Disertasi a.n Eltis Panca Ningsih (A2602221005)
Date
2026Jenis/Type
DisertasiSubtype
DissertationsAuthor
Ningsih, Eltis Panca
Santosa, Edi
Sudradjat
Agusta, Herdhata
Metadata
Show full item recordAbstract
Jagung manis (Zea mays L. saccharata) merupakan komoditas hortikultura
yang memiliki peran penting sebagai sumber pangan, bahan baku pakan ternak,
serta komoditas bernilai ekonomi tinggi. Namun, peningkatan produktivitas
jagung manis di lapangan belum mencapai potensi genetiknya. Salah satu faktor
pembatas disebabkan oleh keterbatasan ketersediaan hara esensial di dalam tanah
khususnya kalium. Ketergantungan terhadap pupuk kalium anorganik menghadapi
tantangan terutama fluktuasi harga dan ketergantungan impor yang tinggi di
negara berkembang, seperti Indonesia. Hal tersebut mendorong perlunya
eksplorasi sumber hara alternatif yang lebih ekonomis dan berkelanjutan. Salah
satu solusi yang potensial adalah pemanfaatan limbah industri, seperti FABA (Fly
Ash dan Bottom Ash).
Penelitian terdiri atas lima percobaan, yaitu: (1) Analisis eksudat akar pada
berbagai pH media; (2) Proporsi FABA yang berbeda terhadap pencucian N, P,
dan K pada media tanam; (3) Evaluasi dosis FABA dan KCl pada tanaman jagung
manis; (4) Perlakuan dosis pupuk kandang sapi dan FABA pada kandungan logam
berat tanaman jagung manis dan (5) Uji efektivitas dosis KCl, FABA dan pupuk
kandang sapi pada produktivitas dan kualitas tanaman jagung manis di lapang.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi jenis senyawa eksudat akar
jagung pada berbagai pH media; (2) Mengevaluasi proporsi FABA yang berbeda
terhadap pencucian N, P, dan K pada media tanam; (3) Meningkatkan
pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis dengan aplikasi FABA dan pupuk
KCl; (4) Mempelajari efektifitas penggunaan pupuk kandang sapi untuk
mengatasi logam berat pada tanaman jagung manis; dan (5) Uji efektivitas
pengunaan KCl, FABA dan pupuk kandang sapi pada produktivitas dan kualitas
tanaman jagung manis di lapang.
Pada penelitian tahap 1, pH terbukti menjadi faktor yang penting yang
mengontrol performa tanaman. Kondisi pH 6.0 – 7.0 mendukung pertumbuhan
optimal, sementara pH ekstrem (asam maupun basa) menurunkan pertumbuhan,
laju fotosintesis, konduktansi stomata, dan transpirasi. Respon ini juga diikuti oleh
peningkatan eksudat akar, khususnya fatty acids dan carboxylic acids yang
mengindikasikan adanya mekanisme adaptasi fisiologis terhadap stress
lingkungan. Hal ini menegaskan bahwa eksudat akar berpotensi sebagai
biomarker respons tanaman terhadap stress lingkungan serta mediator rekayasa
rhizosfer.
Selanjutnya pada tahap 2, aplikasi FABA berperan sebagai amandemen
tanah dan sumber hara mineral dengan batas maksimum proporsi 25-50%
terhadap tanah. Peningkatan proporsi FABA hingga batas tertentu (25-50%)
mampu memperbaiki sifat kimia tanah melalui peningkatan pH dan ketersediaan
N, P, dan K. Namun, pada proporsi yang tinggi menurunkan pertumbuhan
tanaman secara signifikan, serta meningkatkan resiko kehilangan hara, khususnya
nitrogen melalui pencucian. Penurunan pencucian K menunjukkan bahwa K
dalam bentuk mineral dalam FABA berfungsi sebagai sumber K slow release
(lambat tersedia). Temuan ini memperjelas bahwa FABA tidak hanya berfungsi
sebagai amandemen tanah sekaligus sebagai sumber hara K esensial.
Integrasi antara pupuk kalium dengan FABA pada tahap 3 menunjukkan
bahwa kombinasi pupuk kalium + FABA dapat meningkatkan pertumbuhan,
efisensi pemanfaatan hara, fotosintesis, serta kualitas hasil (kandungan gula dan
pati) serta memperbaiki sifat kimia tanah (meningkatkan pH dan ketersediaan hara
N, P, K). Kombinasi pupuk K 30 kg ha-1 + FABA 2.5 ton ha-1 dapat mensubstitusi
dosis pupuk K 60 kg ha-1, serta menghasilkan konsentrasi total Al dan logam berat
(As, Cr, Pb, Cd, Mn, Ni, Cu, Zn, dan Fe) yang lebih kecil pada tanah dan seluruh
organ tanaman, baik organ vegetatif (akar, batang, dan daun) maupun organ
reproduktif (bunga jantan, putik, dan biji), dibandingkan dengan perlakuan kontrol.
