Kompetensi Kepala Desa dalam Pengelolaan Dana Desa yang Responsif Gender di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe Provinsi Aceh
Abstract
ANDRI. Kompetensi Kepala Desa dalam Pengelolaan Dana Desa yang Responsif Gender di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe Provinsi Aceh. Dibimbing oleh ANNA FATCHIYA, SITI AMANAH dan SUMARDJO.
Provinsi Aceh menerima alokasi dana desa sebesar lebih dari Rp4,9 triliun
pada tahun 2023 untuk 6.497 desa. Meskipun alokasi tersebut terus meningkat,
Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Provinsi Aceh justru mengalami penurunan
dari 63,56 pada tahun 2023 menjadi 61,78 pada tahun 2024, dengan kesenjangan
yang tajam antar kabupaten/kota. Kondisi ini mengindikasikan bahwa besarnya
sumber daya fiskal belum secara otomatis diikuti oleh peningkatan keadilan gender
dalam pembangunan desa. Pengelolaan dana desa yang responsif gender menuntut
kompetensi kepala desa yang tidak hanya bersifat teknis administratif, tetapi juga
mencakup kemampuan analitis gender, kepemimpinan inklusif, dan sensitivitas
terhadap dinamika sosial budaya lokal. Kajian empiris yang secara komprehensif
mengukur kompetensi kepala desa sebagai determinan responsivitas gender dalam
pengelolaan dana desa masih sangat terbatas, khususnya dalam konteks sosial
budaya Aceh yang memiliki kekhasan norma adat dan penerapan syariat Islam.
Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis tingkat kompetensi kepala desa
dalam pengelolaan dana desa yang responsif gender; (2) menganalisis tingkat
responsivitas gender kepala desa dalam pengelolaan dana desa; (3) menganalisis
faktor-faktor yang memengaruhi kompetensi kepala desa dalam pengelolaan dana
desa yang responsif gender; serta (4) merumuskan strategi peningkatan kompetensi
kepala desa dalam pengelolaan dana desa yang responsif gender di Provinsi Aceh.
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe dengan
melibatkan 188 kepala desa sebagai responden. Pengumpulan data dilakukan
melalui survei menggunakan kuesioner yang sensitif gender, wawancara mendalam,
dan analisis dokumen. Responsivitas gender dianalisis menggunakan Kerangka
Harvard yang mencakup dimensi akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat. Data
dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least
Squares (SEM-PLS) dengan perangkat lunak SmartPLS 4, serta Importance-
Performance Map Analysis (IPMA) untuk mengidentifikasi prioritas intervensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi kepala desa secara
keseluruhan berada pada kategori cukup kompeten, dengan kompetensi
teknis/keterampilan (63,95), kompetensi manajerial/kepemimpinan (66,84), dan
kompetensi interpersonal/sosial (67,14). Kompetensi kognitif termasuk dalam
kategori cukup baik dengan rerata 60,20 persen, namun masih memiliki kelemahan
pada pemahaman tentang penganggaran responsif gender, penggunaan data terpilah
berbasis jenis kelamin dalam perencanaan desa, serta mekanisme pelaporan
pertanggung jawaban yang responsif gender. Tingkat responsivitas gender
menunjukkan pola yang tidak merata, partisipasi perempuan dalam forum desa dan
transparansi anggaran berada pada kategori tinggi, namun pengalokasian dana
untuk pemberdayaan perempuan dan dampak program terhadap kehidupan
perempuan masih berada pada kategori cukup rendah. Temuan ini mengungkap
kesenjangan antara partisipasi formal kuantitatif yang sudah tinggi dengan
representasi substantif perempuan dalam pengambilan keputusan anggaran desa.
Hasil analisis menunjukkan, dari lima faktor yang dianalisis, hanya ciri
demografis kepala desa dan dukungan eksternal yang terbukti berpengaruh
signifikan terhadap kompetensi kepala desa. Dukungan eksternal merupakan
determinan paling dominan (ß = 0,382), meliputi pendampingan dari pemerintah
daerah, tenaga pendamping desa, serta akademisi. Hasil analisis juga menunjukkan
bahwa tiga faktor, yaitu kesadaran gender (ß = 0,161), pengaruh sosial budaya (ß
= 0,212), dan dukungan eksternal (ß = 0,159), serta kompetensi kepala desa sebagai
mediator (ß = 0,323) terbukti berpengaruh langsung dan signifikan terhadap
responsivitas gender. Analisis mediasi mengkonfirmasi bahwa kompetensi Kepala
Desa memediasi secara parsial hubungan antara dukungan eksternal dan
responsivitas gender, dengan 43,7 persen dari pengaruh total dukungan eksternal
dimediasi oleh kompetensi kepala desa. Temuan kontra intuitif penelitian ini adalah
tidak signifikannya pengaruh penggunaan media digital terhadap kompetensi
maupun responsivitas gender yang menunjukkan bahwa digitalisasi pemerintahan
desa belum mencapai titik kritis sebagai pendorong tata kelola responsif gender.
Penelitian ini juga menemukan bahwa kesadaran gender berpengaruh langsung
pada responsivitas kebijakan meskipun tidak membentuk kompetensi formal yang
menunjukkan bahwa nilai dan orientasi pemimpin dapat menggerakkan perilaku
kebijakan secara independen dari kapasitas teknisnya.
Hasil analisis IPMA menempatkan peningkatan kompetensi Kepala Desa
sebagai prioritas utama intervensi (importance = 0,323; performance = 68,25),
diikuti oleh penguatan dukungan eksternal yang kinerjanya baru mencapai 49,99.
