| dc.contributor.advisor | Sunarti, Euis | |
| dc.contributor.advisor | Muflikhati, Istiqlaliyah | |
| dc.contributor.author | Abdillah, Eneng Shopiyyah | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-15T01:02:23Z | |
| dc.date.available | 2026-08-15T01:02:23Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179134 | |
| dc.description.abstract | Perubahan cuaca ekstrem berpengaruh terhadap menurunnya kegiatan penangkapan ikan dan hasil tangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan. Penurunan jumlah tangkapan memengaruhi pendapatan keluarga nelayan sehingga keluarga menjadi rentan mengalami kemiskinan. Keluarga nelayan memerlukan adanya kelentingan agar mampu melewati masa sulit dan bangkit kembali dari kondisi sulit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kelentingan keluarga nelayan serta faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap kelentingan keluarga yaitu fungsi keluarga, dukungan sosial, dan strategi nafkah. Penelitian ini memiliki tiga tujuan khusus, yaitu: 1) mengidentifikasi perbedaan karakteristik keluarga, fungsi keluarga, dukungan sosial, strategi nafkah, dan kelentingan keluarga nelayan berdasarkan status kepemilikan dan tipologi perairan; 2) menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga dengan fungsi keluarga, dukungan sosial, strategi nafkah dan kelentingan keluarga; serta 3) menganalisis pengaruh fungsi keluarga, dukungan sosial, dan strategi nafkah terhadap kelentingan keluarga nelayan berdasarkan status kepemilikan dan tipologi perairan.
Penelitian ini menggunakan metode survei dan bertempat di Provinsi Banten. Pengambilan data dilakukan pada Desember 2023 sampai dengan Februari 2024. Contoh dalam penelitian ini yaitu keluarga nelayan dan responden penelitian yaitu istri nelayan. Teknik sampling yang digunakan yaitu stratified random sampling. Jumlah keseluruhan responden sebanyak 180 orang, yang terdiri atas 30 istri nelayan pemilik dan 30 istri nelayan buruh di masing-masing wilayah pesisir Laut Jawa, Selat Sunda, dan Samudera Hindia. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari analisis deskriptif menggunakan aplikasi Microsoft Excel dan Statistical Package for Social Sciences (SPSS); uji beda menggunakan Two-Way ANOVA; analisis hubungan menggunakan uji korelasi Pearson; dan uji pengaruh menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia istri nelayan berada pada rentang 19–70 tahun dengan rata-rata 39,63 tahun, sedangkan usia nelayan berkisar 21–70 tahun dengan rata-rata 44,03 tahun. Usia pasangan pada keluarga nelayan pemilik cenderung lebih tua dibandingkan keluarga nelayan buruh. Tingkat pendidikan istri berkisar 0–12 tahun dan suami 0–16 tahun yang mengindikasikan bahwa masih terdapat sebagian kecil responden yang tidak pernah bersekolah formal. Rata-rata lama pendidikan istri dan suami masing-masing 6,53 dan 6,38 tahun yang menunjukkan bahwa mayoritas hanya menamatkan pendidikan pada tingkat sekolah dasar. Lama bekerja sebagai nelayan berada pada rentang 1–60 tahun dengan rata-rata 24,95 tahun. Nelayan pemilik umumnya memiliki pengalaman melaut lebih lama dibandingkan nelayan buruh. Sebagian besar keluarga nelayan merupakan keluarga kecil dengan rata-rata jumlah anggota yaitu 4,43 orang. Keluarga nelayan pemilik memiliki jumlah tanggungan sedikit lebih banyak dibandingkan keluarga nelayan buruh. Pendapatan keluarga nelayan pemilik jauh lebih tinggi daripada nelayan buruh baik pada musim ikan maupun musim paceklik. Terdapat perbedaan signifikan pendapatan keluarga nelayan pada musim ikan maupun musim paceklik berdasarkan kepemilikan dan wilayah perairan. Hasil uji beda menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada karakteristik besar keluarga berdasarkan tipologi perairan dan pendapatan per kapita pada musim ikan dan musim paceklik berbeda signifikan berdasarkan status kepemilikan dan tipologi perairan.