Respon varietas yang berbeda (Bonanza vs Kumala) menegaskan pentingnya
interaksi genotip, lingkungan serta nutrisi dalam menentukan efisiensi
penggunaan hara dan produktivitas tanaman. Varietas Bonanza lebih responsif
dengan pemberian FABA dibandingkan dengan Kumala.
Pada tahap 4, kombinasi FABA dan pupuk kandang sapi menunjukkan
peningkatan yang signifikan pada kualitas tanah dan tanaman. Kombinasi FABA
5 ton ha-1 + pupuk kandang sapi dengan dosis 5-10 ton ha-1 berpengaruh positif
terhadap kesuburan tanah, pertumbuhan, laju fotosintesis, hasil tanaman serta
menghasilkan konsentrasi total Al dan logam berat (As, Cr, Pb, Cd, Mn, Ni, Cu,
Zn, dan Fe) yang lebih kecil pada tanaman meliputi organ vegetatif (akar, batang,
daun) maupun organ reproduktif (bunga jantan, putik, biji), hingga As, Pb, dan Cd
tidak terdeteksi pada organ reproduktif. Kombinasi ini tidak hanya meningkatkan
pH dan ketersediaan hara (N, P, K) dalam tanah tetapi juga menghasilkan
konsentrasi total Al dan logam berat (As, Cr, Pb, Cd, Mn, Ni, Cu, Zn, dan Fe)
yang lebih kecil dibandingkan perlakuan kontrol. Hasil tersebut mengindikasikan
bahwa kombinasi FABA + pupuk kandang sapi berkontribusi terhadap
berkurangnya perpindahan Al dan logam berat dari tanah ke tanaman, sehingga
konsentrasi total logam berat pada organ tanaman menjadi lebih kecil
dibandingkan dengan perlakuan kontrol serta meningkatkan kualitas hasil
(kandungan gula dan pati) melalui peningkatan laju fotosintesis dan alokasi
karbon.
Pada tahap 5, mengintegrasikan aplikasi pupuk kalium, FABA dan pupuk
kandang sapi untuk melihat respon jagung manis. Pada tahap ini mendukung
temuan sebelumnya dengan menggunakan dosis terbaik pada penelitian
sebelumnya untuk uji lapang. Hasil temuan menunjukkan bahwa kombinasi
FABA dengan pupuk kalium (K) mampu mempertahankan pertumbuhan dan
produktivitas meskipun dosis pupuk K dikurangi hingga 50%. Kombinasi pupuk
kalium 30 kg ha-1 + FABA 2.5 ton ha-1 meningkatkan pertumbuhan, hasil dan
kandungan biokimia (pati, protein, lemak dan serat kasar) pada jagung manis,
meskipun berbeda tidak nyata dengan dosis pupuk kalium 60 kg ha-1. Kombinasi
kalium 30 kg ha-1 + FABA 2.5 ton ha-1 dapat berpotensi mensubtitusi kalium 60
kg ha-1. Disamping itu, konsentrasi Pb di akar, berangkasan dan biji meningkat
pada perlakuan yang tidak diberikan FABA. Oleh karena itu, FABA berpotensi
sebagai amandemen tanah dan sumber hara kalium esensial dengan dosis yang
tepat sehingga lebih aman secara lingkungan dan pangan.
Kebaruan disertasi ini menunjukkan bahwa penggunaan FABA, pupuk
kalium, dan pupuk kandang dapat menjadi strategi pemupukan yang seimbang
pada tanaman jagung manis. FABA dapat digunakan pada tanaman jagung manis
dengan hasil yang tinggi dibandingkan tanpa FABA. Penggunaan FABA yang
dikombinasikan dengan pupuk kandang dapat meningkatkan efisiensi
pemanfaatan hara, meningkatkan hasil dan kualitas (brix dan gula) hasil tanaman
jagung manis. Sweet corn (Zea mays L. saccharata) is an important horticultural
commodity used as a food source, livestock feed ingredient, and high-value
agricultural product. However, sweet corn productivity under field conditions
often remains below its genetic potential. One of the major constraints is the
limited availability of essential nutrients in the soil, particularly potassium (K).
Dependence on inorganic K fertilizers presents substantial challenges, particularly
due to price fluctuations and heavy reliance on imported fertilizers in developing
countries such as Indonesia. These conditions highlight the need to explore more
economical and sustainable alternative nutrient sources. One promising approach
is the agricultural utilization of industrial by-products, particularly fly ash and
bottom ash (FABA).
This research consisted of five experiments: (1) analysis of root exudates
under different growth-medium pH levels; (2) evaluation of different FABA
proportions on N, P, and K leaching from the growing medium; (3) evaluation of
FABA and KCl application rates in sweet corn; (4) assessment of cow manure and
FABA application rates on heavy-metal concentrations in sweet corn plants; and
(5) field evaluation of the effectiveness of KCl, FABA, and cow manure on the
productivity and quality of sweet corn. The objectives of this study were to: (1)
identify root-exudate compounds produced by sweet corn under different medium
pH conditions; (2) evaluate the effects of different FABA proportions on N, P,
and K leaching from the growing medium; (3) improve sweet corn growth and
yield through the application of FABA and KCl fertilizer; (4) examine the
effectiveness of cow manure in reducing heavy-metal accumulation in sweet corn
plants; and (5) evaluate the effectiveness of KCl, FABA, and cow manure in
improving sweet corn productivity and quality under field conditions.
