Analisis Dampak Visual Model Desain Lanskap Kawasan Wisata Danau Sanggu Kabupaten Barito Selatan
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Agustina, Gloria
Gunawan, Andi
Hadi, Akhmad Arifin
Metadata
Show full item recordAbstract
Pengembangan kawasan wisata waterfront berpotensi mengubah karakter
visual kawasan sehingga kualitas estetika dan dampak visual perlu dievaluasi
sebelum pembangunan dilaksanakan. Evaluasi visual lanskap di Indonesia
umumnya masih dilakukan secara terpisah antara penilaian kualitas estetika dan
dampak visual, sehingga belum memberikan dasar yang utuh dalam
penyempurnaan model desain lanskap pada tahap pra-konstruksi. Penelitian ini
bertujuan mengevaluasi kualitas estetika visual, menganalisis dampak visual model
desain, mengintegrasikan kedua hasil penilaian untuk menentukan prioritas
penanganan dan arahan tindakan, serta menyusun rekomendasi penyempurnaan
model desain lanskap Kawasan Wisata Danau Sanggu, Kabupaten Barito Selatan.
Kualitas estetika visual dievaluasi menggunakan Scenic Beauty Estimation
(SBE) dan Semantic Differential (SD) terhadap sembilan visualisasi model desain
oleh 80 responden masyarakat. Dampak visual dianalisis menggunakan Visual
Impact Assessment (VIA) melalui Landscape Value Assessment (LVA),
Susceptibility to Change Assessment (SCA), dan Visual Contrast Rating (VCR)
oleh empat panel ahli pada delapan Key Observation Point (KOP). Hasil kedua
pendekatan kemudian diintegrasikan untuk menentukan prioritas penanganan dan
arahan tindakan penyempurnaan model desain.
Nilai SBE berkisar antara -34,41 hingga 21,30, dengan kualitas estetika
tertinggi pada Zona Waterfront Utara (VP 8) dan terendah pada Zona Kuliner (VP
3). Atribut serasi, tenang, dan alami menunjukkan korelasi positif tertinggi terhadap
kualitas estetika visual. Analisis VIA menunjukkan dampak Major pada koridor
waterfront, yaitu KOP 1 (Dermaga Area Makam) dan KOP 2 (Gazebo Jembatan
Wisata), sedangkan KOP 3, KOP 4, KOP 6, dan KOP 8 berkategori Moderate, KOP
5 Minor, dan KOP 7 Negligible. Secara keseluruhan, dampak visual kawasan
didominasi kategori Moderate, menunjukkan bahwa perubahan visual belum
mendominasi karakter kawasan secara keseluruhan, namun masih memerlukan
mitigasi pada zona dengan signifikansi dampak tinggi. Integrasi SBE, SD, dan VIA
menunjukkan bahwa Zona Waterfront Utara menjadi prioritas utama penanganan,
diikuti Zona Penerimaan, Rekreasi Aktif, Kuliner, Buffer, Panorama dan Event,
serta Waterfront Selatan sebagai prioritas tinggi, sedangkan Zona Ekowisata dan
Wetland Park sebagai prioritas sedang.
Rekomendasi diarahkan pada pengurangan dominasi elemen terbangun,
penguatan vegetasi riparian sebagai penapis dan pembingkai visual, peningkatan
permeabilitas visual menuju badan air, serta penataan komposisi ruang waterfront
agar selaras dengan karakter lanskap. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi
SBE, SD, dan VIA memberikan dasar yang lebih utuh dalam menentukan prioritas
penanganan dan penyempurnaan model desain lanskap pada tahap pra-konstruksi. The development of waterfront tourism areas may alter landscape character;
therefore, visual aesthetic quality and visual impacts should be evaluated before
construction. In Indonesia, these assessments are generally conducted separately,
limiting their use for improving landscape design during the pre-construction stage.
This study evaluated the visual aesthetic quality and visual impacts of the proposed
landscape design, integrated both assessments to determine management priorities
and intervention categories, and formulated recommendations for improving the
landscape design of the Danau Sanggu Tourism Area, South Barito Regency.
Visual aesthetic quality was evaluated using Scenic Beauty Estimation (SBE)
and Semantic Differential (SD) based on nine three-dimensional visualizations
assessed by 80 public respondents. Visual impacts were evaluated using Visual
Impact Assessment (VIA) through Landscape Value Assessment (LVA),
Susceptibility to Change Assessment (SCA), and Visual Contrast Rating (VCR) by
four expert panelists at eight Key Observation Points (KOPs). The results were
integrated to determine management priorities and intervention strategies.
SBE values ranged from -34.41 to 21.30, with the highest visual aesthetic
quality in the North Waterfront Zone (VP 8) and the lowest in the Culinary Zone
(VP 3). The attributes harmonious, peaceful, and natural showed the strongest
positive correlations with visual aesthetic quality. VIA identified Major impacts at
KOP 1 (Dermaga Area Makam) and KOP 2 (Gazebo Jembatan Wisata), while KOP
3, KOP 4, KOP 6, and KOP 8 were classified as Moderate, KOP 5 as Minor, and
KOP 7 as Negligible. Overall, the tourism area was dominated by Moderate visual
impacts, indicating that the proposed design has not substantially altered the overall
landscape character but still requires mitigation in zones with high impact
significance. The integrated assessment identified the North Waterfront Zone as the
highest management priority; the Entrance, Active Recreation, Culinary, Buffer,
Panorama and Event, and South Waterfront zones as high priorities; and the
Ecotourism and Wetland Park zones as moderate priorities.
The proposed improvements focus on reducing the visual dominance of built
structures, strengthening riparian vegetation as visual screening and framing
elements, enhancing visual permeability toward the waterfront, and improving the
spatial composition of the waterfront landscape. The integration of SBE, SD, and
VIA provides a more comprehensive basis for setting management priorities and
refining landscape design during the pre-construction stage.
Collections
- MF - Agriculture [4154]