Hasil analisis deskriptif menunjukkan rata-rata indeks fungsi keluarga sebesar 0,61 dan terkategori cukup. Rata-rata indeks dukungan sosial yang diterima oleh keluarga nelayan sebesar 46,68 dan terkategori rendah. Rata-rata strategi nafkah yang dilakukan oleh keluarga nelayan berada pada kategori rendah dengan rataan indeks sebesar 17,76. Kelentingan keluarga terkategori cukup dengan rataan indeks sebesar 0,62. Fungsi keluarga berbeda signifikan berdasarkan status kepemilikan dan tipologi perairan, sedangkan dukungan sosial, strategi nafkah, dan kelentingan keluarga tidak berbeda signifikan berdasarkan status kepemilikan namun signifikan berdasarkan tipologi perairan. Hasil uji hubungan menunjukkan bahwa usia istri dan suami berhubungan positif signifikan dengan fungsi keluarga, strategi nafkah, dan kelentingan keluarga. Pendidikan istri berhubungan positif signifikan dengan fungsi keluarga. Pendidikan suami berhubungan negatif signifikan dengan dukungan sosial. Lama menjadi nelayan dan besar keluarga berhubungan positif signifikan dengan strategi nafkah. Pendapatan per kapita baik musim ikan maupun musim paceklik berhubungan positif signifikan dengan fungsi keluarga, strategi nafkah, dan kelentingan keluarga, serta berhubungan negatif signifikan dengan dukungan sosial.
Hasil uji pengaruh secara keseluruhan menunjukkan bahwa fungsi keluarga berpengaruh positif signifikan terhadap strategi nafkah dan kelentingan keluarga dan merupakan variabel paling dominan dalam seluruh model dengan koefisien pengaruh terhadap kelentingan keluarga. Dukungan sosial berpengaruh negatif signifikan terhadap fungsi keluarga, namun tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap strategi nafkah maupun kelentingan keluarga. Strategi nafkah hanya berpengaruh positif signifikan terhadap kelentingan keluarga pada kelompok nelayan pemilik dan nelayan secara total di Samudera Hindia sedangkan pada kelompok nelayan buruh, Laut Jawa, dan Selat Sunda pengaruhnya tidak signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa efektivitas strategi nafkah dalam membangun kelentingan bersifat kontekstual dan bergantung pada kapasitas dan modal dasar keluarga sebagai kondisi yang memungkinkan strategi nafkah berfungsi sebagai mediator yang efektif untuk meningkatkan kelentingan keluarga. Implikasi praktis dari hasil penelitian ini dapat dilakukan melalui berbagai program peningkatan fungsi keluarga sebagai fokus utama intervensi, memberikan dukungan sosial berbasis pemberdayaan yang bersifat partisipatif dan mendorong kemandirian keluarga, mengembangkan berbagai pelatihan peningkatan skill sebagai diversifikasi pekerjaan bagi nelayan serta melakukan pelatihan dan pendampingan usaha kecil berbasis rumah tangga untuk memperkuat ketahanan keluarga secara berkelanjutan. Bagi akademisi, kajian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam mengembangkan riset keluarga nelayan terutama terkait kelentingan keluarga. | |
| dc.description.abstract | Extreme weather changes affect the decline in fishing activities and catch yields conducted by fishermen. The decrease in catch volume affects the income of fishing families, making them vulnerable to poverty. Fishing families require resilience in order to be able to overcome difficult periods and recover from adverse conditions. This study aims to examine the level of resilience of fishing families and the factors presumed to influence family resilience, namely family function, social support, and livelihood strategy. This study has three specific objectives: 1) to identify differences in family characteristics, family function, social support, livelihood strategy, and family resilience based on ownership status and water typology; 2) to analyze the relationship between family characteristics and family function, social support, livelihood strategy, and family resilience; and 3) to analyze the effect of family function, social support, and livelihood strategy on the resilience of fishing families based on ownership status and water typology.