In the first experiment, pH was demonstrated to be a major factor
controlling plant performance. A pH range of 6.0–7.0 supported optimal growth,
whereas extreme acidic and alkaline conditions reduced plant growth,
photosynthetic rate, stomatal conductance, and transpiration. These responses
were accompanied by increased root exudate production, particularly of fatty and
carboxylic acids, indicating activation of physiological adaptation mechanisms
under environmental stress. These findings demonstrate that root exudates have
potential as physiological biomarkers of plant responses to environmental stress
and as mediators in rhizosphere engineering and management.
In the second experiment, FABA functioned as both a soil amendment and a
source of mineral nutrients, with an optimal proportion of 25–50% relative to the
soil-based growing medium. Increasing the FABA proportion within this range
improved soil chemical properties by increasing soil pH and the availability of N,
P, and K. However, higher FABA proportions significantly reduced plant growth
and increased the risk of nutrient losses, particularly N loss through leaching. In
contrast, lower K leaching suggested that the mineral K contained in FABA was
released gradually and therefore functioned as a slow-release K source. These
findings confirm that FABA can serve not only as a soil amendment but also as an
alternative source of essential K.
In the third experiment, the integration of K fertilizer with FABA improved
plant growth, nutrient-use efficiency, photosynthesis, and yield quality (including
sugar and starch concentrations), as well as soil chemical properties, through
increases in pH and in the availability of N, P, and K. The combination of 30 kg
ha? ¹ K2 O and 2.5 t ha? ¹ FABA had the potential to substitute for 60 kg ha? ¹
K2 O. This combination also resulted in lower total concentrations of Al and
heavy metals, including As, Cr, Pb, Cd, Mn, Ni, Cu, Zn, and Fe, in the soil and
throughout the plant, encompassing vegetative organs such as roots, stems, and
leaves, as well as reproductive organs such as tassels, silks, and kernels, compared
with the control treatment. Differences in the responses of Bonanza and Kumala
further emphasized the importance of genotype × environment × nutrient
interactions in determining nutrient-use efficiency and plant productivity.
Bonanza was more responsive to the FABA application than Kumala.
In the fourth experiment, the combination of FABA and cow manure
significantly improved soil and plant quality. The application of 5 t ha? ¹ FABA
combined with 5–10 t ha? ¹ cow manure positively affected soil fertility, plant
growth, photosynthetic rate, and yield, while producing lower total concentrations
of Al and heavy metals, including As, Cr, Pb, Cd, Mn, Ni, Cu, Zn, and Fe, in
vegetative organs such as roots, stems, and leaves, as well as reproductive organs
such as tassels, silks, and kernels. Moreover, As, Pb, and Cd were not detected in
the reproductive organs. This combination increased soil pH and the availability
of N, P, and K while simultaneously reducing concentrations of Al and heavy
metals compared with the control treatment. These results indicate that the
combined application of FABA and cow manure reduced the transfer of Al and
heavy metals from soil to plant tissues, thereby lowering their concentrations in
plant organs. This treatment also improved product quality, particularly sugar and
starch concentrations, through enhanced photosynthesis and carbon allocation.
In the fifth experiment, K fertilizer, FABA, and cow manure were integrated
under field conditions to evaluate sweet corn response at the most effective rates
identified in the preceding experiments. The results supported the previous
findings by demonstrating that the combination of FABA and K fertilizer
maintained plant growth and productivity even when the K fertilizer rate was
reduced by 50%. The application of 30 kg ha? ¹ K2 O combined with 2.5 t ha? ¹
FABA improved growth, yield, and biochemical composition, including starch,
protein, fat, and crude-fiber contents, although these responses were not
significantly different from those obtained with 60 kg ha? ¹ K2 O. Therefore, the
combination of 30 kg ha? ¹ K2 O and 2.5 t ha? ¹ FABA has the potential to
substitute for 60 kg ha? ¹ K2 O. In addition, Pb concentrations in the roots,
aboveground biomass, and kernels were higher in treatments without FABA.
These findings demonstrate that, when applied at an appropriate rate, FABA has
potential as both a soil amendment and an alternative source of essential K, while
supporting environmental and food-safety considerations.
The novelty of this dissertation shows that the use of FABA, potassium
fertilizer, and manure can be a balanced fertilization strategy for sweet corn plants.
FABA can be used on sweet corn plants and produces higher yields than
treatments without FABA. The use of FABA combined with manure can increase
nutrient-use efficiency and improve the yield and quality (brix and sugar) of sweet
corn.
Collections
- DF - Agriculture [805]

