Dinamika Kualitas Air sebagai Penduga Kesehatan dan Produktivitas Tambak Intensif Udang Vaname di Tasikmalaya
Date
2026Author
Rizqi, Fitri Nur
Pratiwi, Niken Tunjung Murti
Widigdo, Bambang
Khotib, Mohammad
Metadata
Show full item recordAbstract
Udang vaname (Litopenaeus vanamei) merupakan salah satu komoditas unggul yang dibudidayakan di ekosistem tambak. Intensifikasi budidaya udang vaname saat ini terus dilakukan untuk meningkatkan produksi udang nasional melalui upaya meningkatkan kinerja operasional tambak. Upaya peningkatan kinerja operasional tambak dilakukan dengan menerapkan beberapa material untuk mengendalikan stabilitas penyangga pH tambak (kapur formulasi Aquapro ProStabilizer), menekan pertumbuhan bakteri patogen (probiotik Aquapro Pro-Biotic), dan meningkatkan laju pertumbuhan pada udang (zat aditif pakan Aquapro ProBoost dan Aquapro Pro-Extra Boost). Penambahan kapur formulasi, probiotik, dan zat aditif pakan pada tambak diharapkan membentuk stabilitas penyangga pH, dinamika plankton dan dinamika bakteri yang sesuai bagi pemeliharaan udang vaname, sehingga menciptakan kesehatan dan produktivitas tambak yang tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas sistem penyangga pH (pH buffer system) yang berkaitan dengan dinamika plankton, menganalisis dinamika bakteri, serta menganalisis kesehatan dan produktivitas tambak di wilayah tambak intensif udang vaname Kabupaten Tasikmalaya.
Penelitian dilaksanakan selama satu siklus pemeliharaan udang vaname (97 hari), pada bulan Agustus sampai November 2023. Lokasi penelitian bertempat di tambak udang intensif PT. Bagja Barokah Sarerea, Desa Ciheuras, Kabupaten Tasikmalaya. Pemeliharaan udang dilakukan pada tiga tambak (Tambak 1, Tambak 2, dan Tambak 3), menggunakan sistem pemeliharaan intensif dengan padat tebar sebesar 136 ekor/m2. Tambak 1 merupakan kontrol, sementara Tambak 2 dan 3 merupakan tambak perlakuan yang diterapkan material kapur formulasi, probiotik, dan zat aditif pakan. Tambak 2 dan Tambak 3 diterapkan kapur formulasi dan probiotik yang sama, namun zat aditif pakan yang berbeda. Tambak 2 diterapkan zat aditif pakan-a (Aquapro Pro-Boost), sementara Tambak 3 diterapkan zat aditif pakan-b (Aquapro Pro-Extra Boost). Kapur formulasi diterapkan sejak DOC 15 setiap tiga hari sekali dengan dosis 1 mg/L. Pemberian probiotik diterapkan sebanyak 1 mg/L dengan frekuensi pemberian setiap satu minggu sekali sejak DOC 7. Sementara, larutan zat aditif pakan disemprotkan terhadap pakan sebelum penebaran dengan dosis 1% dari jumla pakan yang diberikan.
Pengumpulan data meliputi data kualitas air, data fitoplankton, data bakteri, data udang, serta data sekunder berupa curah hujan dan data operasional tambak. Data kualitas air meliputi suhu, kecerahan air, oksigen terlarut (DO), pH, dan salinitas, yang diukur setiap hari dengan (tiga jam sekali mulai dari pukul 05.00-20.00). Sementara, data kualitas air lainnya seperti alkalinitas, COD, H2S, nitrit, dan amonia, serta data fitoplankton, data bakteri, dan data udang diambil setiap satu minggu sekali dan pengukuran dilakukan di laboratorium. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis deskriptif, struktur komunitas plankton, kesuburan perairan, suksesi plankton, komparasi kualitas air antartambak dan antarwaktu, hubungan fitoplankton dengan kualitas air, dan indeks matriks kesehatan serta produktivitas tambak.