This study employed a survey method conducted in Banten Province. Data collection was carried out from December 2023 to February 2024. The sample in this study consisted of fishing families, with fishermen's wives as respondents. The sampling technique used was stratified random sampling. A total of 180 respondents participated, comprising 30 wives of boat-owning fishermen and 30 wives of laborer fishermen in each of the coastal regions of the Java Sea, the Sunda Strait, and the Indian Ocean. Data analysis in this study included descriptive analysis using Microsoft Excel and the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS); difference tests using Two-Way ANOVA; correlation analysis using the Pearson correlation test; and effect testing using Structural Equation Modeling (SEM) based on Partial Least Squares (PLS).
The results showed that the age of fishermen's wives ranged from 19–70 years, with an average of 39.63 years, while the age of fishermen ranged from 21–70 years, with an average of 44.03 years. The age of couples in boat-owning fishing families tended to be older than those in laborer fishing families. The education level of wives ranged from 0–12 years and that of husbands from 0–16 years, indicating that a small proportion of respondents had never attended formal schooling. The average length of education for wives and husbands was 6.53 and 6.38 years, respectively, indicating that the majority had only completed primary school education. The length of work as a fisherman ranged from 1–60 years, with an average of 24.95 years. Boat-owning fishermen generally had longer fishing experience than laborer fishermen. The majority of fishing families were small families, with an average of 4.43 members. Boat-owning fishing families had a slightly higher number of dependents than laborer fishing families. The income of boat-owning fishing families was considerably higher than that of laborer fishing families during both the peak fishing season and the lean season. Significant differences were found in family income during both seasons based on ownership status and water region. The difference test results indicated significant differences in family size based on water typology, and per capita income during both the peak and lean seasons differed significantly based on ownership status and water typology.
The descriptive analysis results showed that the average family function index was 0.61, categorized as moderate. The average social support index received by fishing families was 46.68, categorized as low. The average livelihood strategy score among fishing families was in the low category, with a mean index of 17.76. Family resilience was categorized as moderate, with a mean index of 0.62. Family function differed significantly based on ownership status and water typology, whereas social support, livelihood strategy, and family resilience did not differ significantly based on ownership status but did differ significantly based on water typology. The correlation test results indicated that the ages of wives and husbands were significantly positively correlated with family function, livelihood strategy, and family resilience. Wives' education was significantly positively correlated with family function. Husbands' education was significantly negatively correlated with social support. Length of experience as a fisherman and family size were significantly positively correlated with livelihood strategy. Per capita income during both the peak and lean seasons was significantly positively correlated with family function, livelihood strategy, and family resilience, and significantly negatively correlated with social support.
The overall effect test results showed that family function had a significant positive effect on livelihood strategy and family resilience, and was the most dominant variable across all models, with the highest coefficient of influence on family resilience. Social support had a significant negative effect on family function but did not have a significant direct effect on either livelihood strategy or family resilience. Livelihood strategy had a significant positive effect on family resilience only among boat-owning fishermen and the overall fishermen group in the Indian Ocean region, whereas its effect was not significant among laborer fishermen and in the Java Sea and Sunda Strait regions. This indicates that the effectiveness of livelihood strategies in building resilience is context-dependent and relies on the family's underlying capacity and asset base as conditions that enable livelihood strategy to function as an effective mediator in enhancing family resilience. The practical implications of this study include developing programs to strengthen family function as the primary focus of intervention, providing participatory, empowerment-based social support that encourages family self-reliance, developing skills training programs to diversify fishermen's employment opportunities, and conducting training and mentoring for household-based small businesses to strengthen sustainable family resilience. For academics, this study may serve as a reference for further research on fishing families, particularly regarding family resilience. | |
| dc.description.sponsorship | Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Fungsi Keluarga, Dukungan Sosial, Strategi Nafkah, dan Kelentingan Keluarga Nelayan berdasarkan Status Kepemilikan dan Tipologi Perairan | id |
| dc.title.alternative | Family Function, Social Support, Livelihood Strategy, and Resilience of Fishing Families Based on Ownership Status and Water Typology | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | Fungsi Keluarga | id |
| dc.subject.keyword | dukungan sosial | id |
| dc.subject.keyword | strategi nafkah | id |
| dc.subject.keyword | Kelentingan keluarga | id |
| dc.subject.keyword | keluarga nelayan | id |
| dc.subtype | Theses | |