| dc.description.abstract | Kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi meteorologi dan polutan udara, khususnya di wilayah dengan paparan polutan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola musiman ISPA, menganalisis pengaruh dinamika sirkulasi angin dan pola dispersi polutan serta mengidentifikasi determinan meteorologi dan polutan udara terhadap kejadian ISPA di wilayah Kebon Jeruk sebagai representasi urban padat lalu lintas kendaraan dan Bantargebang merepresentasikan kawasan tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Metodologi penelitian mencakup perhitungan incidence rate (IR) ISPA, estimasi sumber emisi lokal menggunakan polar plot, analisis korelasi Pearson dan efek jeda waktu, analisis regresi linier sederhana dan berganda, serta visualisasi
paparan lingkungan kritis melalui 3D surface plot. Kejadian ISPA di wilayah urban Kebon Jeruk dan kawasan TPA Bantargebang menunjukkan fluktuasi yang dipengaruhi oleh faktor musiman. Puncak kejadian ISPA terjadi pada musim kemarau dan peralihan. Peningkatan ini dipicu oleh rendahnya curah hujan dan kelembapan yang menghambat deposisi polutan alami, serta peningkatan suhu udara yang mempercepat pembentukan polutan sekunder. Puncak IR ISPA di Kebon Jeruk melampaui 10 kejadian per 1000 penduduk pada Juni 2023, sedangkan Bantargebang mencapai 18 kejadian pada September 2023. Dispersi polutan udara bersamaan dengan angin dari timur dan tenggara di Kebon Jeruk memicu peningkatan IR di Kedoya Selatan dan Kedoya Utara, sementara pergerakan massa udara dari selatan meningkatkan IR di Kelapa Dua. Kondisi sirkulasi angin yang stagnan di Bantargebang memperburuk dispersi polutan, sehingga massa udara berpolutan tinggi bersamaan dengan angin dari timur dan timur laut memicu peningkatan ekstrem di Sumur Batu dengan IR > 40 per 1000 penduduk serta meluas hingga ke Cikiwul. Karakteristik determinan ISPA di wilayah urban Kebon Jeruk didominasi oleh polutan sekunder. Secara individual, ozon (O3) sebagai prediktor utama yang mampu menjelaskan 52,6% variasi IR ISPA. Peningkatan IR ISPA terjadi ketika suhu udara mendekati 30 °C yang memicu reaksi fotokimia dan akumulasi masif O3 > 120 µg/m³. Sementara itu, kualitas udara di kawasan TPA Bantargebang didominasi oleh polutan primer PM2.5 dan PM10, CO pada musim kemarau dan peralihan, serta SO2 pada musim hujan. Kombinasi polutan PM10, SO2, O3, serta CO yang berinteraksi dengan kelembapan relatif (RH) mampu menjelaskan 76,6% variasi IR ISPA. Peningkatan IR terjadi ketika RH berada pada rentang 78 hingga 79,5% yang bertepatan dengan akumulasi masif gas CO > 1000 µg/m³, yang dapat mendegradasi pertahanan mukosa saluran pernapasan. Penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan mitigasi kesehatan masyarakat terhadap dinamika meteorologi dan paparan polutan tidak dapat diseragamkan, diperlukan pendekatan berbasis karakteristik masing-masing wilayah. | |
| dc.description.sponsorship | The incidence of acute respiratory infection (ARI) is influenced by the interaction between meteorological conditions and air pollutants, particularly in areas with high pollutant exposure levels. This study aimed to analyze the seasonal patterns of ARI, examine the influence of wind circulation dynamics and pollutant dispersion patterns, and identify meteorological and air pollutant determinants of ARI incidence in Kebon Jeruk, representing a traffic-dense urban area, and Bantargebang, representing a landfill area. The methodology included calculating the ARI incidence rate (IR), estimating local emission sources using polar plots, conducting Pearson correlation and time-lag effect analysis, performing simple and multiple linear regression analysis and visualizing critical environmental exposure through 3D surface plots. The incidence of ARI in the Kebon Jeruk urban area and the Bantargebang landfill area showed fluctuations influenced by seasonal factors, with peaks occurring during the dry and transitional seasons. This increase was driven by low rainfall and humidity, which hindered natural pollutant deposition, and rising air temperatures, which accelerated the formation of secondary pollutants. The peak ARI IR in Kebon Jeruk exceeded 10 cases per 1,000 population in June 2023, whereas in Bantargebang, it reached 18 cases per 1,000 population in September 2023. In Kebon Jeruk, pollutant dispersion coinciding with easterly and southeasterly winds triggered IR increases in Kedoya Selatan and Kedoya Utara, whereas air mass movement from the south increased the IR in Kelapa Dua. In Bantargebang, stagnant wind circulation worsened pollutant dispersion, such that highly polluted air masses coinciding with easterly and northeasterly winds triggered an extreme IR increase in Sumur Batu, exceeding 40 cases per 1,000 population, and extended as far as Cikiwul. The ARI determinants in the Kebon Jeruk urban area were dominated by secondary pollutants. Ozone (O3) was the main predictor, accounting for 52.6% of the variation in ARI IR. IR increased when air temperature approached 30°C, triggering photochemical reactions and massive O3 accumulation exceeding 120 µg/m³. In contrast, air quality in the Bantargebang landfill area was dominated by the primary pollutants PM2.5, PM10, and CO during the dry and transitional seasons, and SO2 during the rainy season. The combination of PM10, SO2, O3, and CO interacting with relative humidity (RH) accounted for 76.6% of the variation in ARI IR. IR increased when RH ranged between 78 and 79.5%, coinciding with massive CO accumulation exceeding 1,000 µg/m³, which can degrade respiratory tract mucosal defenses. This study confirms that public health mitigation policies addressing meteorological dynamics and pollutant exposure cannot be uniform, and that a region-specific approach based on each area's characteristics is required. | |