Evaluasi Keberlanjutan Pertanian Kelapa (Cocos nucifera L.) di Lahan Gambut Tropis
Date
2026Jenis/Type
DisertasiSubtype
DissertationsAuthor
Fawzi, Nurul Ihsan
Suwardi
Mulyanto, Budi
Pulunggono, Heru Bagus
Metadata
Show full item recordAbstract
Lahan gambut tropis di Indonesia merupakan ekosistem strategis yang menyimpan cadangan karbon global yang sangat besar sekaligus menjadi basis utama produksi pertanian bagi masyarakat pesisir. Pertanian kelapa (Cocos nucifera L.) telah menjadi tulang punggung budaya dan ekonomi masyarakat pantai timur Sumatra sejak abad kesembilan belas, khususnya di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, yang menyumbang 10,6 persen produksi kelapa nasional dan didominasi lahan gambut lebih dari 80 persen luas wilayahnya. Lahan gambut di Kabupaten Indragiri Hilir termasuk dalam kategori gambut pantai dengan kedalaman gambut berkisar antara 1–5 meter. Meskipun demikian, pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian kerap menimbulkan dilema keberlanjutan yang mendalam. Di satu sisi, sistem ini memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang signifikan; di sisi lain, praktik pengelolaan yang kurang tepat dapat memicu degradasi lingkungan berupa kebakaran gambut, subsidensi tanah, emisi gas rumah kaca, serta berbagai tantangan sosial-ekonomi bagi petani kecil.
Terdapat gap pengetahuan ilmiah yang jelas mengenai model pengelolaan terintegrasi yang mampu menyeimbangkan pelestarian fungsi ekologis gambut sebagai carbon sink dengan peningkatan produktivitas tanaman dan kesejahteraan masyarakat secara holistik. Penelitian ini mengisi gap tersebut melalui pendekatan multidisiplin yang sistematis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi keberlanjutan pertanian di lahan gambut tropis dengan studi kasus perkebunan kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, terutama mengevaluasi keberlanjutan pertanian kelapa di lahan gambut tropis secara holistik.
Penelitian ini menggunakan desain sequential explanatory mixed methods yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara berurutan. Fase kuantitatif digunakan untuk mengukur neraca karbon dan siklus hara regeneratif, sedangkan fase kualitatif digunakan untuk menjelaskan dan memperdalam temuan tersebut melalui kerangka DPSIR (Driving Forces–Pressures–State–Impacts–Responses). Integrasi kedua metode memungkinkan penelitian ini menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai keberlanjutan pertanian kelapa, baik dari sisi proses biofisik maupun dinamika sosial-ekonomi masyarakat. Penelitian dilakukan dengan studi kasus di Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir, dengan mengadopsi kerangka DPSIR yang diperkaya analisis bibliometrik, neraca karbon, penilaian siklus hara regeneratif, serta indikator sosial-ekologi. Tiga dimensi utama dievaluasi secara mendalam: keseimbangan karbon dan fungsi ekologis, produktivitas tanaman beserta efisiensi siklus hara, serta ketahanan sosial-ekonomi petani.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pertanian kelapa di lokasi studi memiliki keberlanjutan yang sangat tinggi apabila dikelola secara holistik. Penerapan sistem tata air terintegrasi yang dikenal sebagai trio tata air (kanal, tanggul, dan pintu air) berhasil mempertahankan lahan gambut sebagai carbon sink dengan laju sebesar +2,33 ton C ha?¹ tahun?¹, disertai tingkat subsidensi dan emisi fluks CO2 yang rendah. Pendekatan siklus hara regeneratif melalui pemanfaatan gulma alami sebagai tanaman penutup tanah dan dekomposisi in-situ mampu mempertahankan status hara optimal pada tanaman kelapa, meningkatkan biodiversitas mikroba tanah, serta menghasilkan jasa ekosistem yang signifikan melalui mekanisme avoided cost penggunaan pupuk sintetik. Sementara itu, analisis kerangka DPSIR menunjukkan ketahanan sosial-ekonomi yang kuat melalui diversifikasi usaha tani, penguatan rantai pasok lokal, inovasi sistem pancang beserta model social enterprise, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan yang secara keseluruhan berhasil mentransformasi resiliensi sosio-ekologis sistem pertanian kelapa di lahan gambut.
Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa pertanian kelapa di lahan gambut tropis merupakan model paludikultur yang berhasil mengintegrasikan prinsip ekologi regeneratif, pengelolaan air yang tepat, dan dimensi sosial-ekonomi yang inklusif. Pendekatan ini tidak hanya mempertahankan fungsi ekologis gambut sebagai penyimpan karbon dan penyangga hidrologi, tetapi juga meningkatkan produktivitas tanaman dan kesejahteraan petani kelapa secara simultan. Temuan ini memberikan kerangka operasional yang dapat direplikasi di berbagai wilayah gambut tropis di Indonesia dan negara-negara tropis lainnya, sekaligus memperkuat paradigma wise use of peatland dalam konteks pertanian berkelanjutan. Rekomendasi kebijakan yang mencakup penguatan regulasi tata air terintegrasi, insentif praktik siklus hara regeneratif, serta program pemberdayaan petani berbasis pengetahuan lokal.
Collections
- DF - Agriculture [805]