Implikasi penelitian ini mengarah pada perlunya: (1) penguatan pelatihan responsif
gender yang kontekstual dan wajib bagi kepala desa dengan fokus pada dimensi
kognitif; (2) peningkatan kualitas pendampingan teknis oleh pemerintah daerah dan
pendamping desa; (3) pemberdayaan tokoh agama dan tokoh adat sebagai agen
perubahan yang mendukung partisipasi substantif perempuan; serta (4)
pengembangan mekanisme verifikasi responsif gender dalam siklus perencanaan
dan penganggaran desa yang terintegrasi dengan sistem keuangan desa. Penelitian
ini memberikan kontribusi konseptual berupa model integrasi pertama yang
menempatkan kompetensi kepala desa sebagai mediator antara determinan
multidimensi dan responsivitas gender dalam pengelolaan dana desa, sekaligus
memvalidasi secara empiris bahwa responsivitas kebijakan gender merupakan
manifestasi kompetensi pemimpin yang dikondisikan oleh faktor sosio kultural dan
kelembagaan.
Kata kunci: dana desa, kompetensi kepala desa, pengarusutamaan gender,
responsivitas gender, tata kelola desa ANDRI. The Competencies of Village Heads in the Management of Gender-
Responsive Village Funds in in North Aceh Regency and Lhokseumawe City, Aceh
Province . Supervised by ANNA FATCHIYA, SITI AMANAH, and SUMARDJO.
Aceh Province received a village fund allocation of more than Rp4.9 trillion
in 2023 for 6,497 villages. Although this allocation has continued to increase, Aceh
Province’s Gender Empowerment Index (IDG) actually declined from 63.56 in
2023 to 61.78 in 2024, with sharp disparities among regencies and cities. This
situation indicates that the size of fiscal resources has not automatically led to
improved gender equity in village development. Gender-responsive management of
village funds requires village heads to possess competencies that go beyond mere
technical and administrative skills; these include gender analysis skills, inclusive
leadership, and sensitivity to local sociocultural dynamics. Empirical studies that
comprehensively measure village heads’ competencies as determinants of gender
responsiveness in managing village funds remain very limited, particularly in the
sociocultural context of Aceh, which is characterized by distinctive customary
norms and the implementation of Islamic Sharia law.
This study aims to: (1) analyze the level of competence of village heads in the
gender-responsive management of village funds; (2) analyze the level of gender
responsiveness of village heads in the management of village funds; (3) to analyze
the factors influencing village heads’ competence in the management of gender-
responsive village funds; and (4) to formulate strategies for enhancing village heads’
competence in the management of gender-responsive village funds in Aceh
Province. The study was conducted in North Aceh Regency and Lhokseumawe City,
involving 188 village heads as respondents. Data collection was carried out through
a gender-sensitive survey, in-depth interviews, and document analysis. Gender
responsiveness was analyzed using the Harvard Framework, which encompasses
the dimensions of access, participation, control, and benefits. Data were analyzed
using Partial Least Squares-based Structural Equation Modeling (SEM-PLS) with
SmartPLS 4 software, as well as Importance-Performance Map Analysis (IPMA)
to identify intervention priorities.
The research results show that the overall competence of village heads falls
into the “fairly competent” category, with technical/skill-based competence (63,95),
managerial/leadership competence (66,84), and interpersonal/social competence
(67,14). Cognitive competencies fall into the “fairly good” category with an average
of 60,20 percent, but there are still weaknesses in understanding gender-responsive
budgeting, the use of gender-disaggregated data in village planning, and gender
responsive accountability reporting mechanisms. The level of gender
responsiveness shows an uneven pattern: women’s participation in village forums
and budget transparency fall into the high category, but the allocation of funds for
women’s empowerment and the impact of programs on women’s lives remain in
the fairly low category. These findings reveal a gap between the already high level
of quantitative formal participation and women’s substantive representation in
village budget decision-making.
The results of the analysis showed that, of the five factors analyzed, only the
demographic characteristics of village heads and external support were found to
have a significant effect on village head competencies. External support was the
most dominant determinant (ß = 0.382), encompassing assistance from local
governments, village facilitators, and academics. The analysis also revealed that
three factors, gender awareness (ß = 0.161), sociocultural influences (ß = 0.212),
and external support (ß = 0.159), along with the village head’s competence as a
mediator (ß = 0.323), were found to have a direct and significant effect on gender
responsiveness. The mediation analysis confirmed that the village head’s
competence partially mediates the relationship between external support and gender
responsiveness, with 43.7 percent of the total effect of external support mediated
by the village head’s competence. A counterintuitive finding of this study is the
insignificant influence of digital media use on both competence and gender
responsiveness, indicating that the digitization of village governance has not yet
reached a critical mass as a driver of gender-responsive governance. A direct effect
of gender awareness on policy responsiveness was also revealed, despite not
constituting formal competence. This suggests that leaders’ values and orientations
can drive policy behavior independently of their technical capacity.
The results of the IPMA analysis identified improving the competencies of
village heads as the top priority for intervention (importance = 0.323; performance
= 68.25), followed by strengthening external support, which currently scores only
49.99. The implications of this study point to the need for: (1) strengthening
contextual and mandatory gender-responsive training for village heads with a focus
on the cognitive dimension; (2) improving the quality of technical assistance
provided by local governments and village facilitators; (3) empowering religious
and traditional leaders as agents of change who support women’s substantive
participation; and (4) developing gender-responsive verification mechanisms
within the village planning and budgeting cycle that are integrated with the village
financial system. A conceptual contribution is provided through a novel integration
model that positions village head competencies as a mediator between
multidimensional determinants and gender responsiveness in village fund
management. Furthermore, gender policy responsiveness is empirically validated
as a leadership manifestation conditioned by sociocultural and institutional factors.
Keywords: gender mainstreaming, gender responsiveness, village fund, village
governance, village head competency
Collections
- DF - Human Ecology [663]

