalah Latosol Dramaga, Podsolik Dramaga dan Podsolik Gajrug
dengan kadar Al-dd masing-masing 2,29 cmol(+)/kg, 8,45 cmol(+)/kg, dan 22,90
cmol(+)/kg. Percobaan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
non faktorial dengan perlakuan kombinasi jenis pupuk dan bahan organik. Jenis
pupuk P yang digunakan adalah batuan fosfat dan SP-36 dengan dosis 100 ppm
P2O5 dan bahan organik yang digunakan adalah biochar sekam. Total perlakuan
yang digunakan sebanyak enam perlakuan.
Perlakuan tersebut terdiri dari (1) kontrol, (2) biochar sekam, (3) batuan
fosfat, (4) SP-36, (5) biochar sekam + batuan fosfat, dan (6) biochar sekam + SP
36. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 54 satuan
percobaan untuk tiga jenis tanah. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel
tanah, kemudian dilanjutkan dengan persiapan sampel tanah dan pemberian
perlakuan. Analisis tanah dilakukan sebelum inkubasi untuk mengetahui
karakteristik kimia tanah dan pada periode inkubasi dengan paramater yang telah
ditetapkan. Analisis pada saat inkubasi meliputi pH, Al-dd, P-Bray 1, dan Fraksi P
(P-terlarut, Al-P, dan Fe-P).
Tanah yang digunakan memiliki pH yang rendah <5 dan kejenuhan Al yang
tinggi. Hasil analisis pada periode inkubasi menunjukkan bahwa aplikasi batuan
fosfat, SP-36, dan biochar sekam memberikan hasil yang bervariasi pada ketiga
jenis tanah. Secara rata-rata, perlakuan batuan fosfat saja, nyata meningkatkan pH
pada Latosol Dramaga. Pada Podsolik Dramaga hasil yang berpengaruh nyata
terdapat pada perlakuan kombinasi batuan fosfat dan biochar sekam, sedangkan
pada Podsolik Gajrug tidak berpengaruh secara signifikan. Pada parameter Al-dd,
secara rata-rata, perlakuan batuan fosfat, SP-36 dan kombinasinya dengan biochar
sekam menurunkan Al-dd pada tanah Latosol Dramaga dan Podsolik Dramaga.
Sedangkan pada Podsolik Gajrug, yang berpengaruh secara nyata menurunkan Al
dd hanya pada perlakuan batuan fosfat saja.
Perlakuan SP-36, batuan fosfat, dan biochar sekam mampu meningkatkan P
tersedia (Bray 1) pada ketiga jenis tanah kecuali perlakuan biochar sekam saja di
Latosol Dramaga. Berdasarkan rata-rata P-Bray 1, perlakuan yang diberikan tidak
memberikan pengaruh yang signifikan pada tanah Podsolik Gajrug. Hasil
pengukuran P-Bray 1 pada ketiga jenis tanah menunjukkan tidak ada perbedaan
secara signifikan antara perlakuan batuan fosfat dan SP-36.
Parameter P-terlarut menunjukkan peningkatan seiring waktu inkubasi
berlangsung. Al-P menunjukkan hal yang sebaliknya, yaitu cenderung menurun
kecuali pada tanah Podsolik Dramaga dan Podsolik Gajrug sedikit mengalami
peningkatan di akhir inkubasi dibandingkan periode inkubasi sebelumnya. Pada
parameter Fe-P mengalami fluktuasi pada ketiga jenis tanah. Jika dilihat dari grafik,
pola dinamika fraksi P-terlarut, Al-P, dan Fe-P relatif serupa antar perlakuan.
Persentase P-terlarut paling tinggi terdapat pada tanah Latosol Dramaga, dan
persentase Fe-P paling tinggi ada pada tanah Podsolik Gajrug. Berdasarkan hasil
analisis korelasi dari setiap periode inkubasi, Al-dd berkorelasi positif dengan P
terlarut dan berkorelasi negatif dengan Fe-P dan Al-P pada tingkat hubungan yang
rendah-sedang.
Collections
- MF - Agriculture [4154]