Hasil menunjukkan bahwa pH pada Tambak 2 dan Tambak 3 cenderung lebih stabil dibandingkan dengan Tambak 1. Alkalinitas yang berperan sebagai penyangga pH dalam ekosistem tambak juga menunjukkan bahwa Tambak 2 dan Tambak 3 memiliki kadar lebih tinggi, yaitu sebesar 194 ± 33 mg/L CaCO3 dan 193 ± 31 mg/L CaCO3, sementara Tambak 1 memiliki alkalinitas sebesar 181 ± 41 mg/L CaCO3. Alkalinitas yang tinggi cenderung dapat menciptakan upaya untuk menghindari adanya resiko fluktuasi pH yang tinggi. Pada DOC awal, ketiga tambak memiliki fluktuasi pH yang berbeda nyata, dengan fluktuasi pH terendah terdapat pada Tambak 2, yaitu sebesar 0,2 ± 0,1 satuan. Hal ini mengindikasikan, bahwa penggunaan kapur formulasi memberikan respon paling baik terhadap stabilitas pH pada Tambak 2.
Fitoplankton yang dijumpai terdiri dari lima kelas, yaitu Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Dinophyceae, dan Euglenophyceae. Bacillariophyceae memiliki jumlah jenis tertinggi, yaitu sebanyak 20 genera dari total 43 genera. Sementara, berdasarkan kelimpahannya pada ketiga tambak, plankton didominasi oleh kelas Chlorophyceae (jenis Chlorella sp.) dengan proporsi sebesar > 90%. Fitoplankton pada ketiga tambak memiliki kelimpahan rata-rata sebesar 937–12083 sel/mL, 99–2312 sel/mL dan 23–3302 sel/mL. Tambak 1 memiliki kelimpahan fitoplankton paling tinggi dan lebih fluktuatif, sehingga beresiko mengalami penurunan DO di malam hari, karena adanya persaingan dalam mengkonsumsi oksigen serta adanya resiko kematian massal (crash) fitoplankton yang berbahaya bagi udang. Dengan demikian, penggunaan kapur formulasi terhadap Tambak 2 dan Tambak 3 menciptakan kelimpahan dan komposisi fitoplankton yang lebih stabil bagi tambak udang.
Kelimpahan bakteri total (TBC), Vibrio total (TVC), Vibrio koloni kuning, dan Vibrio koloni hijau berfluktuasi selama masa pemeliharaan udang. Kelimpahan tertinggi bakteri TVC dan bakteri Vibrio koloni hijau pada DOC akhir terdapat pada Tambak 3. Hal ini diduga akibat kandungan bahan organik yang tinggi pada Tambak 3 yang memicu Vibrio berada pada performa yang baik, sehingga kelimpahannya tinggi. Sementara, kelimpahan terendah TVC dan Vibrio koloni hijau terdapat pada Tambak 2 (0,5 x 103 dan 0,6 x 102 CFU/mL). Kondisi tersebut mengindikasikan, bahwa kombinasi perlakuan penerapan probiotik dan zat aditif pakan-a mampu menekan keberadaan bakteri Vibrio paling baik di Tambak 2.
Indeks kesehatan tambak menunjukkan bahwa Tambak 2 merupakan satusatunya tambak dengan kategori sehat (nilai komposit 80 poin). Tambak 2 lebih unggul karena mampu mempertahankan stabilitas pH dan stabilitas kelimpahan fitoplankton, serta kondisi udang sehat (tidak terserang penyakit). Tambak 2 juga memperoleh indeks produktivitas tambak yang tinggi, yaitu sebesar 90 poin, dengan produktivitas udang mencapai 19,5 ton/ha dengan survival rate (SR) sebesar 98%. Hal ini mengindikasikan, bahwa penggunaan kapur formulasi, probiotik dan zat aditif pakan-a pada Tambak 2 mampu menciptakan kondisi yang lebih unggul, baik dari segi kesehatan ekosistem tambak maupun produktivitas tambak yang diperoleh.
Collections
- MF - Fisheries [3359]

