Dinamika Meteorologi dan Dispersi Polutan Udara sebagai Determinan Infeksi Saluran Pernapasan Akut di Wilayah Urban dan Tempat Pemrosesan Akhir
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Nuris, Sri Wahyuni Mulia Putri
Taufik, Muh.
Hidayati, Rini
Turyanti, Ana
Metadata
Show full item recordAbstract
Kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi meteorologi dan polutan udara, khususnya di wilayah dengan paparan polutan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola musiman ISPA, menganalisis pengaruh dinamika sirkulasi angin dan pola dispersi polutan serta mengidentifikasi determinan meteorologi dan polutan udara terhadap kejadian ISPA di wilayah Kebon Jeruk sebagai representasi urban padat lalu lintas kendaraan dan Bantargebang merepresentasikan kawasan tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Metodologi penelitian mencakup perhitungan incidence rate (IR) ISPA, estimasi sumber emisi lokal menggunakan polar plot, analisis korelasi Pearson dan efek jeda waktu, analisis regresi linier sederhana dan berganda, serta visualisasi
paparan lingkungan kritis melalui 3D surface plot. Kejadian ISPA di wilayah urban Kebon Jeruk dan kawasan TPA Bantargebang menunjukkan fluktuasi yang dipengaruhi oleh faktor musiman. Puncak kejadian ISPA terjadi pada musim kemarau dan peralihan. Peningkatan ini dipicu oleh rendahnya curah hujan dan kelembapan yang menghambat deposisi polutan alami, serta peningkatan suhu udara yang mempercepat pembentukan polutan sekunder. Puncak IR ISPA di Kebon Jeruk melampaui 10 kejadian per 1000 penduduk pada Juni 2023, sedangkan Bantargebang mencapai 18 kejadian pada September 2023. Dispersi polutan udara bersamaan dengan angin dari timur dan tenggara di Kebon Jeruk memicu peningkatan IR di Kedoya Selatan dan Kedoya Utara, sementara pergerakan massa udara dari selatan meningkatkan IR di Kelapa Dua. Kondisi sirkulasi angin yang stagnan di Bantargebang memperburuk dispersi polutan, sehingga massa udara berpolutan tinggi bersamaan dengan angin dari timur dan timur laut memicu peningkatan ekstrem di Sumur Batu dengan IR > 40 per 1000 penduduk serta meluas hingga ke Cikiwul. Karakteristik determinan ISPA di wilayah urban Kebon Jeruk didominasi oleh polutan sekunder. Secara individual, ozon (O3) sebagai prediktor utama yang mampu menjelaskan 52,6% variasi IR ISPA. Peningkatan IR ISPA terjadi ketika suhu udara mendekati 30 °C yang memicu reaksi fotokimia dan akumulasi masif O3 > 120 µg/m³. Sementara itu, kualitas udara di kawasan TPA Bantargebang didominasi oleh polutan primer PM2.5 dan PM10, CO pada musim kemarau dan peralihan, serta SO2 pada musim hujan. Kombinasi polutan PM10, SO2, O3, serta CO yang berinteraksi dengan kelembapan relatif (RH) mampu menjelaskan 76,6% variasi IR ISPA. Peningkatan IR terjadi ketika RH berada pada rentang 78 hingga 79,5% yang bertepatan dengan akumulasi masif gas CO > 1000 µg/m³, yang dapat mendegradasi pertahanan mukosa saluran pernapasan. Penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan mitigasi kesehatan masyarakat terhadap dinamika meteorologi dan paparan polutan tidak dapat diseragamkan, diperlukan pendekatan berbasis karakteristik masing-masing wilayah.

